Perundungan di SMPN 10 Tangsel, Genk The Ladies Berdalih Seru-Seruan

Dugaan perundungan di SMPN 10 Tangsel melibatkan “Genk The Ladies” yang mengumpulkan siswi kelas VIII di warung kopi untuk permainan, yang dinilai sekolah membahayakan.
Kasus terungkap setelah orang tua melaporkan siswi diduga dicekoki minuman racikan; sekolah mendata 13 siswi kelas IX dan 14 siswi kelas VIII terlibat.
Sejumlah siswi mengeluh sakit perut dan muntah, sementara 14 siswi sempat absen; sekolah berkoordinasi dengan dinas, PPA, dan polisi sambil memprioritaskan pembinaan.
Tangerang Selatan, IDN Times – Dugaan perundungan terhadap siswi SMP Negeri 10 Tangerang Selatan melibatkan kelompok yang menyebut diri sebagai Genk The Ladies. Kelompok tersebut diduga mengumpulkan siswi kelas VIII untuk mengikuti permainan yang disebut sebagai kegiatan seru-seruan.
Kepala SMPN 10 Tangsel, Kunardi mengatakan, kegiatan tersebut direncanakan sebelumnya. Para siswi disebut membuat janji untuk berkumpul di sebuah warung kopi di Jalan WR Supratman, Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur.
“Janjian di warkop mau mengadakan game seru-seruan. Walaupun secara sudut pandang saya itu sudah membahayakan,” ungkap Kunardi, Senin (26/10/2026).
1. Berawal dari laporan siswi dicekoki minuman

Ilustrasi Perundungan. IDN Times/ istimewa Kunardi mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (9/10/2026). Kasus terungkap setelah salah satu orangtua siswi kelas VIII melapor kepada pihak sekolah karena anaknya diduga dicekoki minuman racikan.
Mendapat laporan tersebut, sekolah melakukan pendalaman. Dua siswa kelas IX yang diduga sebagai peracik sekaligus pelaku dimintai keterangan dan mendapatkan pembinaan.
Pihak sekolah juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Tangsel terkait penanganan kasus tersebut. “Kemudian ketemulah angka 13 siswi kelas IX dan 14 siswi kelas VIII. Bagi saya karena kelas VIII dan IX juga anak didik kami akan tetap fokus melakukan pembinaan,” katanya.
2. Siswi mengeluh sakit perut

ilustrasi sakit perut (pexels.com/cottonbro studio) Sekolah juga memanggil orangtua siswi kelas VIII untuk mengetahui kondisi para siswa yang diduga menjadi korban.
Menurut Kunardi, sejumlah siswi mengeluhkan sakit perut setelah mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan, ada korban yang mengalami muntah.
“Korban perundungan sampai ada yang memuntahkan cairan. Mungkin karena salah satu cairannya kecap sehingga warna muntahnya agak kemerah-merahan,” ujar Kunardi.
Ia mengatakan dugaan muntah darah tidak dapat dipastikan oleh pihak sekolah karena membutuhkan pemeriksaan medis. “Itu barang kali itu yang dikira muntah darah. Wallahu alam yaa. Harus diagnosa kesehatan, kami kan enggak ngerti urusan itu,” sebutnya.
3. Sebanyak 14 Siswi sempat tak masuk sekolah
Dampak kejadian tersebut juga terlihat dari kehadiran siswa. Pada Senin (12/10/2026), tercatat 14 siswi tidak masuk sekolah. Jumlah tersebut kemudian berkurang pada hari berikutnya. Kunardi menyebut hanya tiga siswi yang tidak masuk sekolah karena sakit.
Kunardi mengatakan pihak sekolah telah meminta arahan dari Dinas Pendidikan dan Komisi II DPRD Kota Tangsel terkait penanganan kasus, sekaligus dengan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta kepolisian.
Langkah tersebut dilakukan untuk penanganan, pencegahan, dan rehabilitasi terhadap para siswa yang terlibat dalam kasus tersebut. Pihak sekolah menyatakan tetap memprioritaskan pembinaan karena seluruh siswa yang terlibat masih berstatus anak di bawah umur.





















