ilustrasi payudara (magnific.com/magnific)
Selain itu, kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini juga masih rendah, terbukti dari data Kementerian Kesehatan pertanggal 30 September 2026, capaian deteksi dini nasional baru mencapai 16,19 persen, masih jauh tertinggal dari target Kementerian Kesehatan yang mematok angka 60 persen kasus ditemukan pada stadium awal. Padahal, terdapat cara mudah untuk deteksi awal yang bisa dilakukan di rumah, yakni Periksa Payudara Sendiri (SADARI). Bagaimana caranya?
Lakukan SADARI saat 7 - 10 hari setelah hari pertama menstruasi. Lakukan pengamatan di depan cermin, lepas pakaian dan berdiri tegak dengan tangan lurus di samping tubuh (seperti posisi siap siaga). Perhatikan bentuk, warna kulit, ukuran, serta permukaan payudara apakah ada kerutan, lesung pipi, atau tekstur seperti kulit jeruk. Perhatikan juga puting apakah tertarik ke dalam.
Selanjutnya, angkat kedua lengan ke atas atau letakkan tangan di belakang kepala, dorong siku ke depan dan kebelakang. Amati apakah ada perubahan kontur, tarikan kulit, atau bentuk payudara.
Kemudian lakukan perabaan payudara secara mandiri dalam posisi berdiri dengan menggunakan tiga jari (telunjuk, tengah, dan manis) dari tangan kanan untuk memeriksa payudara kiri dan sebaliknya. Gunakan pola gerakan memutar (melingkar), dari atas ke bawah, atau dari tepi ke arah puting. Jangan lupa raba area ketiak untuk mencari adanya benjolan atau pembengkakan kelenjar getah bening.
Tekan perlahan area puting menggunakan jari, perhatikan apakah ada cairan tidak biasa yang keluar seperti cairan bening, putih, kuning, atau darah.
"Jika menemukan adanya benjolan yang keras dan tidak bertepi, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat," jelasnya.
Bagi perempuan yang memiliki riwayat genetik kanker, lakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit sejak akil baligh minimal 2-3 tahun sekali. Prosesnya mudah dan tidak nyeri karena bisa dilakukan dengan USG payudara saja.
"Karena saya pernah menemukan kasus kanker payudara pada remaja usia 18 tahun, jadi memang sebaiknya rutin check-up ke rumah sakit untuk yang risiko tinggi," pungkasnya.