Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Sementara itu, Rektor Universitas Prasetya Mulya sekaligus mantan Menteri Luar Negeri RI, Hassan Wirajuda mengungkapkan, saat ini Kabupaten Tangerang menjadi magnet yang mengundang para pendatang untuk mengadu nasib mencari kerja. "Tentunya, semua itu harus sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDG) 11 tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan, dimana pembangunan harus inklusif," ujar Hasan Wirajuda.
Kata Hasan, meski Bupati Tangerang tidak bisa menolak pendatang baru atau pilih kasih, kepedulian Pemerintah Kabupaten Tangerang kepada seluruh masyarakat yang terus bertambah ini dampaknya akan langsung terasa pada kas daerah. Khusunya, dalam bidang pendidikan, dan kesehatan. Seperti sekolah swasta gratis, lalu subsidi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
"Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus berdarah-darah menopang pembengkakan beban jaminan kesehatan dan pendidikan bagi para warga baru tersebut. Tentu ini sebuah realita urban," katanya.
Hasan juga menyarankan agar pemerintah pusat ikut turun tangan memberikan subsidi kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang, di bidang pendidikan, atau kesehatan
"Tentunya pemerintah pusat harus ikut turun tangan, memberikan subsidi dan membantu Pemerintah Kabupaten Tangerang," ucapnya.
Diketahui, seminar internasional ini diselenggarakan untuk memperkuat kapasitas perencanaan pembangunan daerah di bidang ekonomi, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan melalui kolaborasi lintas sektor global.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja mengatakan, seminar internasional ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul ilmiah, tapi sebuah laboratorium gagasan bertema "Reimagining the Future of Region: Smart, Resilient, and Sustainable Pathways in a Disruptive World".
Adapun, tujuan digelarnya seminar ini adalah, untuk meningkatkan pemahaman tentang isu-isu strategis pembangunan daerah dalam konteks nasional maupun global, dengan memfasilitasi pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan inovasi di antara para pemangku kepentingan, untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas perencanaan pembangunan daerah melalui kolaborasi lintas sektor dan internasional.
"Serta untuk menghasilkan rekomendasi strategis bagi penyusunan dan penyempurnaan dokumen perencanaan pembangunan daerah, " kata Soma.
Nara sumber yang dihadirkan merupakan pakar dari mancanegara dari negara India, Australia, Malaysia, hingga Jepang. Mereka disebar ke dalam empat kelas paralel hingga sore hari untuk menggodok formula tata kelola cerdas (smart governance), inovasi, ekonomi hijau, hingga strategi ketangguhan wilayah pesisir dan perkotaan yang dihadiri oleh sekitar 400 peserta secara luring dan 200 peserta secara daring.
"Para peserta terdiri dari perwakilan instansi pemerintah, akademisi, mahasiswa dari berbagai universitas, praktisi pembangunan, peneliti, serta organisasi internasional," pungkasnya.