Kemarau Makin Parah, 288 Hektare Sawah Banten Gagal Panen

- Hingga 14 Agustus 2026, kemarau menyebabkan 288,25 hektare sawah di Banten gagal panen, melonjak dari sekitar 60 hektare pada akhir Juli; total lahan terdampak mencapai 2.666,25 hektare.
- Kabupaten Serang mencatat puso terbesar, 137,5 hektare dari 976 hektare sawah terdampak. Kabupaten Tangerang mencatat 119,75 hektare puso, disusul Kota Serang 17 hektare dan Pandeglang 14 hektare.
- Distan Banten mengandalkan pompanisasi, irigasi perpipaan, varietas tahan kering, dan AUTP; strategi jangka panjang mencakup perbaikan irigasi serta optimalisasi sumber air, yang ditargetkan mulai bertahap pada 2027.
Serang, IDN Times – Dampak kemarau panjang mulai menghantam sektor pertanian di Provinsi Banten. Hingga 14 Agustus 2026, sebanyak 288,25 hektare areal persawahan tercatat mengalami gagal panen atau puso. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan akhir Juli 2026. Saat itu, luas sawah yang mengalami puso di Banten baru sekitar 60 hektare.
Kepala Bidang Prasarana Dinas Pertanian Provinsi Banten, Saeful Bauri Memun mengatakan, selain lahan yang sudah mengalami puso, ribuan hektare sawah lainnya masih terdampak kekeringan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
“Secara kumulatif kekeringan masa tanam 2026 hingga tanggal 14 Agustus 2026, untuk sementara yang terkena dampak 2.666,25 hektare. Intensitas ringan 1.250 hektare, sedang 655 hektare, berat 473 hektare, puso 288,25 hektare,” kata Saeful, Kamis (20/8/2026).
1. Serang jadi daerah dengan puso terbesar

Ilustrasi lahan pertanian terdampak bencana kekeringan.(IDN Times/Ruhaili) Saeful menuturkan, Kabupaten Serang menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak kekeringan cukup besar. Kekeringan tercatat melanda 976 hektare sawah yang tersebar di 12 kecamatan dan 48 desa.
Dari luasan tersebut, 137,5 hektare mengalami puso. Sementara 234 hektare telah pulih, 99 hektare sudah memasuki masa panen, dan sebagian lahan lainnya masih terancam terdampak kekeringan.
Kabupaten Tangerang juga mencatat puso cukup besar. Dari 457,75 hektare sawah yang terdampak kekeringan, sebanyak 119,75 hektare dilaporkan mengalami gagal panen. Kekeringan di Kabupaten Tangerang tersebar di 16 kecamatan dan 39 desa. Selain puso, terdapat lahan yang telah pulih maupun memasuki masa panen.
Sementara di Kabupaten Pandeglang, kekeringan melanda sekitar 865 hektare sawah yang tersebar di 20 kecamatan dan 46 desa. Dari jumlah tersebut, 14 hektare mengalami puso.
Adapun Kabupaten Lebak mencatat 330 hektare sawah terdampak kekeringan yang tersebar di 11 kecamatan dan 24 desa.
"Sedangkan di Kota Serang, kekeringan melanda 37 hektare lahan yang tersebar di tiga kecamatan dan tujuh kelurahan. Sebanyak 17 hektare di antaranya mengalami puso," katanya.
2. Pompanisasi jadi andalan

Ilustrasi. Ribuan hektar lahan pertanian di desa Keruak Lotim tidak bisa ditanami karena dampak kekeringan (dok. Ruhaili) Meski dampak kekeringan terus meluas, Distan Banten menyebut sebagian lahan berhasil diselamatkan melalui hujan dan pompanisasi. Saeful mengatakan, sebanyak 294 hektare lahan telah kembali pulih akibat hujan dan bantuan pompanisasi. Selain itu, 735 hektare lainnya sudah pulih karena memasuki masa panen.
Untuk menekan dampak kemarau, Distan Banten mendorong penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Pemerintah juga melakukan pemetaan wilayah terdampak serta mengoptimalkan pompanisasi dan irigasi perpipaan.
“Untuk penanganan jangka pendek, kami mendorong sejumlah langkah, mulai dari penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering, pemetaan wilayah terdampak, hingga optimalisasi pompanisasi dan irigasi perpipaan,” katanya.
Bagi lahan yang sudah mengalami puso, petani akan diarahkan mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Program tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada petani ketika mengalami gagal panen.
“Untuk solusi jangka pendek bagi yang mengalami puso, kita mengimbau untuk menanam padi yang rentan terhadap musim kering, penerapan dan penetapan puso untuk masuk ke AUTP, pemetaan kekeringan, monev pemanfaatan irigasi pompa, irigasi perpipaan dan distribusi mesin pompa,” ujarnya.
3. Pemprov siapkan strategi jangka panjang

Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino terjadi di Indonesia, Senin (18/9/2023). Cover Grafis IDN Times Distan Banten juga menyiapkan sejumlah langkah jangka panjang untuk mengurangi risiko kekeringan pada musim tanam berikutnya.
Strategi tersebut meliputi perbaikan infrastruktur irigasi, diversifikasi tanaman, perluasan cakupan program AUTP, hingga penguatan brigade alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Ada juga solusi jangka panjangnya, yaitu melakukan perbaikan infrastruktur irigasi, diversifikasi tanaman, memperluas areal untuk program asuransi AUTP, dan penguatan brigade alsintan,” kata Saeful.
Plt Kepala Distan Provinsi Banten, Nasir M Daud menambahkan, pemerintah juga tengah mencari skema untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau.
Salah satunya dengan mengoptimalkan sumber mata air yang berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3).
“Kita sudah rapatkan persoalan itu beberapa hari lalu, kita akan upayakan agar sumber mata air di bawah kewenangan BWSC3 bisa dimaksimalkan. Supaya ketika musim kemarau, pasokan air untuk sawah tetap ada,” katanya.
Menurut Nasir, upaya tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor. Pemerintah menargetkan skema penyediaan air tersebut dapat dilakukan secara bertahap dan mulai berjalan pada 2027.
“Kita upayakan secara bertahap, karena ini juga melibatkan berbagai kalangan dan lintas sektor. Semoga program ini bisa mulai berjalan di tahun 2027 nanti, dan petani tidak lagi kesulitan air,” katanya.


















