Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Helikopter Tanpa Awak Buatan Anak Bangsa Mejeng di HEXIA 2026
Helikopter Tanpa Awak Buatan Anak Bangsa Mejeng di HEXIA 2026 (Dok. White Sky)
  • Helikopter tanpa awak Vela buatan Indonesia dipamerkan di HEXIA 2026, bersamaan dengan penandatanganan 50 unit eVTOL yang akan diuji coba oleh DKPPU.
  • Whitesky menargetkan pengembangan 200 eVTOL dalam 10 tahun, disertai pembangunan vertiport, pengisian daya, perawatan, pelatihan, dan sistem keselamatan untuk konektivitas nasional.
  • Vela menawarkan versi listrik tanpa awak berjangkauan 150 km serta Hybrid VTOL hingga 500 km; Kemenhub menyiapkan pengujian keselamatan dan regulasi sebelum operasi komersial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times - Satu helikopter tanpa awak bermerek Vela yang dibuat anak muda Indonesia di Batujajar, Bandung mejeng di gelaran Heli Expo Asia (HEXIA) 2026 bertema Road to Zero Carbon Helicopters berlangsung di Cengkareng Heliport, Bandara Soekarno-Hatta.

Gelaran yang berlangsung hingga Minggu (23/8/2026) tersebut menampilkan electric Vertical Take-off and Landing (eVTOL) yang disebut menjadi masa depan transportasi udara Indonesia.

"Jadi berbeda dengan HEXIA sebelumnya, jadi ini khusus customer. Nah, yang salah satu significant milestone kami hari ini ada penandatanganan 50 eVTOL VELA yang ada di belakang ini, yang nanti akan diuji coba sama DKPPU," kata CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja.

1. Whitesky ingin bangun ekosistem untuk transportasi saling terintegrasi di Indonesia

Helikopter Tanpa Awak Buatan Anak Bangsa Mejeng di HEXIA 2026 (Dok. White Sky)

Denon menjelaskan, Whitesky Aviation Group ingin memperkuat ekspansi bisnis Advanced Air Mobility (AAM) melalui pengembangan hingga 200 unit electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) dalam 10 tahun ke depan. Pipeline tersebut terdiri atas 120 unit dari China, 30 unit dari Jepang dan 50 unit dari Indonesia, yang akan dikembangkan secara bertahap sejalan dengan kesiapan teknologi, regulasi, infrastruktur serta pertumbuhan pasar Advanced Air Mobility di Indonesia.

“Target kami bukan hanya membangun fleet yang besar. Kami ingin membangun operating capability yang lengkap, mulai dari aircraft, infrastructure, maintenance, safety, human capital sampai market. Scale menjadi penting karena dari sana kita bisa membangun ekosistem yang sustainable,” ujar Denon.

Pengembangan armada tersebut dipersiapkan untuk mendukung berbagai kebutuhan mobilitas, mulai dari airport connectivity, urban mobility, business aviation, kawasan industri, pariwisata hingga konektivitas antar kawasan dan antarpulau.

Menurut Denon, karakter geografis Indonesia memberikan peluang besar bagi perkembangan eVTOL karena kebutuhan konektivitas tidak hanya terpusat pada kota besar, tetapi tersebar di berbagai pusat ekonomi, kawasan industri dan destinasi strategis.

“Indonesia mempunyai karakter market yang berbeda. Kita adalah negara kepulauan dengan pusat ekonomi yang tersebar. Karena itu, Advanced Air Mobility dapat menjadi bagian penting dari konektivitas nasional sekaligus membuka model layanan baru bagi industri penerbangan,” katanya.

Whitesky juga melihat skala pengembangan 200 eVTOL akan memberikan fondasi untuk membangun jaringan operasi yang lebih luas. Selain armada, perusahaan mempersiapkan sejumlah komponen pendukung seperti vertiport, charging infrastructure, maintenance capability, training, safety system serta pengembangan sumber daya manusia penerbangan.

Strategi tersebut menempatkan Whitesky bukan hanya sebagai pengguna teknologi eVTOL, tetapi sebagai operator yang membangun kemampuan operasional dan ekosistem secara terintegrasi.

“Menjadi leading operator bukan hanya soal memiliki aircraft paling banyak. Yang menentukan adalah apakah kita memiliki capability untuk mengoperasikan, merawat, mengembangkan network dan memberikan service yang aman serta reliable kepada customer,” ujar Denon.

2. Vela buatan Indonesia bakal tersaji dengan sistem tanpa awak dan dengan awak

Helikopter Tanpa Awak Buatan Anak Bangsa Mejeng di HEXIA 2026 (Dok. White Sky)

Direktur PT Vela Prima Nusantara, Kevin Phang mengungkapkan, eVTOL Vela tersebut memiliki dua jenis konfigurasi yakni eVTOL dengan sistem elektrik penuh tanpa awak dan Hybrid VTOL Aircaft yang bisa dengan awak. Keduanya, kata Kevin pada umumnya memiliki performa yang kurang lebih sama, tapi yang membedakan hanya dari segi jarak saja.

"Jadi kalau untuk yang eVTOL, itu bisa menempuh jarak sampai dengan 150 km. Kalau yang Hybrid VTOL, bisa menempuh jarak sampai dengan 500 km," katanya.

Pada awal ujicoba, sesuai dengan regulasi yang ada di Indonesia, Vela bakal terlebih dahulu menggunakan pilot yang bisa mengakomodir hingga 4 penumpang dengan dua jenis konfigurasi tempat duduk berbeda. Rinciannya, untuk ekonomi, dan juga yang kedua adalah bisnis menempati 4 duduk (4-seater) dengan opsi bagasi juga di belakangnya.

"Penggunaannya sangat banyak, ini bisa digunakan untuk passenger, bisa untuk kargo, dan juga bisa untuk medevac, dan tidak lupa juga kita untuk hal-hal yang bersifat tourism, seperti itu," jelas Kevin.

Selain itu, Kevin memastikan eVTOL memiliki biaya operasional yang jauh lebih kompetitif dibandingkan helikopter konvensional. Sehingga, Vela diperutukkan bagi masyarakat luas, baik kalangan menengah hingga atas bukan hanya segelintir orang.

"Jadi memang pesawat ini dibangun, manufaktur semua menggunakan teknologi dalam negeri, walaupun memang untuk komponen-komponent pesawat tetap kita impor dari luar. Tapi manufacturing, produksinya, dan assembly-nya semua dilakukan dalam negeri dan oleh anak-anak bangsa Indonesia," jelasnya.

3. Kemenhub juga pastikan telah siapkan regulasi untuk eVTOL

Helikopter Tanpa Awak Buatan Anak Bangsa Mejeng di HEXIA 2026 (Dok. White Sky)

Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Sokhib Al Rokhman, mengatakan pemerintah mengikuti perkembangan teknologi penerbangan, termasuk eVTOL. Namun, sebelum digunakan secara komersial, pesawat tersebut harus melalui serangkaian pengujian dan memenuhi persyaratan keselamatan.

"Tapi untuk komersial memang butuh waktu, butuh pengujian, butuh minimum jam terbang yang harus diuji. Terus kemudian melibatkan laboratorium, ada static test, ada dynamic test, dan lain-lain yang tentu kita melindungi kepentingan publik," tegas Sokhib.

Dari sisi regulasi, Kementerian Perhubungan telah memiliki Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (CASR) Part 22 yang disahkan pada 2023 untuk mengatur standar kelaikudaraan. Kemenhub juga tengah merevisi CASR Part 61 terkait lisensi pilot, termasuk Remote Pilot License (RPL). Revisi tersebut saat ini telah masuk ke Biro Hukum.

Untuk penggunaan ruang udara, pemerintah telah memiliki PM 37 Tahun 2020. Regulasi terkait registrasi pesawat juga telah tersedia, sedangkan aspek keamanan siber akan dikoordinasikan dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

“terkait dengan penggunaan ruang udara, kita juga sudah punya PM 37 Tahun 2020, terus kemudian terkait dengan registrasi, kita juga sudah punya regulasinya. Terkait dengan hal-hal lain, cyber security, kami tentu berkoordinasi dengan BSSN,” tutur Sokhib.

Curated For You

Editorial Team

Related Article