Cuaca Buruk, 15 Pesawat Sempat Berputar-putar di Sekitar Bandara Soetta

- Penerbangan 16 pesawat dialihkan ke bandara alternatif
- Prosedur dijalankan karena jarak pandang di landasan di bawah 1.000 meter
- Seluruh prosedur sejalan dengan undang-undang yang berlaku
Tangerang, IDN Times - Cuaca buruk yang menyelimuti kawasan Jakarta dan Tangerang membuat penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) juga terganggu pada Senin (12/1/2026). Hal tersebut pun memaksa 15 pesawat harus holding dan berputar-putar di langit sekitar Bandara Soetta.
EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro mengungkapan, AirNav Indonesia telah melakukan sejumlah prosedur pengalihan hingga pembatalan pendaratan terhadap sejumlah penerbangan tujuan Bandara Soetta.
"Sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan, petugas ATC mengantur pesawat untuk untuk melakukan holding pada area atau pola holding yang ditetapkan. Durasi holding berkisar antara 40 menit hingga 1 jam," kata Hermana.
1. Penerbangan 16 pesawat juga harus dialihkan

Selain itu, tercatat 16 pesawat diarahkan untuk pengalihan pendaratan ke bandara alternatif (divert) ke bandara alternatif. Tujuan divert itu, yakni ke Palembang (2 pesawat), ke Semarang (3 pesawat), Halim Perdanakusuma (3 pesawat), Tanjung Pandan (1 pesawat), Pangkalpinang (1 pesawat), Solo (2 pesawat), Yogyakarta International Airport/YIA (4 pesawat), dan Jambi (1 pesawat).
Untuk diketahui, prosedur go-around (melakukan pembatalan pendaratan), holding, maupun divert, merupakan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan yang baku dan diterapkan apabila kondisi cuaca atau faktor operasional tidak memenuhi standar keselamatan. Kendati demikian, keputusan akhir tetap menjadi kewenangan pilot.
”Sementara petugas ATC memberikan informasi cuaca, kondisi lalu lintas, serta clearance sebagai rekomendasi guna memastikan separasi pesawat tetap aman,” tegasnya.
2. Prosedur dijalankan karena jarak pandang di landasan di bawah 1.000 meter

Ia menegaskan, langkah tersebut sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan yang harus dijalankan para petugas Air Traffic Controller (ATC) yang melakukan pemanduan. Langkah ini adalah bagian dari layanan navigasi yang harus kami lakukan, mengacu pada kondisi cuaca buruk yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan.
"Semua dilakukan berdasarkan aturan dan ketentuan, serta dengan satu alasan, yaitu utuk keselamatan penerbangan,” jelas Hermana.
Hermana merinci, perubahan pelayanan navigasi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta ini, khususnya terjadi pada periode pukul 05.00 - 10.00 WIB, ketika hujan dengan derasnya mengguyur wilayah bandara dan sekitarnya. Situasi tersebut menyebabkan peningkatan pergerakan pesawat yang go-around dan divert. Pada periode tersebut, jarak pandang (visibility) di semua landasan pacu yang ada di Soekarno-Hatta, tercatat berada di bawah 1000 meter, yang merupakan batas minimum prosedur pendaratan bagi pesawat.
"Kalau dipaksakan untuk terus mendarat, itu sangat membahayakan. Karena itu, kondisi ini mengakibatkan terjadinya penumpukan lalu lintas kedatangan (arrival traffic) di wilayah udara Jakarta,” ungkapnya.
3. Seluruh prosedur sejalan dengan undang-undang yang berlaku

Dia menambahkan, seluruh perosedur tersebut sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, serta regulasi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), termasuk Annex 2 dan Annex 6 dan CASR yang berlaku di Indonesia.
"Seluruh aturan tersebut menegaskan bahwa keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama dan Pilot in Command memiliki kewenangan mengambil keputusan demi keselamatan penerbangan," tuturnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, AirNav Indonesia melakukan manajemen lalu lintas penerbangan secara intensif melalui berbagai langkah, antara lain: penerapan ground delay di beberapa bandara keberangkatan untuk mengurangi kepadatan di wilayah udara Jakarta. Di sisi lain, juga dilakukan pengaturan interval keberangkatan guna menjaga ruang udara tetap aman dan terkendali, hingga melakukan koordinasi cuaca secara berkelanjutan dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) maupun pengelola bandara alternatif terkait kesiapan apron dan kapasitas penerimaan penerbangan divert.
”Sepanjang waktu, AirNav Indonesia terus memantau perkembangan cuaca dan lalu lintas penerbangan secara real-time. Ini adalah komitmen kami untuk memastikan pelayanan navigasi penerbangan yang diberikan dapat optimal, selamat, aman, dan andal, sekaligus meminimalisasi dampak operasional bagi maskapai dan pengguna jasa,” kata Hermana.

















