Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemkab Tangerang Gandeng Guru Ngaji Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak

Pemkab Tangerang Gandeng Guru Ngaji Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak
Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Intinya Sih
  • Pemkab Tangerang menggandeng guru ngaji, ustaz, dan pimpinan pesantren untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui edukasi nilai agama serta pembinaan masyarakat.
  • Bupati Maesyal Rasyid mendorong pemanfaatan lahan pesantren untuk budidaya hortikultura dan usaha produktif guna meningkatkan kesejahteraan santri serta tenaga pengajar.
  • Wakil Bupati Intan Nurul Hikmah menegaskan pentingnya lingkungan pendidikan bebas kekerasan agar menjadi rumah kedua yang aman, penuh kasih sayang, dan membentuk karakter anak sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tangerang, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Tangerang terus berupaya mencegah adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta tindak pidana perdagangan orang (TPPO), termasuk di lingkungan pendidikan dan pondok pesantren. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan menggandeng para guru ngaji, ustaz, ustazah, serta pimpinan pondok pesantren.

Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, mengungkapkan, sinergi dan kolaborasi dalam lingkup pendidikan penting dilakukan dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak serta TPPO.

"Kami mohon bantuan para guru ngaji, ustaz, ustazah, dan pengelola pondok pesantren untuk bergandengan tangan mencegah berbagai pelanggaran pidana. Jangan pernah lelah untuk terus mengedukasi masyarakat," kata Maesyal, Minggu (21/6/2026).

1. Maesyal ingin guru ngaji edukasi masyarakat soal bentuk-bentuk kekerasan perempuan dan anak

Guru ngaji di Kabupaten Tangerang diminta jadi garda terdepan cegah Kekerasan terhadap perempuan dan anak
Guru ngaji di Kabupaten Tangerang diminta jadi garda terdepan cegah Kekerasan terhadap perempuan dan anak (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga merupakan tragedi kemanusiaan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sosial.

"Persoalan kekerasan ini bukan sekadar pelanggaran hukum pidana, melainkan tragedi kemanusiaan yang mencederai norma-norma agama dan kehidupan bermasyarakat," tegasnya.

Maesyal menyoroti meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi setiap tahun. Karena itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan pesantren, untuk berperan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat.

Menurutnya, guru ngaji, ustaz, ustazah, dan pimpinan pondok pesantren merupakan garda terdepan dalam pembinaan umat yang memiliki peran penting dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan di lingkungan keluarga. Apalagi, jika edukasi disampaikan oleh pemuka agama akan lebih mengena ke masyarakat.

"Kami berharap adanya edukasi mengenai keharmonisan rumah tangga, tanggung jawab suami-istri, serta pola asuh anak dalam setiap ceramah. Dengan begitu, kita dapat bersama-sama menekan angka kasus KDRT yang terus meningkat," ujarnya.

2. Pemkab Tangerang juga bakal bangun fasilitas budidaya hortikultura di lingkup pesantren

Guru ngaji di Kabupaten Tangerang diminta jadi garda terdepan cegah Kekerasan terhadap perempuan dan anak
Guru ngaji di Kabupaten Tangerang diminta jadi garda terdepan cegah Kekerasan terhadap perempuan dan anak (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Selain itu, Maesyal juga mendorong Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tangerang untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren.

Ia menilai lahan kosong yang dimiliki pondok pesantren dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, seperti budidaya hortikultura, tanaman palawija, maupun usaha perikanan bioflok guna meningkatkan kesejahteraan santri dan tenaga pengajar.

"Selain menjadi aktivitas yang bermanfaat bagi santri dan guru ngaji, kegiatan tersebut juga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan," jelasnya.

3. Wakil Bupati juga ingin lingkungan pendidikan jadi rumah kedua bagi anak

Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah
Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Sementara itu, Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, menegaskan bahwa lingkungan pendidikan harus bebas dari segala bentuk kekerasan. Lingkungan pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak.

"Saya ingin menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang bagi segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan. Kita harus memastikan sekolah benar-benar bebas dari kekerasan, baik fisik, verbal, psikologis, perundungan, maupun bentuk kekerasan lainnya," tegas Intan.

Ia menyebut kekerasan terhadap anak bukanlah persoalan sepele. Bentakan, ejekan, kata-kata yang merendahkan, hingga perundungan dapat meninggalkan luka psikologis yang membekas dan memengaruhi tumbuh kembang anak.

Karena itu, menurutnya, pendekatan yang mengedepankan kasih sayang, komunikasi positif, kesabaran, dan keteladanan harus menjadi budaya dalam dunia pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan usia dini.

"Apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru hari ini akan melekat dalam ingatan anak-anak hingga mereka dewasa nanti. Karena itu, saya meyakini bahwa guru bukan hanya pendidik, tetapi juga pelindung, pembimbing, sekaligus teladan bagi anak-anak kita," ujarnya.

Ia juga menyoroti peran strategis guru PAUD dan TK dalam membentuk karakter anak pada masa emas pertumbuhannya. Menurutnya, kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

"Kerja sama dan kolaborasi dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, hingga seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya," jelasnya.

Intan menegaskan, Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Ia pun mengajak seluruh guru PAUD dan TK untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak layaknya rumah kedua bagi anak.

"Ketika anak-anak tumbuh tanpa kekerasan, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, serta bimbingan penuh kasih sayang, maka kita sedang menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Banten

See More