Kantor Bupati Lebak (IDN Times/Muhammad Iqbal)
Santa (50) seorang warga Baduy mengaku dirinya hingga kini bisa menghasilkan pendapatan ekonomi di tengah pandemik COVID-19, dengan menjual pisang dan sayuran dari hasil bercocok tanam di ladang. Produksi pertanian di lahan ladang itu cukup membantu pendapatan.
"Kami bisa menghasilkan uang hasil penjualan bercocok tanam sekitar Rp5 juta per bulan," kata Santa yang memiliki lahan ladang seluas 1,5 hektare.
Amir (50), seorang perajin Baduy mengaku dirinya memasarkan produk aneka kerajinan melalui jaringan internet atau daring, berhubung sepinya wisatawan yang berkunjung ke kawasan masyarakat adat Baduy.
Bahkan saat ini kawasan perkampungan masyarakat adat Baduy di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, ditutup akibat pemberlakuan Pembatas Sosial Berskala Besar (PSBB). Dirinya pun terpaksa mengandalkan pemasaran secara online untuk menghasilkan pendapatan ekonomi.
"Kami bisa menjual produk aneka kerajinan tenun, souvenir dan madu lebah hingga Rp10 juta per bulan melalui pemasaran secara online itu," katanya menjelaskan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Dedi Rahmat, mengapresiasi perajin masyarakat Baduy yang tetap bertahan di tengah COVID-19. Pemasaran produk melalui media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook dan aplikasi marketplace membantu perekonomian warga Baduy.
Perajin masyarakat Badui sekitar 560 unit usaha dan mereka hingga kini masih memproduksi kerajinan. "Kami berharap kerajinan warga Baduy dapat menopang kehidupan mereka menjadi lebih baik dan sejahtera," ujarnya.