Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Ibu Tidak Menyusui Lebih Berisiko Terkena Kanker Payudara?

Tangerang
4 min read
Benarkah Ibu Tidak Menyusui Lebih Berisiko Terkena Kanker Payudara?
Ilustrasi kanker payudara (Pexels.com/Anna Tarazevich)

  • Dokter onkologi menyebut riwayat kanker dalam keluarga, tidak menyusui setelah melahirkan, paparan rokok, serta pola makan dan olahraga tidak sehat dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
  • Banyak pasien datang saat kondisi sudah parah karena memilih pengobatan tradisional; penanganan pada stadium awal berpeluang menghindari pengangkatan seluruh payudara.
  • Deteksi dini nasional baru mencapai 16,19 persen; perempuan dianjurkan melakukan SADARI 7–10 hari setelah menstruasi dan segera ke rumah sakit bila menemukan benjolan atau perubahan tidak biasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times - Kanker payudara merupakan salah satu momok menakutkan khususnya bagi perempuan. Berdasarkan analisis data dari Pusat Observasi Kanker Global atau Global Cancer Observatory (Globocan) 2022, ditemukan jumlah kasus kanker di Indonesia meningkat hampir 40 persen.

Dokter Spesialis Bedah Onkologi Konsultan Eka Hospital BSD, Sonar Soni Panigoro mengungkapkan, kasus kanker payudara yang sulit tertangani tak lepas dari banyaknya mitos yang berkembang di masyarakat Indonesia.

"Kebanyakan pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah, payudara sudah rusak dan sudah ada luka terbuka," kata Sonar. Lalu, apa saja faktor penyebab munculnya kanker payudara?

  1. 1. Memiliki keluarga yang terkena kanker

    Dr. Sonar Soni Panigoro, dokter spesialis bedah onkologi konsultan di Eka Hospital BSD, dalam potret formal.
    Sonar Soni Panigoro, Dokter Spesialis Bedah Onkologi Konsultan Eka Hospital BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

    Salah satu faktor terbesar seseorang terkena kanker payudara, yakni adanya genetik. Di mana, terdapat keluarga yang terkena kanker jenis apapun, tidak harus kanker payudara.

    "Namun, kalau ada keluarganya yang terkena kanker payudara, itu lebih tinggi lagi risikonya untuk terkena kanker payudara," jelasnya.

  2. 2. Ibu melahirkan yang tidak menyusui lebih berisiko terkena kanker payudara

    Potret Sonar Soni Panigoro, dokter spesialis bedah onkologi konsultan di Eka Hospital BSD, saat berpose.
    Sonar Soni Panigoro, Dokter Spesialis Bedah Onkologi Konsultan Eka Hospital BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

    Sonar mengungkapkan, salah satu hal yang menjadi faktor perempuan lebih berisiko terkena kanker payudara yakni ibu melahirkan yang tidak menyusui. Risiko akan lebih tinggi jika perempuan tersebut juga memiliki genetik kanker dalan keluarganya.

    "Makanya perlu waspada dan lakukan pemeriksaan rutin jika memiliki dua faktor tersebut," kata Sonar.

    Selain faktor internal tubuh, salah satu faktor risiko kanker payudara yakni paparan zat berbahaya yang ada di dalam rokok. Zat tersebut, kata Sonar, meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker payudara, apalagi yang telah memiliki genetik kanker.

    "Juga gaya hidup tidak sehat seperti makanan tidak diatur juga tidak olahraga itu juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara," ungkapnya.

  3. 3. Mayoritas datang ke dokter saat kondisi parah

    ilustrasi kanker payudara
    ilustrasi kanker payudara (unsplash.com/Sasun Bughdaryan)

    Sonar menuturkan, salah satu penyebab terlambatnya penanganan kanker payudara lantaran banyak pasien yang mempercayai pengobatan tradisional. Padahal, tingkat kesembuhan kanker payudara bisa tinggi jika tertangani pada stadium 0 atau stadium 1.

    "Biasanya, begitu didiagnosis kanker payudara, pasien coba-coba pengobatan tradisional seperti minum jamu, pijat, dan balur ramuan-ramuan, padahal justru itu akan membuat pengobatan jadi terlambat," jelasnya.

    Pada awalnya, kata Sonar, pengobatan tradisional terasa berhasil lantaran perkembangan kanker payudara tidak langsung membuat pasien merasa sakit. Namun, setelah beberapa bulan barulah terlihat payudara yang semakin keras dan membiru bahkan timbul luka terbuka.

    "Kalau sudah begitu, akan sulit penanganannya, sudah pasti akan dilakukan masektomi atau pengangkatan keseluruhan payudara," ungkapnya.

    Jika diketahui pada stadium awal, penanganan bisa dilakukan dengan terapi non bedah untuk memperkecil benjolan, sebelum dibedah dan dikeluarkan. Proses tersebut tidak akan mengangkat keseluruhan payudara.

    "Kebanyakan pasien mengaku takut dioperasi, makanya memilih pengobatan tradisional, padahal kalau ukuran benjolan berhasil diperkecil, operasinya juga akan kecil sayatannya," katanya.

  4. 4. Masyarakat diimbau lakukan SADARI, ini caranya

    Ilustrasi payudara perempuan sebagai visual pendukung informasi mengenai kesehatan dan kondisi pada payudara.
    ilustrasi payudara (magnific.com/magnific)

    Selain itu, kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini juga masih rendah, terbukti dari data Kementerian Kesehatan pertanggal 30 September 2026, capaian deteksi dini nasional baru mencapai 16,19 persen, masih jauh tertinggal dari target Kementerian Kesehatan yang mematok angka 60 persen kasus ditemukan pada stadium awal. Padahal, terdapat cara mudah untuk deteksi awal yang bisa dilakukan di rumah, yakni Periksa Payudara Sendiri (SADARI). Bagaimana caranya?

    Lakukan SADARI saat 7 - 10 hari setelah hari pertama menstruasi. Lakukan pengamatan di depan cermin, lepas pakaian dan berdiri tegak dengan tangan lurus di samping tubuh (seperti posisi siap siaga). Perhatikan bentuk, warna kulit, ukuran, serta permukaan payudara apakah ada kerutan, lesung pipi, atau tekstur seperti kulit jeruk. Perhatikan juga puting apakah tertarik ke dalam.

    Selanjutnya, angkat kedua lengan ke atas atau letakkan tangan di belakang kepala, dorong siku ke depan dan kebelakang. Amati apakah ada perubahan kontur, tarikan kulit, atau bentuk payudara.

    Kemudian lakukan perabaan payudara secara mandiri dalam posisi berdiri dengan menggunakan tiga jari (telunjuk, tengah, dan manis) dari tangan kanan untuk memeriksa payudara kiri dan sebaliknya. Gunakan pola gerakan memutar (melingkar), dari atas ke bawah, atau dari tepi ke arah puting. Jangan lupa raba area ketiak untuk mencari adanya benjolan atau pembengkakan kelenjar getah bening.

    Tekan perlahan area puting menggunakan jari, perhatikan apakah ada cairan tidak biasa yang keluar seperti cairan bening, putih, kuning, atau darah.

    "Jika menemukan adanya benjolan yang keras dan tidak bertepi, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat," jelasnya.

    Bagi perempuan yang memiliki riwayat genetik kanker, lakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit sejak akil baligh minimal 2-3 tahun sekali. Prosesnya mudah dan tidak nyeri karena bisa dilakukan dengan USG payudara saja.

    "Karena saya pernah menemukan kasus kanker payudara pada remaja usia 18 tahun, jadi memang sebaiknya rutin check-up ke rumah sakit untuk yang risiko tinggi," pungkasnya.

Related Articles

See More