Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bocah di Tangerang Makan Semen dan Pasir Hingga Alami Gizi Buruk
IDN Times/Dok. Dinkes Kabupaten Tangerang

Kabupaten Tangerang, IDN Times - Seorang bocah laki-laki berinisial MR di Desa Pangkalan, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang memiliki kebiasaan aneh, yakni memakan semen dan pasir. Bocah laki-laki berusia 8 tahun tersebut sudah memiliki kebiasaan tersebut sejak umur tiga tahun lalu.

Jhani (42) sang ayah mengatakan, ia menyadari sang anak memiliki kebiasaan aneh tersebut setelah melihat kuku sang anak selalu kotor dengan pasir dan semen bekas mengorek tembok rumahnya.

"BAB (buang air besar)-nya juga tidak normal pada umumnya, cair dan ada semen dan pasirnya," kata Jhani, Senin (22/8/2022).

1. MR belum bisa berjalan meski sudah berusia 8 tahun

IDN Times/Dok. Dinkes Kabupaten Tangerang

Jhani menuturkan, hingga saat ini, anaknya yang keenam tersebut belum bisa berjalan, meski sudah menginjak usia 8 tahun. Pasalnya, tangan dan kaki MR sangat kurus hingga terlihat lunglai.

"Awalnya saya mikir penyakit biasa. Saya bawa ke puskesmas ternyata perkembangannya enggak normal," tuturnya.

2. Puskesmas setempat nyatakan MR kurang gizi

IDN Times/Dok. Dinkes Kabupaten Tangerang

Kepala Puskesmas Tegal Angus, Allan Sartana mengatakan, pihaknya telah memeriksa dan memantau kesehatan MR. Setelah diperiksa, MR didiagnosa mengalami gizi buruk.

"Kami sudah melakukan intervensi gizi melalui petugas gizi, dokter, dan bidan desa dengan melakukan rujukan ke RSU Tangerang dan RSUD Pakuhaji,” jelas Allan.

3. MR menderita berbagai penyakit yang mengganggu tumbuh kembangnya

IDN Times/Dok. Dinkes Kabupaten Tangerang

Allan menjelaskan, MR menderita berbagai penyakit yang mengganggu tumbuh kembangnya selama ini. Di mana, salah satunya lantaran kebiasaan memakan semen dan pasir tersebut.

"Yang bersangkutan memang menderita penyakit tuberkulosis paru dan anemia, itu yang membuat tubuhnya kurus dan lunglai," jelasnya.

Pihaknya pun bakal terus memantau perkembangan kesehatan MR, di mana pihaknya meminta orangtua MR untuk membawanya rutin kontrol satu minggu sekali.

"Kita juga sudah berikan obat-obatan, tapi tentuny faktor pengawasan dan perhatian orangtua juga sangat penting agar pengobatan bisa maksimal," kata Allan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article