Cerita IRT Idap HIV di Tangerang, Berjuang Hadapi Stigma

Tangerang, IDN Times - Nesa (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga, hidup dengan semangat meskipun membawa cerita yang penuh tantangan. Wanita 38 tahun itu tertular HIV dari mendiang suaminya 16 tahun lalu.
Dalam perjalanannya, Nesa tidak hanya menghadapi tantangan kesehatan, tetapi juga stigma masyarakat. Kini, ia berdiri tegak sebagai pendamping orang dengan HIV/AIDS (ODHA), membantu banyak orang yang menghadapi situasi serupa.
1. Dunia runtuh saat Nesa dinyatakan positif

Pada tahun 2008, Nesa kehilangan suaminya secara mendadak. Saat keluarga mengabarkan bahwa suaminya meninggal karena HIV, Nesa memutuskan untuk memeriksakan diri. Hasilnya positif. Dunia Nesa serasa runtuh saat itu.
"Hancur duniaku kayak kesambar seperti siang bolong ya pastinya setiap bangun tidur tuh aku bilang ini mimpi apa gak sih," kata Nesa, kepada IDN Times, Jumat (28/11/2024).
Meski terpukul, Nesa mendapatkan dukungan penuh dari ibunya dan keluarga. Dengan keberanian, ia melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Hasil pemeriksaan dirinya dinyatakan positif.
Selama tujuh tahun setelah diagnosis, Nesa merasa tubuhnya sehat. “Awalnya saya takut dengan efek samping obat dan risiko resisten kalau obatnya tidak tersedia. Tapi akhirnya saya sadar, ini jalan satu-satunya untuk bertahan hidup,” kata Nesa.
Sayangnya, di tengah perjuangan konsumsi ARV, Nesa juga memiliki penyakit sejenis autoimun yang menyebabkan trombositnya turun drastis. Kondisi ini membuatnya sering lemah dan rentan memar.
“Bukan hanya HIV, tapi autoimun ini juga menjadi tantangan besar buat saya. Rasanya seperti menghadapi dua ujian berat sekaligus,” ujarnya.
2. Pada 2015, Nesa menikah kembali dan suaminya menerima kondisinya

Pada tahun yang sama dengan ia memulai minum obat, Nesa menikah lagi. Suami barunya tidak hanya menerima kondisinya, tetapi juga menjadi penyemangat terbesar dalam hidupnya. Dengan dorongan keluarga dan suaminya, Nesa memutuskan untuk berbagi pengalaman dan menjadi pendamping ODHA pada tahun 2016.
“Suami saya mendukung sepenuhnya. Ia bahkan belajar lebih banyak tentang HIV agar bisa membantu saya dan orang lain,” ungkap Nesa.
Sebagai pendamping, Nesa bertugas membantu pasien yang menghadapi stigma, kehilangan motivasi, atau putus obat. Pengalamannya sendiri sebagai ODHA membuatnya lebih peka terhadap kebutuhan pasien.
“Motivasi saya sederhana, saya ingin teman-teman ODHA sehat dan punya harapan hidup seperti saya,” jelasnya.
Namun, pekerjaan ini tidak tanpa tantangan. Salah satu pengalaman yang paling sulit adalah menghadapi pasien yang menolak pengobatan hingga meninggal dunia.
“Kadang saya merasa gagal, tapi saya juga belajar bahwa kita tidak bisa memaksakan semuanya. Yang penting adalah terus memberikan dukungan tanpa henti,” katanya.
3. Para ODHA hadapi tantangan stigma

Selain tantangan medis, stigma masyarakat menjadi hambatan terbesar. Di daerah pedesaan, banyak yang masih memandang HIV sebagai 'penyakit kutukan' dan menjauhi ODHA.
“Masih banyak yang tidak paham bahwa HIV tidak menular lewat sentuhan. Mereka langsung takut, tanpa tahu faktor risikonya,” ungkap Nesa.
Kini, Nesa aktif di LSM yang fokus pada pendampingan ODHA di wilayah Banten. Ia juga sering berbicara di forum-forum untuk menyebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS. Baginya, menjadi ODHA bukanlah akhir segalanya.
“Saya ingin masyarakat tahu bahwa ODHA bisa hidup sehat dan normal. Dan yang terpenting, kita harus terus melawan stigma. Semua orang berhak mendapatkan kehidupan yang layak,” tutupnya.
Kisah Nesa adalah potret perjuangan seorang ibu rumah tangga yang berhasil bangkit dari keterpurukan. Ia tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya.



















