Ilustrasi gempa seismograf (IDN Times/Sukma Shakti)
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Tectonophysics edisi Juni 2026 melalui penelitian berjudul Investigating the Tectonic Activity of the Western Baribis Fault Segment: Implications for Active Deformation in Northwest Java.
Sesar Baribis dikenal sebagai bagian dari sistem sesar naik (back-arc thrust) yang memanjang di wilayah utara Pulau Jawa dan melintasi bagian selatan Jakarta.
Selama beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian berhasil mengonfirmasi bahwa segmen timur Sesar Baribis, mulai dari Jakarta ke arah timur, masih aktif secara seismik. Aktivitas tersebut menjadi pengingat bahwa wilayah yang berada di sepanjang jalur sesar memiliki potensi ancaman gempa bumi.
Namun, kondisi berbeda ditemukan pada segmen paling barat yang berada di wilayah selatan Serang atau wilayah bagian tengah Banten. Selama ini kawasan tersebut masih menjadi tanda tanya karena belum pernah dipetakan secara rinci menggunakan jaringan sensor gempa beresolusi tinggi.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti memasang tujuh seismometer bawah tanah (borehole seismometer) dan sembilan seismometer permukaan selama 10 bulan, mulai September 2024 hingga Juli 2025.
Hasil pengamatan menunjukkan tidak ditemukan aktivitas gempa lokal yang berkaitan dengan segmen paling barat Sesar Baribis selama masa penelitian. Temuan itu diperkuat dengan penelusuran katalog gempa selama sekitar 100 tahun terakhir yang juga tidak menunjukkan adanya aktivitas kegempaan signifikan di kawasan tersebut.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa kondisi “tenang” tersebut tidak dapat diartikan bahwa sesar telah mati atau tidak lagi berpotensi bergerak di masa depan.