Kanker Darah Bisa Diobati Jika Diketahui Dini, Ini Sejumlah Tandanya

- Kanker darah memiliki 3 jenis yang berbeda asal muasalnya: Leukimia, Lymphoma, dan Myeloma.
- Tiap jenis kanker darah memiliki pola ciri khas yang berbeda-beda, sehingga pengobatannya juga berbeda-beda.
- Kanker darah punya efek psikis paling besar terhadap pasien dibandingkan kanker lain, butuh pendampingan psiko-sosial.
Tangerang, IDN Times - Kanker darah merupakan salah satu penyakit yang mengganggu produksi dan fungsi sel darah normal di dalam tubuh, biasanya bermula di sumsum tulang. Kondisi ini menyebabkan sel darah yang abnormal berkembang tidak terkendali, sehingga menghambat kemampuan darah untuk melawan infeksi atau membeku.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi dan onkologi medik di Mandaya Royal Hospital Puri Kota Tangerang, Toman T.J Lumban Toruan mengatakan kanker darah bisa diobati jika diketahui sedini mungkin. Untuk itu, penting mengenali tanda awal kanker darah.
"Jika terlihat pucat, lemas, lelah, demam, kulit ada lebam dan muncul bersamaan tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan, karena pengobatan kanker darah sangat bergantung waktu penanganan," kata Toman, Senin (2/2/2026).
1. Terdapat 3 jenis kanker darah yang menyerang manusia

Menurut Toman, kanker darah memiliki tiga jenis asal yang berbeda. Pasalnya, pembentukan darah di tubuh manusia memiliki perjalanan panjang, sehingga setiap jenis kanker darah bisa menyerang tahapan yang berbeda, yakni, leukimia, lymphoma, dan myeloma.
"Kalau leukimia itu kanker yang menyerang sel darah putih di sumsum tulang. Bisa bersifat akut (berkembang cepat) atau kronis (lambat)," katanya.
Sementara lymphoma kanker yang menyerang sistem limfatik seperti kelenjar getah bening, limpa, maupun timus yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi.
"Sedangkan myeloma menyerang sel plasma darah yang merupakan komponen dari sel darah putih yang seharusnya membentuk antibodi," ungkapnya.
2. Tiap jenis kanker darah punya tanda yang berbeda

Toman mengungkapkan, tiap jenis kanker darah memiliki pola ciri khas yang berbeda. Misalnya, untuk penyandang leukimia biasanya merasa kelelahan parah meski sudah istirahat cukup, pucat akibat kurang darah atau anemia. Selain itu juga sering mengalami lebam, memar, atau muncul bintik merah atau ungu pada kulit mesk tidak terbentur. Lalu, demam tiba-tiba, menggigil dan berkeringat saat malam hari.
"Lymphoma biasanya ditandai adanya pembesaran kelenjar, di leher, ketiak, paha, di dalam tubuh daerah perut, dada kadang tidak terlihat dari luar sehingga memerlukan pemeriksaan tambahan seperti MRI atau Pet-Scan," ungkapnya.
Sementara, untuk Myeloma biasanya lebih sulit dikenali lantaran tidak ada keluhan khas. Namun, jika diperhatikan terdapat pola yang mengarah ke Myeloma.
"Ada polanya, yakni CRAB seperti kalsium tinggi, ureum kreatinin tinggi tapi bukan ginjal yang rusak tapi fungsi ginjal menurun akibat ada myeloma, anemia, dan nyeri tulang," ungkapnya.
Lantaran organ yang diserang berbeda, pengobatan dari masing-masing jenis kanker darah tersebut juga berbeda-beda. Misalnya saja, untuk leukimia biasanya dilakukan kemoterapi, terapi target, hingga transplantasi sumsum tulang belakang dari orang lain.
"Untuk Lymphoma juga menggunakan kemoterapi dan terapi target, dalam kasus kankernya 'bandel', ditambahkan transplantasi sumsum tulang tapi dari badan sendiri, diaktifkan, lalu disedot, disimpan dan diberikan bersamaan dengan kemoterapi," jelasnya.
Sementara, untuk Myeloma juga dilakukan dengan kemoterapi, terapi target, dan transplantasi sumsum tulang belakang dari orang lain atau stem cell.
"Myeloma kalau ditransplant bisa bebas penyakit 5-8 tahun, kalau tidak ditransplant engga sampe 5 tahun sudah datang lagi karena stem cell bisa meredam peradangan di dalam tubuh," jelasnya.
3. Kanker darah punya efek psikis paling besar terhadap pasien dibandingkan kanker lain

Toman mengungkapkan, kanker darah sebenarnya sama saja dengan penyakit lain, ketika sumbernya ditemukan, bisa diobati sampai sembuh. Tapi, kanker darah punya efek psikis yang paling besar bagi pasien.
"Bahkan Ketika pasien disarankan periksa sumsum tulang, baru itu, bisa menyebabkan pasien enggak bisa tidur, bukan rasa sakit pada saat diambil sampel sumsum tulangnya, tapi menunggu hasilnya," ungkapnya.
Untuk itu, pasien kanker darah butuh pendampingan psiko-sosial. Seperti mendukung kesehatan mentalnya, pendampingan keluarga dibutuhkan sedari awal, temani proses pengobatannya, dan sebagainya.
Berdasarkan data dari Kemenkes, lebih dari 400 ribu orang di dunia menderita kanker darah dan lebih dari 10.000 orang, terutama anak-anak, di Indonesia menderita penyakit ini. Toman pun mengatakan, belum ada penelitian lebih lanjut faktor apa yang menyebabkan seseorang berpeluang terkena kanker darah. Tapi, bila ada histori genetik, akan memperbesar faktor kanker tersebut.
"Belum ada bukti (faktor), tapi jika keluarga pasien ada terkena kanker, jenis apapun itu, diduga ginetik diturunkan, potensi ke develop to cancer," ujarnya.
4. Ada pusat kanker darah di Kota Tangerang

Sementara itu, Rumah Sakit Mandaya Royal Puri meresmikan Pusat Kanker Darah, yang menghadirkan sistem penanganan kanker darah yang teritegrasi. Mulai dari tahap diagnosis hingga terapi lanjutan.
"Ada lima dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi medik yang bergabung. Mereka berpengalaman dalam menangani berbagai kelainan darah, hingga kanker darah," ujar Presiden Direktur Mandaya Hospital Group, Ben Widjaja.
Melalui pusat layanan ini, rumah sakit ini menyediakan penanganan kanker darah yang terintegrasi, mulai dari proses diagnosis, terapi, hingga perawatan lanjutan. Mandaya juga menghadirkan pengobatan kanker darah secara lengkap, segera transplantasi sumsum tulang HSCT akan hadir di Indonesia.
Pusat Kanker Darah RS Mandaya Royal Puri menangani berbagai jenis kanker darah, mulai dari limfoma Hodgkin dan Non-Hodgkin, multiple myeloma, hingga leukemia. Salah satu layanan unggulannya adalah Transplantasi Sel Punca Hematopoietik (Hematopoietic Stem Cell Transplant/HSCT), yaitu prosedur terapi untuk menggantikan sumsum tulang yang rusak dengan sel punca pembentuk darah yang sehat agar fungsi pembentukan darah dapat kembali optimal.
"Pusat Kanker Mandaya telah menangani lebih dari 2.500 pasien kanker dengan tingkat keberhasilan hidup mencapai lebih dari 80 persen," ungkap Ben.
Dalam mendukung proses pengobatan, Pusat Kanker Darah Mandaya menyediakan berbagai terapi sistemik, seperti kemoterapi, imunoterapi, terapi target, dan radioterapi, yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

















