Serang, IDN Times - Kenaikan harga obat hingga 20 persen di Banten akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada pelayanan kesehatan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengakui kondisi tersebut memengaruhi pengelolaan stok dan penggunaan obat bagi pasien di rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan walau tidak semua harga jenis obat naik, tapi sebagian besar pasokan masih bergantung pada sistem impor.
“Kan kalau kita sekarang pembelian obat di rumah sakit itu terutama RSUD itu sudah konsolidasi, artinya satu payung arahan dari Kemenkes. Sejauh ini sih kenaikan belum seberapa, enggak semua rata 20 persen,” kata Ati, Kamis (25/6/2026).
Harga Obat di Banten Naik, Jatah untuk Pasien Ikut Terdampak

1. Berdampak pada pengolahan jatah obat
Menurut Ati, peningkatan harga obat menjadi tantangan bagi rumah sakit yang harus memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut juga berdampak pada pengelolaan jatah obat pasien sehingga diperlukan langkah efisiensi penggunaan obat.
Dinkes Banten meminta rumah sakit, khususnya RSUD, untuk memperkuat pendapatan melalui pengembangan layanan kesehatan agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pengadaan obat.
“Yang pasti bagaimana rumah sakit harus meningkatkan pelayanan agar dia mampu mendapatkan pendapatan. Ketika mendapatkan pendapatan otomatis dia mampu membeli obat itu,” ujarnya.
2. RS diminta kreatif agar dapat menutup biaya operasional
Ati menilai rumah sakit tidak bisa hanya mengandalkan target pendapatan yang selama ini ditetapkan. Pengembangan layanan dinilai menjadi langkah strategis agar rumah sakit mampu menutupi biaya operasional yang terus meningkat.
“Jadi harus kreatif pengembangan layanan, kalau dari target yang ada saja kita tidak cukup menutup,” katanya.
Untuk menekan beban pengeluaran, seluruh rumah sakit di Banten diwajibkan menggunakan obat yang masuk dalam Formularium Nasional. Kebijakan tersebut diterapkan agar penggunaan obat lebih efektif dan efisien.
“Banyak, tapi sekarang kita pakainya obat yang sesuai Formularium Nasional. Jadi bagaimana mengefektifkan, mengefisiensikan pengeluaran obat yang ada. Semua diseragamkan bagaimana rumah sakit biar bisa survive harus menggunakan formularium obat,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga menerapkan kendali mutu dan biaya melalui penerapan clinical pathway di setiap rumah sakit. Sistem tersebut mengatur standar terapi dan penggunaan obat berdasarkan jenis penyakit untuk mengurangi risiko pemborosan.
“Kita juga kendali mutu, kendali biaya, jadi clinical pathway yang harus dilaksanakan setiap rumah sakit. Jadi tidak ada pemborosan sehingga bisa berjalan efisien dan efektif,” katanya.
3. Juga berfampak terhadap alat kesehatan
Ati menambahkan, dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan pada sektor obat-obatan. Harga alat kesehatan, alat laboratorium, hingga bahan medis habis pakai juga mengalami kenaikan.
“Ya banyak, sudah pasti. Karena yang namanya alat kesehatan, alat laboratorium, obat-obatan, semua impor, hampir seluruhnya impor. Tentu ada dampaknya,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui peningkatan penggunaan produk farmasi dan alat kesehatan dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Bagaimana ketahanan kesehatan menggunakan produk dalam negeri,” katanya.