Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Stres Bisa Picu Autoimun? Ini Penjelasan Dokter!

Tangerang
Benarkah Stres Bisa Picu Autoimun? Ini Penjelasan Dokter!
Sandra Sinthya Langow, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
  • Stres psikologis jangka panjang dapat memicu autoimun, tetapi bukan penyebab tunggal; faktor genetik berperan utama, disertai lingkungan, merokok, kegemukan, defisiensi vitamin D, bahan kimia, dan pola makan tidak sehat.
  • Nyeri serta kekakuan sendi pada usia muda yang berlangsung lebih dari enam minggu perlu diperiksa reumatologis. Pada rheumatoid arthritis, keluhan sering simetris di tangan, membaik saat beraktivitas, dan dapat disertai bengkak.
  • Diagnosis dan terapi rheumatoid arthritis sedini mungkin membantu pengendalian penyakit, bahkan remisi. Penundaan pengobatan berisiko menyebabkan kebengkokan sendi permanen; diagnosis menggabungkan gejala, pemeriksaan dokter, laboratorium, dan pencitraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tangerang, IDN Times - Banyak beredar di media sosial perihal adanya pernyataan yang mengatakan bahwa banyaknya perempuan yang terkena autoimun disebabkan oleh memendam perasaan dan pikiran hingga berujung stres. Tapi, benarkah hal tersebut secara medis?

Menurut Sandra Sinthya Langow, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village, stres memang bisa menjadi salah satu faktor penyebab seseorang terkena autoimun, namun hal tersebut bukan faktor tunggal.

"Jadi ada benarnya, tapi penyebab autoimun itu bersifat multifaktorial," kata Sandra.

  1. 1. Genetik memegang peranan utama, stres menjadi pemicu

    Potret Sandra Sinthya Langow, dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi di Siloam Hospitals Lippo Village.
    Sandra Sinthya Langow, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

    Sandra mengungkapkan, faktor genetik memegang peranan utama dalam munculnya autoimun, sedangkan faktor lingkungan menjadi pemicu autoimun aktif dan menyerang penyandangnya.

    "Salah satunya diteliti stres psikologis jangka panjang yang bisa memicu autoimun," ungkapnya.

    Selain itu, faktor lain yang juga memperbesar resiko seseorang terkena autoimun adalah paparan bahan kimia, merokok, kegemukan, hingga defisiensi Vitamin D.

    "Pola diet yang tidak sehat yang juga memicu autoimun, seperti banyak mengonsumsi makanan UPF (ultra process food)" katanya.

  2. 2. Nyeri sendi yang dialami di usia muda patut dicurigai autoimun

    Sandra Sinthya Langow, dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi di Siloam Hospitals Lippo Village.
    Sandra Sinthya Langow, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

    Sementara itu, Sandra mengungkapkan, salah satu tanda-tanda seseorang terkena autoimun yakni adanya nyeri sendi dan kekakuan yang dirasakan di usia muda. Terlebih, jika nyeri sendi berlangsung di atas 6 minggu.

    Meski begitu, saat nyeri sendi dirasakan, sebaiknya segera menemui dokter reumatologis agar segera didiagnosa jenis autoimun apa yang diderita, pasalnya terdapat lebih dari 80 jenis autoimun yang ada di dunia. Lebih cepat jenis autoimun didiagnosis, semakin cepat pula terapi yang bisa diberikan agar keluhan dan kualitas hidup penyandangnya bisa tetap baik.

    "Salah satu yang paling banyak ditemukan di Indonesia yakni kasus autoimun rheumatoid arthritis (RA), ini jenis rematik autoimun kronis yang dapat menyebabkan peradangan pada sendi," katanya.

    Salah satu pola RA yang perlu dikenali yakni adanya nyeri pada jari jemari tangan, pergelangan tangan yang disertai kekakuan dan membaik saat beraktivitas. Sehingga, nyeri dan kekakuan ini biasanya dirasakan saat bangun tidur pagi hari dan membaik setelah beraktivitas.

    "Nyeri dan kekakuan tersebut biasanya terjadi simetris pada tangan kanan dan kiri," katanya.

    Selain itu, nyeri sendi pada RA juga diiringi dengan pembengkakan pada area sendi. Makanya, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, RA bisa menyebabkan kebengkokan sendi yang cukup parah dan menyebabkan cacat permanen.

    "Kalau sudah bengkok, maka tidak akan bisa dikembalikan ke bentuk normal, kualitas hidup penyandangnya pun akan menurun bahkan sampai tidak bisa beraktivitas normal," ungkapnya.

  3. 3. Lalu, bagaimana penanganannya?

    autoimun
    autoimun

    Sandra mengingatkan, nyeri sendi pada RA memang sangat mengganggu aktivitas penyandangnya, apalagi saat sedang kambuh. Bengkak sendi bisa membuat penyandangnya tak bisa aktivitas bahkan jika terjadi di pergelangan kaki bisa membuat tak bisa berjalan.

    "Tapi, perlu diingat bahwa nyeri sendi mungkin bisa hilang dengan obat penghilang sendi, tapi kita harus tangani sumbernya," kata Sandra.

    Sandra mengungkapkan, saat ini, berbagai intervensi sudah bisa diberikan kepada penyandang RA, namun harus dilakukan hal sedini mungkin sejak gejalanya terasa. Jika pengobatan diberikan dini, maka tingkat keberhasilan dan pengendalian RA akan lebih mudah.

    "Bahkan, bisa mencapai remisi dan lepas obat," jelasnya.

    Namun, ia menegaskan, banyak penyandang autoimun yang memilih menunda pengobatan dokter dan mencoba pengobatan tradisional. Sayangnya, menunda pengobatan dokter biasanya malah membuat pasien terlambat mendapat pengobatan yang seharusnya.

    "Bahkan kebanyakan datang dengan kondisi sendi sudah bengkok dan tidak lagi bisa berjalan, ini sangat disayangkan karena bengkok sendi ini bersifat irreversible," ungkapnya.

    Sandra menerangkan, saat datang ke dokter reumatologi, memang dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang laboratorium, seperti pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) dan Anti-Cutrullinated Protein Antibody (ACPA), termasuk anti-CCP, serta pemeriksaan pencitraan bila diperlukan.

    "Perlu diingat jika pemeriksaan RF-nya negatif tidak otomatis seseorang tidak mengalami RA, ada kondisi yang disebut RA seronegative. Karena itu diagnosis harus tetap berdasarkan kombinasi gejala klinis, pemeriksaan dokter, dan pemeriksaan penunjang," jelasnya

    Jika sudah tegak diagnosis RA, dokter biasanya akan memberikan beberapa pengobatan, misalnya saja DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drugs) maupun agen biologik dan targeted therapy.

    "Makanya, sangat penting diagnosa bisa dilakukan sedini mungkin agar pengobatan bisa maksimal, meski autoimun tidak bisa sembuh namun bisa dikendalikan agar tidak menyebabkan cacat permanen," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More