Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bongkar Celah Keamanan, Praktisi Siber Indonesia Raih Pengakuan NASA
Bongkar Celah Keamanan, Peneliti Siber Indonesia Raih Pengakuan NASA (Dok. IDN Times/Stephanus)
  • Praktisi siber Indonesia Stephanus Sunarto Purnomo menerima Letter of Recognition dari NASA setelah menemukan celah keamanan dalam cakupan pengujian lembaga tersebut.
  • Melalui validasi manual dan analisis attack path, Stephanus mengidentifikasi paparan terkait lebih dari 5.000 catatan kredensial internal, lalu melaporkannya secara responsible disclosure.
  • Stephanus, yang berkarier di perbankan dan menjadi mentor, menekankan pentingnya memahami konteks sistem, perspektif penyerang, serta etika saat menguji keamanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times – Praktisi keamanan siber asal Indonesia, Stephanus Sunarto Purnomo, mendapat Letter of Recognition (LOR) dari NASA setelah menemukan celah keamanan pada sistem yang berada dalam cakupan pengujian lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.

Temuan itu awalnya dinilai memiliki tingkat kerentanan medium-high. Namun, setelah melakukan validasi manual, analisis kontrol keamanan, serta penelusuran attack path, Stephanus menemukan potensi risiko yang lebih besar.

Dalam proses penelitian tersebut, ia menemukan paparan yang berkaitan dengan lebih dari 5.000 catatan kredensial internal. Temuan itu kemudian dilaporkan melalui mekanisme responsible disclosure kepada pihak terkait.

1. Tak berhenti pada temuan scanner

ilustrasi tindak pidana penipuan siber (unsplash.com/Growtika)

Stephanus menjelaskan, penelitian keamanan tidak cukup hanya mengandalkan hasil pemindaian otomatis. Sebab, sebuah kerentanan yang terlihat berdiri sendiri dapat memiliki risiko lebih besar ketika dikombinasikan dengan kelemahan atau kondisi lain dalam sistem.

Karena itu, ia melakukan analisis terhadap permukaan serangan, perilaku aplikasi, mekanisme autentikasi dan otorisasi, hingga batas keamanan (security boundary).

Dari proses tersebut, penelitian kemudian diarahkan pada analisis attack path untuk memahami bagaimana sebuah celah dapat berkembang menjadi risiko yang lebih serius.

"Pendekatan ini juga menjadi alasan pentingnya validasi manual dalam pengujian keamanan," kata Stephanus di Serpong, Minggu (6/9/2026).

Automated scanner tetap memiliki peran dalam menemukan indikasi seperti exposed endpoint, kesalahan konfigurasi, maupun persoalan autentikasi dan kontrol akses. Namun, alat tersebut tidak selalu dapat memahami konteks sistem secara menyeluruh.

Dengan kata lain, tingkat keparahan sebuah kerentanan secara individual belum tentu menggambarkan risiko sebenarnya.

2. Temukan paparan lebih dari 5.000 catatan kredensial

ilustrasi tindak pidana penipuan siber (unsplash.com/Michael lima)

Setelah security boundary divalidasi, Stephanus melakukan impact assessment. Pada tahap inilah ditemukan paparan yang berkaitan dengan lebih dari 5.000 credential records.

Paparan tersebut memiliki potensi risiko yang bergantung pada sejumlah faktor, seperti validitas akun, jenis kredensial, tingkat hak akses, sumber daya yang terhubung, hingga kemungkinan kredensial digunakan kembali.

Stephanus kemudian melaporkan temuan tersebut melalui jalur yang sesuai tanpa mempublikasikan informasi sensitif yang dapat dimanfaatkan untuk menyerang sistem.

Ia menegaskan, proses pengujian dilakukan dengan tetap memperhatikan batas etika dan prinsip responsible disclosure.

"Tidak ada data yang diubah atau dihapus, layanan tidak diganggu, dan kredensial yang ditemukan tidak disalahgunakan maupun disebarluaskan. Informasi sensitif terkait sistem juga tidak dipublikasikan untuk mencegah potensi penyalahgunaan," ungkapnya.

3. Berkarier di sektor perbankan dan aktif menjadi mentor

Bongkar Celah Keamanan, Peneliti Siber Indonesia Raih Pengakuan NASA (Dok. IDN Times/Stephanus)

Stephanus merupakan praktisi keamanan siber yang berkarier di sektor perbankan Indonesia. Ia memiliki pengalaman di bidang cyber security, infrastruktur teknologi informasi, security monitoring, SIEM, vulnerability management, incident response, hingga information security.

Di luar pekerjaannya, ia juga aktif menjadi mentor bidang keamanan siber di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Pengalaman menemukan celah keamanan tersebut turut menjadi pembelajaran yang ia bagikan kepada generasi baru praktisi siber.

Menurutnya, kemampuan seorang security researcher tidak cukup hanya menguasai berbagai perangkat keamanan. Peneliti juga perlu mampu melihat sistem dari perspektif penyerang sekaligus memahami bagaimana sistem tersebut harus dipertahankan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article