Dulu, keluarga Yadi punya rumah. Namun, angin kencang di bulan Desember 2019 menerjang dan merobohkan rumah itu. Sejak itu, keluarga ini terpaksa menghuni tenda terpal itu lantaran tidak memiliki biaya untuk membangun kembali rumah yang layak huni.
Kegiatan sehari-hari, dia lakukan di tenda terpal yang ditopang dengan tonggak kayu dan bambu kerosos. Samping tenda terbuka karena tidak ada dinding penghalang dalam dan luar tenda hanya sebagian ditutupi anyaman bambu bolong.
Di dalam gubuk terpal tersebut, bermacam gerabah atau alat masak tertata di sisi- sisi terpal. Di dalamnya terdapat lemari cukup besar dengan warna yang sudah pudar. Untuk tidur, mereka menggunakan dipan kayu tanpa kasur. Ia menuturkan, tiap kali hujan besar, tendanya itu selalu kebanjiran.
"Betah gak betah ya gimana lagi. Penghasilan sehari-hari hanya cukup buat makan anak istri," kata Yadi kepada IDN Times, Senin (21/12/2020).