Pemerintah Klaim Pengangguran Turun, Ini Penjelasan Menko Perekonomian

- Pemerintah mengklaim pengangguran terbuka turun dari 4,68 persen menjadi 4,65 persen, sementara jumlah pekerja formal meningkat dari sekitar 59 juta menjadi 60 juta orang.
- Industri masih kekurangan tenaga terampil, terutama untuk menghadapi digitalisasi, industri 4.0, dan artificial intelligence; kebutuhan talenta digital 2025-2026 diperkirakan mencapai 406 ribu orang per tahun.
- Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch 4 menerima 12 ribu dari 30 ribu pendaftar, sebagai bagian target pemerintah melatih sekitar 220 ribu peserta vokasi setiap tahun.
Serang, IDN Times - Pemerintah mengklaim tingkat pengangguran terbuka di Indonesia kembali menurun. Namun, di tengah tren tersebut, dunia industri menghadapi persoalan kekurangan tenaga kerja terampil.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat meresmikan Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch 4 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, Banten, Selasa (1/9/2026).
Peresmian tersebut turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Yassierli serta jajaran pimpinan daerah di Banten. Sebanyak 12 ribu peserta dari berbagai balai pelatihan vokasi di Indonesia juga mengikuti peluncuran program secara daring.
1. Pengangguran diklaim turun

Ilustrasi pengangguran. Dok. Istimewa/IDN Times Airlangga mengatakan, tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan dari 4,68 persen menjadi 4,65 persen. Selain itu, jumlah pekerja formal juga disebut meningkat dari sekitar 59 juta menjadi 60 juta orang.
"Pemerintah terus memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan vokasi sebagai bagian dari program strategis nasional sesuai arahan Presiden," kata Airlangga.Pemerintah menargetkan sekitar 220 ribu peserta mengikuti program pelatihan vokasi setiap tahun. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
Selain sektor ketenagakerjaan, Airlangga juga memaparkan sejumlah indikator ekonomi. Realisasi investasi disebut telah mencapai lebih dari Rp1.001 triliun. "Sementara pertumbuhan ekonomi berada di level 7,2 persen," katanya.2. Kebutuhan tenaga kerja terampil masih besar

ilustrasi pekerja digital (pexels.com/fauxels) Di sisi lain, perkembangan teknologi digital menjadi tantangan baru bagi pasar tenaga kerja. Pemerintah memperkirakan kebutuhan talenta digital pada periode 2025-2026 mencapai sekitar 406 ribu orang setiap tahun.
Menurut Airlangga, kondisi tersebut membuat program pelatihan vokasi menjadi penting untuk meningkatkan keterampilan dan menyesuaikan kemampuan tenaga kerja dengan perkembangan teknologi.
"Program vokasi ini penting untuk reskilling, terutama menghadapi revolusi industri 4.0, digitalisasi, dan perkembangan artificial intelligence," jelasnya.3. Jumlah tenaga kerja terampil masih minim

ilustrasi karyawan pabrik (unsplash.com/Arno Senoner) Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengakui jumlah tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri masih belum mencukupi.
Pada Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch 4, sebanyak 30 ribu orang tercatat mendaftar. Namun, setelah melalui proses seleksi, hanya 12 ribu peserta yang diterima untuk mengikuti pelatihan.
"Yang diterima merupakan peserta yang telah lolos seleksi. Kebutuhan industri terhadap tenaga kerja terampil masih jauh lebih besar," ujarnya.


















