Lahan Pertanian di Kota Serang Menyempit Hingga 6 Persen

Serang, IDN Times - Lahan pertanian di Kota Serang mengalami penurunan atau penyempitan hingga 6 persen selama 10 tahun terakhir. Rata-rata lahan pertanian tersebut beralih fungsi menjadi perumahan atau bangunan beton. Penyempitan lahan pertanian ini mengakibatkan Turunnya Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) Kota Serang.
1. Warga yang usaha di bidang pertanian pun turut berkurang

Kepala BPS Kota Serang, Faizin, mengatakan sejak 2013 hingga 2023 terjadi penurunan RTUP. Satu di antara faktor penyebabnya adalah berkurangnya lahan pertanian yang berubah menjadi komplek perumahan dan bangunan yang sudah beralih fungsi.
"Perumahan banyak, sehingga lahan (Pertanian) berkurang, dan peminat penduduk terhadap pertanian pun berkurang. Sejak 2013 sampai sekarang turun 6 persen," kata Fauzin, Kamis (21/12/2023).
2. Berpengaruh terhadap ketersediaan pangan di Kota Serang

Meskipun secara persentase kecil, kata Faizin, namun cukup berpengaruh terhadap ketersediaan pangan, terutama beras di Kota Serang. Hal ini juga dipicu sering perkembangan zaman, serta minat warga dalam membangun usaha di bidang pertanian sudah berkurang.
"Jadi, memang wajar mungkin yah, karena Kota Serang sebagai Ibu Kota Provinsi dan seiring perkembangan zaman juga sagat berpengaruh juga," katanya.
3. Kecamatan ini yang rendah ketersediaan lahan pertanian

Faizin menuturkan, dari enam kecamatan di Kota Serang, Kecamatan Serang menjadi wilayah paling rendah ketersediaan lahan pertanian, dibandingkan wilayah Kecamatan lainnya.
"Melihat sebaran pertanian yang paling tinggi masih di Kasemen, kemudian Walantaka, Taktakan, Curug, dan Kecamatan Serang terendah," ujarnya.
Faizin mengatakan, tercatat hanya ada sekitar 18.300 lebih rumah tangga usaha pertanian pada tahun 2023. Padahal sebelumnya jumlah RTUP di Kota Serang lebih banyak dari angka tersebut.
"Turun enam persen dibanding tahun 2013, artinya lebih dari 18.300 sebelum tahun 2023 ini," katanya.



















