Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Indonesia Perlu Melakukan Penelitian Klinis
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Tangerang, IDN Times - Penelitian belum menjadi perhatian di Indonesia. Padahal, penelitian klinis sangat dibutuhkan untuk menemukan berbagai jenis obat yang lebih cocok untuk kondisi pasien di Indonesia. Melihat hal tersebut, rumah sakit di Tangerang menggandeng Singapore Clinical Research Institute (SCRI) untuk mengadakan berbagai penelitian klinis, terapi pengobatan terbaru di dalam negeri.

“Penelitian klinis memiliki dampak yang luar biasa bagi masyarakat mulai dari membuka akses terhadap pengobatan-pengobatan baru, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta menghadirkan obat-obatan dan terapi inovatif,” kata Medical Managing Director Grup RS Siloam dr Grace Frelita Indradjaja.

1. Penelitian klinis bisa menemukan perawatan medis inovatif di Indonesia

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Penelitian klinis, lanjutnya, memungkinkan pasien mengakses terapi-terapi terbaru yang belum tersedia secara komersial. Banyak obat dan perawatan medis inovatif hanya dapat diperoleh melalui uji klinis, terutama saat pengobatan tersebut belum mendapatkan persetujuan regulasi di pasaran.

"Misalnya saja pengobatan kanker, imunoterapi atau terapi berbasis gen sering kali pertama kali diuji melalui uji klinis sebelum menjadi bagian dari standar perawatan," ungkapnya.

Pasien yang mengikuti penelitian klinis dapat memperoleh manfaat dari terapi-terapi baru ini lebih awal, yang bisa menjadi solusi bagi penyakit yang tidak memiliki pengobatan efektif sebelumnya.

"Kalau di luar negeri, uji klinis ini pasiennya antre yang mau. Karena kan dia menjalani pengobatan gratis, radiologi gratis, semuanya gratis," jelasnya.

2. Siloam telah menjalankan penelitian klinis di berbagai bidang

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Untuk terus menyamakan kemajuan dunia kesehatan dalam negeri dengan negara-negara maju lainnya, Clinical Research Siloam (CRS) telah menjalankan 14 proyek aktif dan 5 percobaan klinis di bidang pediatri, kedokteran nuklir, dan kanker yang diikuti oleh 69 partisipan.

Hal ini untuk mendorong Indonesia semakin dipandang di dunia kesehatan dunia. Sebab dalam sepuluh tahun terakhir, menurut Scientific Journal Rankings, peringkat Indonesia dalam hal jurnal yang diterbitkan meningkat secara signifikan ke posisi 19 dunia, dari sebelumnya di peringkat 54.

“Kami melihat hal ini sebagai peluang untuk melakukan perbaikan, terutama dalam struktur tata kelola, operasional penelitian, dan pengetahuan sumber daya manusia. Kami sangat antusias untuk bekerja sama erat dengan SCRI yang akan fokus pada pelatihan staf dan memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas uji klinis,” tambah Grace.

3. Membuka akses trial treatment di Indonesia

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Grace juga mengungkapkan, pihaknya baru memulai clinical research di Indonesia ini, sehingga Siloam harus banyak belajar dari negara-negara maju, terutama dari negara yang sudah lebih dulu memulai clinical research.

“Dengan clinical research ini, kita bisa menghasilkan ‘hasil’ untuk memberikan treatment kepada pasien yang lebih baik. Jadi betul-betul pengobatan antara pasien satu dengan pasien yang lainnya akan menjalani terapi yang berbeda, tergantung dari tipenya,” ungkap Grace.

Sebab selama ini, semua obat research dan medical trial-nya tidak pernah di Indonesia. Perusahaan besar di bidang pengobatan pun mulainya di Eropa atau Amerika. Banyak faktor yang memengaruhinya, satu di antaranya fasilitas research di dalam negeri tidak begitu memadai seperti negara-negara lain.

“Karena kan banyak faktor, contohnya, pasien kita dengan pasien di Eropa kan berbeda. Kalau bisa di-trial di Indonesia, akan sangat pas dan hasilnya pun bisa segera digunakan,” katanya.

4. Siloam bekerja sama dengan berbagai negara melakukan clinical research

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Grace pun memastikan, kerja sama dengan Singapura ini diharapkan akan bergulir terus menerus. Sebab menurutnya, ilmu kedokteran, medis ataupun pengobatan terhadap pasien akan terus terbarukan, tidak akan berhenti di satu masa ataupun satu tempat.

“Makanya kami kerja sama dengan berbagai negara. Misal negara ini kuat di bidang pengobatan apa, lalu negara ini kuat di mana, jadi kita haus dengan kemampuan dari negara-negara lain. Akan dipelajari dan dikembangkan di dalam negeri,” katanya.

Lalu, dengan menguji efektivitas obat dan prosedur baru, penelitian klinis membantu tenaga medis memahami apa yang bekerja paling baik untuk kondisi tertentu.

"Proses ini memungkinkan perawatan berbasis bukti yang lebih baik, meningkatkan standar keselamatan pasien, dan meminimalkan risiko pengobatan," tuturnya.

5. Pasien trial sudah ada

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Grace juga memastikan, bila pasien yang ikut serta dalam clinical research ini sudah ada, dan dipastikan aman untuk mengikutinya. Ada dokter juga yang bertanggung jawab atas pengobatan tersebut.

“Sudah ada beberapa, ya cukup banyak. Tentunya kita mengikuti kaidah-kaidah, peraturan dari Kementerian Kesehatan juga kita penuhi, lalu dari pasien juga ada persetujuannya, itu juga sudah dipenuhi,” tuturnya. 

Termasuk untuk penyakit-penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Seperti gastro atau pencernaan, demam berdarah, kanker, dan sebagainya.

Editorial Team

Related Article