Helikopter Tanpa Awak Buatan Anak Bangsa Mejeng di HEXIA 2026 (Dok. White Sky)
Denon menjelaskan, Whitesky Aviation Group ingin memperkuat ekspansi bisnis Advanced Air Mobility (AAM) melalui pengembangan hingga 200 unit electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) dalam 10 tahun ke depan. Pipeline tersebut terdiri atas 120 unit dari China, 30 unit dari Jepang dan 50 unit dari Indonesia, yang akan dikembangkan secara bertahap sejalan dengan kesiapan teknologi, regulasi, infrastruktur serta pertumbuhan pasar Advanced Air Mobility di Indonesia.
“Target kami bukan hanya membangun fleet yang besar. Kami ingin membangun operating capability yang lengkap, mulai dari aircraft, infrastructure, maintenance, safety, human capital sampai market. Scale menjadi penting karena dari sana kita bisa membangun ekosistem yang sustainable,” ujar Denon.
Pengembangan armada tersebut dipersiapkan untuk mendukung berbagai kebutuhan mobilitas, mulai dari airport connectivity, urban mobility, business aviation, kawasan industri, pariwisata hingga konektivitas antar kawasan dan antarpulau.
Menurut Denon, karakter geografis Indonesia memberikan peluang besar bagi perkembangan eVTOL karena kebutuhan konektivitas tidak hanya terpusat pada kota besar, tetapi tersebar di berbagai pusat ekonomi, kawasan industri dan destinasi strategis.
“Indonesia mempunyai karakter market yang berbeda. Kita adalah negara kepulauan dengan pusat ekonomi yang tersebar. Karena itu, Advanced Air Mobility dapat menjadi bagian penting dari konektivitas nasional sekaligus membuka model layanan baru bagi industri penerbangan,” katanya.
Whitesky juga melihat skala pengembangan 200 eVTOL akan memberikan fondasi untuk membangun jaringan operasi yang lebih luas. Selain armada, perusahaan mempersiapkan sejumlah komponen pendukung seperti vertiport, charging infrastructure, maintenance capability, training, safety system serta pengembangan sumber daya manusia penerbangan.
Strategi tersebut menempatkan Whitesky bukan hanya sebagai pengguna teknologi eVTOL, tetapi sebagai operator yang membangun kemampuan operasional dan ekosistem secara terintegrasi.
“Menjadi leading operator bukan hanya soal memiliki aircraft paling banyak. Yang menentukan adalah apakah kita memiliki capability untuk mengoperasikan, merawat, mengembangkan network dan memberikan service yang aman serta reliable kepada customer,” ujar Denon.