Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Indahnya Mawar Tak Seindah Omzet Pedagang di Sentra Bunga Rawa Belong

Pasar Bunga Rawa Belong
Pasar Bunga Rawa Belong (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Intinya sih...
  • Pandemik COVID-19 merenggut kejayaan pasar bunga Rawa Belong
  • Valentine menjadi angin segar, mawar jadi primadona dengan omzet Rp3 juta per hari
  • Mawar merah dan putih menjadi pilihan utama karena harganya terjangkau dan cocok dikombinasikan dengan bunga lainnya
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Merekahnya mawar nyatanya tak seindah pendapatan para pedagang di Sentra Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. Pusat jual beli berbagai macam jenis bunga tersebut jarang dilintasi pembeli, hanya satu dua orang yang melihat.

Pedagang hilir mudik membawa kumpulan bunga yang sudah dibungkus kertas putih di pundaknya. Tak terlihat sibuknya aktivitas tawar menawar layaknya pasar pada umumnya.

Hal tersebut diamini salah satu pedagang, Zhen Rose (27). Sepinya aktivitas perdagangan di pasar ini dirasakan sejak masa COVID-19 lalu. "Sekarang lebih banyak sepinya dari pada ramainya," kata Zhen saat ditemui IDN Times di lokasi, Senin (9/2/2026).

1. Pandemik COVID-19 seolah merenggut kejayaan pasar

Zhen Rose, salah satu pedagang di Pasar Bunga Rawa Belong
Zhen Rose, salah satu pedagang di Pasar Bunga Rawa Belong (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Saat memasuki pasar suasana ramai tak terasa. Hanya beberapa mobil dan motor saja yang terparkir di sekitarnya. Jika masuk ke dalam gedung, di lantai 1 terlihat hamparan berbagai macam dan warna warni bunga.

Meski terlihat sepi, para pedagang tetap merangkai untaian bunga, tangkai demi tangkai disatukan, mulai dari jenis yang sama seperti mawar berbagai warna, aster, krisan, hingga tulip yang berwarna warni layaknya kebun bunga cantik. Ada pula yang sedang merangkai kumpulan berbagai jenis bunga yang nantinya menjadi sebuah buket bunga indah yang siap diberikan ke orang terkasih.

"Pembelian sekarang sudah menurun, enggak tahu masalahnya apa, bisa buang banyak bunga busuk karena layu enggak dibeli," jelas Zhen.

Terlihat, beberapa plafon pasar ini pun mulai rontok dan bolong. Tak ada AC dalam gedung, tapi sirkulasi udara terasa baik dan tidak pengap. Sementara, di lantai dua, terlihat pegawai yang sedang merangkai karangan bunga pesanan pembeli. Sedangkan lantai tiga gelap, tak ada aktivitas jual-beli.

Padahal, pada masa jayanya sebelum COVID-19, ratusan kios pedagang di sentra pasar bunga di Jabodetabek berderet di pasar seluas 1,3 hektare ini. Tak main-main perputaran uang pun bisa mencapai miliaran rupiah.

"Dahulu, saya main di bunga impor, itu target ratusan juta sampai miliaran sebulan tercapai, sekarang? Ya main di lokal saja sudah sulit," kata Zhen sembari tertawa getir.

2. Pasar sepi pembeli sejak Covid-19

Pasar Bunga Rawa Belong
Pasar Bunga Rawa Belong (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Pasar Rawa Belong memiliki sejarah panjang, mulai dikenal sebagai tanah kelahiran Si Pitung, sang legenda Betawi yang merupakan pendekat silat ulung yang merampas harta orang kaya dan membagikannya pada kaum miskin pada masa penjajahan Belanda.

Dalam perjalanan waktu, wilayah Rawa Belong dijadikan kebun anggrek oleh warga Betawi. Tepat pada 25 Juli 1989, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto akhirnya mengubah lokasi itu menjadi Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawa Belong. Statusnya pun semakin kuat melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 113 Tahun 2002, di mana kawasan ini ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta. 

Oleh pemerintah, pasar ini dibagi ke dalam dua bagian besar, yakni Blok A dan Blok B yang menjual bunga segar serta Blok C yang menjual bunga plastik dan alat dekorasi.

Jatuh bangunnya pedagang memang hal yang biasa, namun kali ini, Zhen merasa sulit bangkit setelah COVID-19 melanda. Entah memang ekonomi masyarakat yang lesu, ataukah bunga tak lagi dianggap pengeluaran yang penting meskipun di momen-momen tertentu seperti Valentine.

"Waktu COVID kan memang banyak orang meninggal, lalu banyak juga orang yang ekonominya jatuh, mungkin yang biasanya mereka rutin beli bunga sekarang sudah engga mampu," ungkapnya.

Belum lagi, persaingan antar pedagang setelah masa COVID bukan lagi secara fisik di satu pasar saja, melainkan juga adanya sistem daring. Bunga dengan mudah dipasarkan dalam sekali jepretan kamera, pembeli bisa memesan dari mana saja tanpa harus ke pasar.

"Mungkin saat COVID orang sudah terbiasa beli online," ungkapnya.

Bukan tak mau berkembang, tapi Zhen mengaku dirinya sejak dahulu terbiasa berjualan langsung sehingga tak berminat untuk berjualan daring. Baginya, berjualan daring berarti harus membutuhkan lebih banyak sumber daya yang harus ia bayar.

"Kalau saya enggak main online karena sama aja banyak saingannya," katanya.

3. Valentine jadi angin segar, mawar jadi primadona

Pasar Bunga Rawa Belong
Pasar Bunga Rawa Belong (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Meski omzet miliaran tidak dikantongi, tapi Zhen memastikan Valentine jadi salah satu momentum angin segar bagi dirinya. Setidaknya omzet Rp3 juta per hari bisa digenggam.

"Biasanya kenaikan harga tiga kali lipat, kalau hari biasa mawar seikat Rp50 ribu, Valentine jadi Rp100-150 ribu, kalau yang satuan biasanya Rp5-10 ribu, jadi Rp10-20 ribu," ungkapnya.

Salah satu primadona penyokong penjualan jelang Valentine yakni mawar merah dan putih. Zhen mengaku, di era ekonomi lesu saat ini, perayaan hari kasih sayang yang mayoritas dilakukan oleh anak muda, mawar menjadi salah satu yang menarik lantaran harganya yang terjangkau dan pilihan warna serta jenis banyak, tak peduli musim apapun, stok mawar sudah pasti selalu ada.

"Mereka biasanya beli satuan, karena harganya mulai dari Rp10 ribu, kalau mau dihias-hias lebih mahal tapi tetap terjangkau," jelas Zhen.

Harumnya mawar saat Hari Valentine juga diakui Pedagang lainnya, Edi (37). Ia menuturkan, bunga Mawar juga salah satu bunga yang cocok dikombinasikan dengan berbagai macam bunga lainnya. Seperti bunga pikok, krisan, aster dan lain sebagainya.

"Biasanya orang-orang pesan buket bunga, mereka bisa pilih mau bunga apa saja, dikombinasikan, nanti harga sesuai dengan bunga yang dipilih," tuturnya.

Sebagai pedagang, tentunya salah satu harapan Edi adalah, pasar bisa seramai dahulu saat masa jayanya. "Semoga tetap jaya, semakin baik, jangan hanya 'begini-begini' saja," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Banten

See More

Cuaca Ekstrem, Pedagang Bunga di Pasar Rawa Belong Gigit Jari

15 Feb 2026, 13:27 WIBNews