ilustrasi HIV (pexels.com/Anna Shvets)
Pada tahun 2008, Nesa kehilangan suaminya secara mendadak. Saat keluarga mengabarkan bahwa suaminya meninggal karena HIV, Nesa memutuskan untuk memeriksakan diri. Hasilnya positif. Dunia Nesa serasa runtuh saat itu.
"Hancur duniaku kayak kesambar seperti siang bolong ya pastinya setiap bangun tidur tuh aku bilang ini mimpi apa gak sih," kata Nesa, kepada IDN Times, Jumat (28/11/2024).
Meski terpukul, Nesa mendapatkan dukungan penuh dari ibunya dan keluarga. Dengan keberanian, ia melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Hasil pemeriksaan dirinya dinyatakan positif.
Selama tujuh tahun setelah diagnosis, Nesa merasa tubuhnya sehat. “Awalnya saya takut dengan efek samping obat dan risiko resisten kalau obatnya tidak tersedia. Tapi akhirnya saya sadar, ini jalan satu-satunya untuk bertahan hidup,” kata Nesa.
Sayangnya, di tengah perjuangan konsumsi ARV, Nesa juga memiliki penyakit sejenis autoimun yang menyebabkan trombositnya turun drastis. Kondisi ini membuatnya sering lemah dan rentan memar.
“Bukan hanya HIV, tapi autoimun ini juga menjadi tantangan besar buat saya. Rasanya seperti menghadapi dua ujian berat sekaligus,” ujarnya.