Tiga Prinsip Sukses Tanpa Privilege dari Jerry Hermawan Lo

- Jerry Hermawan Lo menegaskan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh privilege, melainkan hasil dari kerja keras dan tekad kuat sejak muda meski berasal dari keluarga sederhana.
- Dalam perjalanan kariernya, Jerry menekankan pentingnya pantang menyerah dan berani mengesampingkan rasa malu saat menghadapi penolakan atau tantangan dalam berjualan.
- Ia juga menilai kemampuan melihat peluang sebagai kunci sukses, terbukti dari keberhasilannya membangun bisnis furniture hingga properti besar di bawah JHL Group.
Tangerang, IDN Times - Kesuksesan merupakan impian setiap orang. Kesuksesan pun bukan sesuatu yang instan lantaran harus diraih dan diusahakan sejak usia muda. Pasalnya, kesuksesan merupakan salah satu hasil dari proses yang dijalani sepanjang hidup.
Namun, banyak yang bilang bahwa jika seseorang memiliki 'privilege' akan lebih mudah sukses dari pada yang tidak memilikinya, apakah benar?
Menurut Jerry Hermawan Lo, pengusaha properti di Tangerang, privilege sama sekali tidak menentukan kesuksesan seseorang. Pasalnya, dirinya yang datang dari ibu seorang pembuat kue dan nasi uduk sedangkan sang ayah penjual minyak tanah di Medan tetap bisa sukses.
"Menurut saya tidak, kesuksesan murni ditentukan oleh upaya diri sendiri untuk meraih kesuksesan itu," kata Jerry dalam peluncuran buku The Art of Simple Leadership di Episode Hotel Gading Serpong.
1. Kunci kesuksesan adalah tak mudah menyerah

Jerry mengungkapkan, dirinya lahir dari keluarga yang tidak memiliki privilege apapun. Bahkan, keluarganya tergolong miskin dan bukan keturunan dari pejabat.
Sedari kecil, Jerry memang telah memiliki semangat untuk berdagang, diawali dengan menjajakkan nasi uduk, kue pasar, hingga gorengan buatan sang ibu di Medan kepada pedagang-pedagang pasar.
Ia bertekad untuk sukses lantaran ingin mengubah nasib keluarganya, salah satu caranya dengan nekat berangkat ke Jakarta tanpa modal materi.
"Tidak semua orang Indonesia keturunan Chineese kaya. Yang saya bawa cuma tekad kuat untuk bisa merubah nasib keluarga," kata Jerry.
Ia mengungkapkan, setibanya di Jakarta, Jerry lantas menjadi sales sabun colek dari pintu ke pintu. Ia tak menyerah menawarkan produk sabun coleknya meski mendapat banyak penolakan.
"Namun karena saya punya modal enggak gampang menyerah, akhirnya saya bisa menjual banyak sabun colek saat itu hingga bisa jadi Kepala Sales Area," ungkapnya.
Saat ia telah sukses menjadi Kepala Sales Area di perusahaan sabun colek, ia lantas melihat peluang untuk membuat sendiri pabrik sabun colek. Namun, lantaran krisis dunia tahun 1998, membuat bahan baku sabun colek sangat mahal hingga ia harus memutar otak memikirkan bisnis lain.
"Saya lalu meminta istri dan ibu saya membuat resep kue kering, melalui beberapa percobaan hingga menemukan resep yang pas, dan saat saya mulai memasarkannya hingga disukai banyak orang," jelasnya.
2. Mengesampingkan rasa malu juga satu jalan menuju sukses

Jerry menegaskan, saat hendak melakukan sesuatu untuk menuju sukses, akan banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya datang dari diri sendiri, yakni rasa malu untuk melakukan sesuatu.
"Biasanya banyak yang jadi sales, terus malu buat nawar-nawarin produknya, itu harusnya jangan," kata Jerry.
Ia menuturkan, hal tersebut merupakan proses seseorang dalam meraih kesuksesan yang seharusnya dilakukan dengan gigih.
"Memang enggak akan 1 kali proses langsung melejit, pasti akan ada stagnan-nya," tuturnya.
3. Jika ingin sukses, pintar melihat peluang juga jadi jalan penting

Selain tak mudah menyerah, kunci lain dari kesuksesan adalah pintar melihat peluang. Jerry mengungkapkan, peluang bukan hanya datang kebetulan melainkan juga dicari.
Ia mencontohkan, saat dirinya sedang meminta seorang tukang kayu untuk membuat meja makan di rumahnya, ia melihat produk yang dihasilkan tukang tersebut sangat bagus.
Ia pun melihat peluang bisnis dari furniture tersebut dan mulai memasarkannya dengan nekat.
"Saya minta tukangnya buat 1 meja untuk contoh, lalu saya bawa keliling ke perumahan-perumahan, kalau ada yang lagi renovasi atau bangun rumah, saya datangi dan tawarkan untuk bikin furniturenya," ungkap Jerry.
Tak disangka, nyatanya pesanan cukup banyak yang datang dan ia pun bekerjasama dengan tukang untuk membuat pesanan-pesanan tersebut yang dilakukan di garasi rumahnya.
"Kalau sudah jadi, saya antar sendiri pakai gerobak," ungkap Jerry.
Hingga kini, bisnis furniture yang ia bangun sejak dari garasi telah memiliki pabrik yang mampu memproduksi ribuan produk perbulannya. Ia bahkan telah memiliki bisnis properti hotel dan mall di kawasan Gading Serpong, Bogor, hingga Bali JHL Group.
"Pabrik furnitur saya, juga saya gunakan untuk interior dari seluruh JHL Group," pungkasnya.


















