Eri Sudewo, Dokter Gerilya Pemimpin Perlawanan di Banten

- Dr. Eri Sudewo, lulusan NIAS kelahiran Pasuruan, meninggalkan profesi dokter untuk terlibat dalam Revolusi Nasional dan memulai karier militer sebagai Dokter Batalyon di Karawang.
- Pada Agresi Militer Belanda II, ia memimpin perlawanan di Banten sebagai Komandan Brigade Tirtajasa dan Angkatan Perang Teritorial, sekaligus melayani kebutuhan medis pasukan serta warga.
- Setelah perang, Eri Sudewo menjadi ahli bedah, Kepala Bedah RSPAD, Kasdam Siliwangi, Rektor Universitas Airlangga, dan Duta Besar RI untuk Swedia sebelum wafat pada 1984.
Serang, IDN Times - Di tengah deru peluru dan derap laju Agresi Militer Belanda II pada akhir 1948, seorang lelaki berjas putih memilih meninggalkan kenyamanan ruang bedah demi memanggul senjata di belantara Jawa, termasuk Banten. Ia bukan sekadar perwira militer biasa, melainkan seorang dokter lulusan NIAS (kini Universitas Airlangga) yang menjadikan stetoskopnya sebagai simbol perlawanan.
Bernama lengkap dr. Eri Sudewo atau yang kerap dikenang sebagai Erie Sudewo dalam arsip militer, sosoknya menjelma menjadi legenda yang memimpin pergerakan di ujung barat Pulau Jawa. Lahir di Pasuruan pada 12 Mei 1919, perjalanannya dari seorang mahasiswa kedokteran hingga menjadi jenderal sekaligus akademisi adalah potret nyata ketangguhan generasi pendiri bangsa.
Dari ruang kuliah ke garis depan Karawang

Eri Sudewo, Dokter Gerilya yang Memimpin Perlawanan di Banten (IDN Times/Muhamad Iqbal) Kisah pengabdian Eri Sudewo bermula jauh sebelum ia memimpin Banten. Selepas menempuh pendidikan tinggi kedokteran di Sekolah Kedokteran NIAS (cikal bakal Universitas Airlangga) pada periode 1937–1945, ia langsung terjun mematri diri dalam kawah candradimuka Revolusi Nasional.
Ketika agresi militer berkecamuk, ia mengawali karier militernya sebagai Dokter Batalyon di Karawang dengan pangkat Kapten. Tak hanya mengobati prajurit yang terluka, jiwa kepemimpinannya membawa Eri menanjak cepat. Ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf Resimen VI Karawang, serta Komandan Keamanan Kota Cikampek dan Purwakarta.
Dalam buku memoar yang ditulis oleh istri tercintanya, Kusmartindjung atau Mang, bertajuk My Life With Eri-san a Freedom Fighter, tergambar jelas bagaimana sisi kemanusiaan dan ketegasan militer berpadu dalam diri sang suami.
"Di bagian selatan Banten tidak ada kota besar, hanya alam liar, daerah-daerah belum berkembang tempat berbagai kelompok independen mencoba menjalankan pengaruh mereka dan meracuni pikiran orang-orang desa yang tidak tahu apa-apa, belum lagi penjarahan oleh para Djawara. Eri bertekad untuk mengakhiri unsur-unsur yang tidak diinginkan tersebut sebelum situasi yang lebih kacau berkembang," tulis Mang dalam buku memoar tersebut.
Buku album kenangan militer Belanda berjudul Herinneringsalbum van de 1e Infanterie Brigade Groep der Divisie „7 December” (Deel IV) bahkan mencatat rekam jejak militernya secara terperinci, termasuk transkrip radiogram logistik dan peta taktis militer yang melacak pergerakan gerilyanya di sektor selatan Banten sekitar tahun 1949.
Memimpin Banten dan Brigade Tirtajasa

Peta dalam Herinneringsalbum van de 1e Infanterie Brigade Groep der Divisie „7 December” (Deel IV) (IDNT Times/Muhamad Iqbal) Puncak kiprah gerilyanya tercatat saat ia mengemban amanah sebagai Kepala Staf hingga Komandan Brigade Tirtajasa, serta Komandan Angkatan Perang Teritorial Banten.
Dalam peta militer taktis tertanggal 1 Agustus 1949 dari pihak lawan, posisi Eri Sudewo dipetakan secara khusus di sekitar wilayah Moendjoel, Banten selatan. Di bawah komandannya, kantong-kantong perlawanan rakyat dan pasukan Republik diorganisasi sedemikian rupa untuk menopang kedaulatan Indonesia dari cengkeraman kolonial.
Bagi anak buah dan masyarakat setempat, Eri bukan sekadar komandan; ia adalah pelindung yang merangkap sebagai tenaga medis darurat di tengah keterbatasan logistik hutan belantara.
Mengabdi untuk ilmu pengetahuan dan negara

Universitas Airlangga (uniar.ac.id) Ketokohan Eri Sudewo tidak berhenti di medan perang. Selepas kedaulatan diraih, ia kembali menekuni dunia medis yang dicintainya dengan mengambil spesialisasi bedah umum di RSPAD dan RSUP Universitas Indonesia (1952–1956). Haus akan ilmu, ia melanjutkan spesialisasi bedah toraks di Universitas Lund dan Universitas Uppsala, Swedia, serta meraih gelar doktor (S3) Ilmu Bedah dari Universitas Indonesia pada tahun 1961.
Kariernya terus melesat di berbagai lini. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Bedah RSPAD (1956–1966) dengan pangkat Brigadir Jenderal, Kasdam Siliwangi, hingga dipercaya menjadi Rektor Universitas Airlangga (1966–1974) dengan pangkat Mayor Jenderal. Pengabdiannya bagi negara pun berlanjut di kancah internasional ketika ia diangkat sebagai Duta Besar RI untuk Swedia pada periode 1975–1978.
Pada 30 November 1984, sang "Dokter Gerilya" menutup usia di Jakarta. Namun, warisan keberaniannya di medan laga Banten, ketulusannya di meja operasi, serta dedikasinya di dunia pendidikan akan terus hidup abadi dalam memori sejarah Republik Indonesia.


















