Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anggaran Belanja Tenaga Ahli Pemprov Banten Terus Naik, Ini Besarannya

Anggaran Belanja Tenaga Ahli Pemprov Banten Terus Naik, Ini Besarannya
Ilustrasi rupiah yang menggambarkan penundaan kontribusi pembayaran Indonesia dalam proyek KF-21. (unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih

  • Anggaran belanja jasa tenaga ahli Pemprov Banten naik dari Rp38 miliar pada 2024 menjadi Rp55,47 miliar pada 2026, meski total APBD justru menurun dalam periode yang sama.
  • Kepala BPKAD Banten Mahdani menyebut pihaknya masih memverifikasi rincian anggaran karena kemungkinan ada komponen belanja lain yang tercampur dalam kelompok rekening tenaga ahli.
  • Belanja jasa tenaga ahli digunakan untuk mendukung penyusunan kebijakan, kajian teknis, konsultasi, penelitian, serta kebutuhan profesional yang belum tersedia di lingkungan ASN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Serang, IDN Times – Anggaran belanja jasa tenaga ahli di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten meningkat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan itu terjadi di tengah tren penurunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Banten sejak tahun 2024 - 2026.

Berdasarkan dokumen APBD Provinsi Banten, alokasi belanja jasa tenaga ahli terus bertambah setiap tahun. Di sisi lain, total nilai APBD mengalami penyusutan dalam periode yang sama.

1. Belanja tenaga ahli naik saat APBD terus menyusut

riwayat rupiah dari masa ke masa
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Data APBD menunjukkan anggaran belanja jasa tenaga ahli pada 2024 mencapai sekitar Rp38 miliar. Nilai tersebut meningkat menjadi Rp52,38 miliar pada APBD 2025 dan kembali naik menjadi Rp55,47 miliar pada APBD 2026. Secara kumulatif, anggaran belanja tenaga ahli bertambah lebih dari Rp17 miliar dalam dua tahun terakhir.

Sementara itu, kapasitas fiskal daerah bergerak sebaliknya. APBD Provinsi Banten turun dari Rp11,73 triliun pada 2024 menjadi Rp10,50 triliun pada 2025, lalu kembali menyusut menjadi Rp10,27 triliun pada 2026.

2. BPKAD mengaku masih memverifikasi rincian anggaran

ilustrasi rupiah
ilustrasi rupiah (Unsplash/Mufid Majnun)

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Banten, Mahdani mengaku masih melakukan pengecekan terhadap rincian belanja tersebut.

“Ini lagi saya cek dulu. Kok sampai Rp52 miliar, nanti saya cek dulu,” kata Mahdani, Selasa (21/7/2026).

Mahdani mengatakan masih perlu dipastikan apakah seluruh angka yang tercantum merupakan belanja jasa tenaga ahli. Menurutnya, ada kemungkinan sejumlah komponen belanja lain masih tergabung dalam kelompok rekening yang sama.

“Jangan-jangan ada yang tergabung ke situ. Biasa salah baca rekening. Misalnya aset, bensin, mobil, pajak juga ada yang masuk dalam satu rekening. Makanya itu lagi dipisah-pisah dulu,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan jika kebutuhan belanja tersebut memang telah direncanakan dan dibutuhkan organisasi perangkat daerah (OPD), maka tidak dapat serta-merta dilakukan pergeseran anggaran.

“Kalau memang benar butuh, ya enggak bisa kita lakukan pergeseran. Tapi sekarang lagi dicek dulu detailnya,” ucapnya.

3. Belanja tenaga ahli dipakai untuk dukung penyusunan kebijakan

ilustrasi rupiah
ilustrasi rupiah (pixabay.com/IqbalStock)

Belanja jasa tenaga ahli pada umumnya digunakan untuk mendukung penyusunan kebijakan, kajian teknis, konsultasi, penelitian, pendampingan program, hingga kebutuhan tenaga profesional yang belum tersedia di lingkungan aparatur sipil negara (ASN).

Share Article
Editorial Team

Latest News Banten

See More