372 Hektare Sawah di Lebak Banten Kekeringan Akibat Kemarau

- Sebanyak 372 hektare sawah di tujuh kecamatan Kabupaten Lebak terdampak kekeringan akibat menurunnya debit air irigasi dan sumber mata air selama musim kemarau.
- Kecamatan Kalanganyar menjadi wilayah terdampak terluas dengan 227 hektare, sementara sebagian besar lahan masih tergolong rusak ringan hingga sedang dan berpeluang diselamatkan.
- Dinas Pertanian menyalurkan 74 pompa air serta mengimbau petani segera melapor ke penyuluh lapangan bila sawah mulai mengering untuk mencegah kerusakan lebih luas.
Lebak, IDN Times – Musim kemarau mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Lebak, Banten. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak mencatat sebanyak 372 hektare lahan persawahan di tujuh kecamatan mengalami kekeringan hingga pertengahan Juli 2026.
Meski demikian, pemerintah memastikan sebagian besar lahan masih bisa diselamatkan dan belum masuk kategori puso atau gagal panen.
1. Kecamatan Kalanganyar jadi wilayah terdampak terluas

Kepala Bidang Produksi Distan Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mengatakan kekeringan terjadi akibat menurunnya debit air di saluran irigasi tersier maupun sumber mata air, terutama pada sawah tadah hujan.
“Sudah mulai terdampak. Penurunan debit air mulai terjadi di saluran irigasi tersier maupun di sumber mata air, terutama di kawasan sawah tadah hujan. Tetapi ini belum merata di seluruh wilayah,” kata Dodi, Sabtu (18/7/2026).
Berdasarkan data Distan, Kecamatan Kalanganyar menjadi wilayah dengan area terdampak paling luas, yakni 227 hektare. Disusul Kecamatan Cipanas dan Rangkasbitung masing-masing 49 hektare, Cibadak 21 hektare, Muncang 17 hektare, Maja lima hektare, serta Warunggunung empat hektare.
2. Lahan didominasi rusak ringan

Dodi mengatakan kondisi lahan yang terdampak didominasi oleh kerusakan ringan hingga sedang, sehingga peluang panen masih cukup besar.
“Jadi masih ada peluang untuk diselamatkan,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak kekeringan, Distan telah menyalurkan 74 unit pompa air ke seluruh kecamatan, melakukan pendampingan kepada petani, serta memantau kondisi lahan secara berkala.
“Upaya penyelamatan sudah dilakukan melalui pompanisasi, tetapi dari total 372 hektare yang terdampak, baru sebagian kecil yang mendapat intervensi pompa. Ini menjadi tantangan besar mengingat luas dampaknya cukup signifikan,” katanya.
3. Petani diminta segera melapor jika sawah mulai mengering

Distan mengingatkan, ancaman kekeringan bisa semakin meluas apabila musim kemarau berlangsung hingga September. Kondisi itu dinilai berisiko mengingat Kabupaten Lebak memiliki lebih dari 21 ribu hektare sawah tadah hujan yang bergantung pada curah hujan.
Dodi meminta petani segera berkoordinasi dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) apabila mulai melihat gejala kekeringan.
“Kepada para petani, segera melapor ke petugas PPL setempat jika melihat gejala kekeringan. Optimalkan penggunaan air secara hemat dan bergilir, manfaatkan pompa air secara kolektif jika tersedia, gunakan varietas tahan kering, dan jangan memaksakan tanam jika debit air sangat minim,” pungkasnya.




















