Bahayakah Pembengkakan Tangan Setelah Operasi Kanker Payudara?

Pembengkakan pascaoperasi kanker payudara dapat berupa limfedema akibat aliran getah bening terganggu, terutama setelah pengangkatan kelenjar getah bening saat lumpektomi atau mastektomi.
Limfedema bukan kondisi langka; lebih dari 140 juta orang di dunia mengalaminya, dan 98 persen kasus limfedema lengan di negara maju terjadi setelah pengobatan kanker payudara.
Penanganan disesuaikan stadium: LVA untuk tahap dini, sedot lemak dan terapi tambahan pada kondisi lebih berat, termasuk kemungkinan pencangkokan kelenjar limfe.
Tangerang, IDN Times - Pasien kanker payudara yang baru saja menjalani operasi, kerap mengalami keluhan pembengkakan atau lymphedema pada lengan, tangan, dada, hingga ketiak.
Sara Ester Triatmoko, Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik dengan Subspesialis Bedah Mikro dan Onkoplasti Mandaya Royal Hospital Puri menjelaskan, pembengkakan tersebut bisa disebabkan dari penumpukan cairan getah bening yang terjadi akibat terganggunya sistem aliran limfatik pada tubuh yang umumnya dipicu oleh pengangkatan kelenjar getah bening saat pasien menjalani operasi kanker payudara, baik lumpektomi maupun mastektomi.
"Terputusnya atau terganggunya jalur alami aliran limfe menyebabkan cairan terperangkap di dalam jaringan tubuh, sehingga memicu pembengkakan di sisi area tubuh yang mendapat perawatan," tuturnya, Selasa (20/10/2026).
1. Gangguan kelenjar getah bening pasca operasi sebabkan cairan getah bening tak lancar

ilustrasi prosedur pembedahan kanker payudara (magnific.com/wavebreakmedia_micro) Tugas saluran atau kelenjar getah bening adalah untuk mengalirkan cairan kelenjar getah bening dari jaringan. Biasanya yang diangkut adalah bekas metabolisme yang berat, jadi bukan darah, tapi lemak, protein yang tinggi. Sehingga, cairan yang diangkut menjadi berat. Jika terjadi rembes ke kulit akibat limfedema, akan terlihat berbentuk bulat karena membawa lemak bukan darah.
"Bisa juga karena dari gangguan pembuluh darah vena kronis. Terkadang, kelenjar getah beningnya sendiri tidak rusak, tapi fungsinya terganggu. Itu juga bisa. Biasanya pada pasien-pasien dengan kanker ovarium," tuturnya.
2. Limpedema bukan penyakit langka

ilustrasi kanker payudara (magnific.com/kjpargeter) Sara Ester pun memastikan, limfedema ini bukan penyakit langka, karena lebih dari 140 juta di seluruh dunia hidup dengan limfedema.
"98 persen dari kasus limfedema lengan di negara maju terjadi setelah pengobatan kanker payudara," katanya.
Untuk itu, bentuk pengobatannya pun beragam hingga dipermudah seperti operasi plastik di Jepang dan Korea Selatan. Hal ini bisa dilakukan dengan bius lokal, dan pulang di hari yang sama dengan penanganan. "Jangan khawatir, di Korea, Jepang, itu operasi limfedema sudah seperti operasi lipatan mata, datang, operasi, pulang. Bius lokal karena banyak sekali pasien. Itu yang kami harapkan di sini. Semoga kualitas hidupnya bisa lebih baik," katanya.
3. Penanganan bisa dengan tindakan​ Bypass Limfatik atau Lymphaticovenular Anastomosis (LVA)

Ilustrasi penyandang kanker payudara (pexels.com/Michelle Leman) Di Rumah Sakit Mandaya Royal Puri terdapat Limfedema Center. Di bagian pusat perawatan pasien kanker, bisa diatasi semudah prosedur bedah mikro yang mengintegrasikan pembuluh limfatik langsung ke pembuluh darah vena kecil. Tindakan ini membuat jalur alternatif bagi cairan getah bening agar dapat mengalir kembali ke sirkulasi darah.
“Jadi kalau sangat dini, bisa (dilakukan) LVA saja. Saya mungkin perlu waktu 2-3 jam untuk buat sekitar 4 sayatan kalau masih stadium 1. (Tindakannya) cepat, keberhasilannya tinggi, setelah itu bisa main padel lagi, bisa main golf lagi, muat lagi cincinnya,"ujarnya.
Namun, jika stadium berada di sedang menuju berat, pilihannya tidak hanya LVA, karena sudah ada perubahan struktur yang tadinya lemak lembut jadi lemak yang sangat keras. Harus ada tindakan sedot lemak atau liposuction. "Kemudian kita tambahkan terapi lain, seperti pencangkokan kelenjar limfe dari bagian tubuh lain ke kelenjar yang terganggu,"katanya.
Pada pasien dengan limfedema sangat berat, Sara mengatakan akan dilakukan tindakan liposuction. Kelebihan kulit dibuang, dan disamakan kanan dan kiri tangannya.
"Terkadang, jika kondisi pasiennya bagus, bisa operasi lama, dokter juga masih mau memindahkan kelenjar limfe atau disebut pencangkokan, dari bagian tubuh lain ke kelenjar yang terganggu," pungkasnya.

















