Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Haedar Nashir: Pers Harus Tetap Berani Sampaikan Kritik ke Pemerintah
Orasi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir (IDN Times/Muhamad Iqbal)
  • Haedar Nashir menegaskan pers berperan menjaga demokrasi dengan menyajikan informasi benar, berimbang, dan beragam, meski menghadapi tekanan industri serta kepentingan politik.
  • Ia menyatakan pemerintah, lembaga negara, TNI, Polri, dan institusi lain membutuhkan kritik media; kebebasan pers harus tetap berjalan bersama etika dan nilai luhur.
  • Haedar menilai kritik dari ormas, akademisi, dan media merupakan upaya memperbaiki bangsa, melalui keterbukaan, konstitusi, serta kebersamaan produktif untuk kemajuan Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang Selatan, IDN Times - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai pers memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan demokrasi dan mendorong kemajuan bangsa. Menurutnya, media harus tetap mampu menyampaikan informasi yang benar, berimbang, sekaligus kritik kepada pemerintah dan lembaga negara meski menghadapi tantangan industri dan kepentingan politik.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Orasi Kebangsaan bertema “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan” dalam rangka Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia UMJ Kampus B, Cirendeu, Kamis (13/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Haedar juga menerima kartu wartawan utama yang diberikan Dewan Pers. Ia mengaku memiliki rekam jejak sebagai wartawan di Majalah Suara Muhammadiyah serta pernah menulis di sejumlah media umum.

1. Pers harus menyajikan informasi berimbang

Haedar mengatakan, pers merupakan dunia yang nyata dan memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan informasi bagi masyarakat. Karena itu, prinsip cover both sides atau keberimbangan harus terus dijaga.

“Karena kita ingin menampilkan berbagai informasi, cover both sides, alternatif narasi, informasi yang bisa diterima masyarakat, yang benar, yang baik, dan memberi arah pada kehidupan bersama,” ujar Haedar.

Menurutnya, tugas tersebut tidak selalu mudah, terutama ketika pers telah berkembang menjadi industri dan bersinggungan dengan kepentingan politik.

“Ketika pers menjadi industri dan juga beririsan dengan politik, tidak selalu mudah. Seperti kita harus mengayuh di antara banyak karang,” katanya.

Meski demikian, Haedar meyakini insan pers memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk tetap menyajikan informasi terbaik kepada publik.

“Saya yakin dengan kecerdasan, dengan kepiawaian kita di dunia pers untuk tetap menyajikan informasi yang terbaik bagi masyarakat, bagi publik, sesulit apa pun kita akan bisa untuk menampilkan kebenaran,” ujarnya.

2. Pemerintah dan lembaga negara membutuhkan kritik media

Orasi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir (IDN Times/Muhamad Iqbal)

Haedar menilai, kritik dan masukan dari media bukan sesuatu yang harus dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah maupun lembaga negara.

Menurutnya, eksekutif, legislatif, yudikatif, lembaga penunjang negara, TNI, Polri hingga institusi lainnya tetap membutuhkan informasi dan kritik dari media massa.

“Karena hidupnya sebuah bangsa dan negara itu juga dari kritik, dari masukan, dari informasi yang beragam,” kata dia.

Ia menilai keterbukaan terhadap kritik justru dapat menjadi salah satu faktor yang membuat sebuah negara berkembang lebih baik.

“Tinggal kesadaran elite kita untuk mau terbuka, mau peduli, mau berbagi. Itu harus terus menjadi ekosistem kita di dunia pers,” ujarnya.

Namun, Haedar mengingatkan kebebasan pers juga harus berjalan beriringan dengan etika. Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang tetap perlu menjadi bagian dalam kerja jurnalistik.

“Semangat kita adalah semangat untuk menampilkan kebenaran, kebaikan, dan hal-hal yang penting untuk kepentingan bangsa dan negara,” katanya.

3. Kritik untuk kemajuan bangsa

Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar mengatakan, berbagai upaya yang dilakukan organisasi tersebut pada dasarnya diarahkan untuk kepentingan bangsa.

Ia berharap Indonesia dapat menjadi bangsa yang unggul dan mampu bersaing dengan negara-negara lain. Untuk mencapainya, kehidupan kebangsaan menurutnya harus ditata berdasarkan prinsip konstitusi dan kebersamaan yang produktif.

“Mari kita tata kehidupan kebangsaan ini sesuai dengan prinsip dasar konstitusi. Kemudian juga kebersamaan yang dibangun untuk sesuatu yang lebih produktif, bukan sekadar kebersamaan yang sifatnya simbolik,” katanya.

Haedar menyebut tantangan yang dihadapi Indonesia semakin berat sehingga membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.

Ia mencontohkan organisasi kemasyarakatan keagamaan, dunia akademik hingga pers yang memberikan kritik terhadap pemerintah, DPR, maupun lembaga hukum.

Menurutnya, kritik tersebut seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari upaya bersama untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ketika ormas keagamaan, ketika dunia akademik atau kampus, ketika dunia pers atau media memberi kritik terhadap langkah-langkah pemerintah, langkah-langkah DPR, langkah-langkah lembaga hukum, peradilan, dan sebagainya, semuanya itu kan ingin membawa bangsa ini menjadi lebih maju,” tuturnya.

Karena itu, Haedar mengajak seluruh elemen bangsa menempatkan kritik, keterbukaan dan keberagaman informasi sebagai bagian dari semangat membangun Indonesia.

“Di situlah harus diletakkan spirit kita untuk berbangsa, bernegara,” kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article