Sementara itu, Kepala Bidang Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Soekarno-Hatta, Jerry Prima, mengatakan sebagian besar kendala terjadi karena posisi atau sudut wajah pengguna belum tertangkap kamera secara optimal saat melewati koridor pemeriksaan.
"Biasanya karena angle wajah yang ditampilkan kurang tepat sehingga tidak terbaca oleh sistem. Ini murni persoalan teknis dan bukan kendala yang signifikan karena langsung dapat ditangani melalui pemeriksaan manual," katanya.
Dibandingkan dengan auto gate yang selama ini digunakan di bandara internasional, Corridor Gate dinilai jauh lebih cepat. Jika auto gate memiliki standar layanan maksimal 15 detik per orang, sistem seamless hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima detik.
"Artinya prosesnya bisa lebih dari tiga kali lebih cepat dibandingkan auto gate. Ini sangat membantu dalam mengurai antrean, terutama saat kedatangan jemaah haji dalam jumlah besar," ujar Jerry.
Galih menambahkan, Imigrasi Soekarno-Hatta akan terus melakukan evaluasi terhadap 10 persen kasus yang masih memerlukan pemeriksaan manual guna meningkatkan tingkat keberhasilan sistem. Ke depan, teknologi Corridor Gate tidak hanya berpotensi digunakan untuk melayani jemaah haji, tetapi juga dapat diterapkan bagi jemaah umrah maupun kategori penumpang internasional lainnya.
"Saat ini masih kami fokuskan untuk jemaah haji. Namun tidak menutup kemungkinan nantinya dapat diterapkan untuk umrah maupun penumpang lainnya. Jika memang dibutuhkan, penambahan unit Corridor Gate juga akan kami usulkan kepada Direktorat Jenderal Imigrasi," kata Galih.