Biopori Cara Walkot Tangsel Target Kurangi Sampah 100 Ton per Hari

- Satu rumah satu biopori dengan diameter lubang bervariasi
- Setiap kelurahan dilengkapi alat pembuat biopori untuk mempermudah warga
- Pemkot Tangsel optimalkan bank sampah dan TPS-3R untuk pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga
Tangerang Selatan, IDN Times — Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menargetkan pembuatan 10–20 ribu lubang biopori di rumah warga sebagai upaya menekan volume sampah organik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Melalui program tersebut, Benyamin optimistis sampah bisa berkurang hingga 100 ton per hari sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Saya sudah menggerakkan, mudah-mudahan 10 sampai 20 ribu lubang biopori se-Tangerang Selatan bisa dibuat di titik-titik rumah warga,” kata Benyamin, Selasa (3/2/2026).
1. Satu rumah satu biopori

Benyamin menjelaskan, setiap rumah dapat memiliki satu hingga beberapa lubang biopori, tergantung luas lahan. Diameter lubang juga bervariasi, mulai dari 10 hingga 20 inci.
“Kalau perlu dua atau tiga lubang biopori di masing-masing rumah. Itu tergantung luas lahan, diameternya ada yang 10 inci, 15 inci, sampai 20 inci,” ujarnya.
2. Setiap kelurahan miliki alat pembuat biopori

Menurut Benyamin, mesin pembuat lubang biopori juga sudah disiapkan di setiap kelurahan untuk mempermudah warga.
Selain biopori, Pemkot Tangsel juga mengoptimalkan peran bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS-3R) agar pengelolaan sampah organik bisa dilakukan langsung di tingkat rumah tangga dan lingkungan.
“Ke depan, dalam jangka waktu tertentu, sampah yang dibuang ke TPA Cilowong tidak sampai 400 ton. Mungkin tinggal separuhnya saja, karena masyarakat sudah bisa mengelola sampah masing-masing,” kata dia.

















