Kepala Barantin Banten, Abdul Kadir Karding dan Gubernur Banten, Andra Sono melepas ekspor komoditi unggulan asal Banten (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Banten, Duma Sari mengungkapkan, penyebab kenaikan nilai ekspor Karantina Banten dari 2025 ke 2026 memang secara frekuensi tidak signifikan. Namun, ada perubahan nilai kemungkinan karena adanya lemahnya rupiah.
"Selain itu, terjadi peningkatan kualitas biosecurity serta efisiensi logistik melalui Kargo Bandara Soekarno-Hatta, serta yang terakhir kemungkinan ada peningkatan untuk ikan adanya ekspansi pasar ekspor yang semakin meningkat," jelasnya.
Sedangkan, untuk negara tujuan yakni China, Vietnam, Hong Kong, Singapura masih menjadi negara tujuan ekspor paling banyak. Sementara, ekspor tujuan Amerika Serikat juga mulai terlihat naik.
Duma menuturkan, ekspor Karantina Banten periode Januari sampai Agustus 2026 dibandingkan tahun 2025 pada Karantina Hewan terjadi kenaikan melonjak sebesar 37,21 persen dengan komoditas unggulan sarang burung walet, reptil, satwa liar, vaksin, kucing, dan anjing. Untuk Karantina Ikan, terjadi juga kenaikan pertumbuhan yang sangat luar biasa mencapai hampir Rp4 triliun, untuk tahun 2026 sehingga kenaikannya kurang lebih 279 persen atau menjadi sekitar empat kali lipat dibanding tahun 2025.
"Komoditas unggulan untuk ikan yakni ikan hias tawar, kepiting, koral, dan ikan hias air laut dan ikan hias air laut," jelasnya.
Sedangkan, untuk Karantina Tumbuhan secara frekuensi memang mengalami sedikit penurunan dari Januari sampai Agustus. Namun secara nilai juga mengalami peningkatan senilai 25,4 persen dengan lima komoditas unggulan berupa buah manggis, buncis, rambutan, hoya, salak.
"Tentu kenaikan nilai yang luar biasa ini membuktikan bahwa produk hewan, ikan, tumbuhan serta turunannya makin bernilai tinggi, kompetitif, dan diminati pasar internasional," jelasnya.