Serang, IDN Times - Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, dihentikan sementara setelah puluhan siswa dan guru SMAN 1 Padarincang diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Banten, Ichsan Rizqiansyah mengatakan, penghentian sementara dilakukan untuk evaluasi dan perbaikan operasional dapur.
“SPPG akan setop operasional sementara untuk memperbaiki menu dan sebagainya,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2026).
Puluhan Siswa-Guru Diduga Keracunan, SPPG Padarincang Disetop Sementara

1. BGN keluarkan surat penghentian sementara
Surat penghentian sementara atau suspend telah diterbitkan hingga masa yang belum ditentukan.
Berdasarkan data investigasi, kejadian berlangsung pada 20-21 Mei 2026. Sebanyak 59 siswa dan 12 guru SMAN 1 Padarincang dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, pusing, perut mulas, hingga diare.
"Dari jumlah tersebut, empat orang sempat menjalani perawatan di Puskesmas Padarincang dan satu orang dirawat inap di RS Bhayangkara Serang," katanya.
2. Dugaan sementara penyebab siswa dan guru alami keracunan
Menu MBG yang dikonsumsi siswa pada Rabu (20/5/2026) terdiri dari nasi liwet, telur dadar, tumis sawi putih dan jagung, susu UHT, serta pisang. Sedangkan pada Kamis (21/5/2026), menu yang diberikan berupa nasi putih, ayam geprek, tahu goreng, lalapan timun dan selada, serta apel.
Hasil investigasi sementara menyebutkan kejadian mengarah pada konsumsi menu hari Rabu, tapi belum diketahui secara pasti hidangan yang menjadi penyebab.
Dari hasil pemeriksaan lapangan, dugaan sementara keracunan dipicu cara penyimpanan makanan di sekolah. Ompreng atau wadah makanan disebut diletakkan di lantai teras sekolah dan terkena paparan sinar matahari langsung sebelum dikonsumsi siswa.
Selain itu, jarak waktu distribusi dan konsumsi makanan dinilai terlalu lama. Makanan didistribusikan sekitar pukul 09.00 WIB, dan baru dikonsumsi pukul 11.30-13.00 WIB.
“Hasil dugaan sementara dari diskusi dengan petugas Puskesmas Padarincang, faktor kejadian diduga karena tempat penyimpanan ompreng terkena sinar matahari langsung dan jeda waktu konsumsi yang terlalu lama,” katanya.
3. SPPG Padarincang belum memiliki SLHS
Hasil investigasi juga disebutkan, dapur SPPG dalam proses pembuatan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, masih ditemukan sejumlah kekurangan sarana dan prasarana, termasuk sistem IPAL yang belum memenuhi standar.
"BGN merekomendasikan sejumlah perbaikan, di antaranya penguatan SOP penyortiran bahan baku, peningkatan pengawasan saat pemorsian dan distribusi, penambahan etiket waktu makan pada ompreng, hingga peningkatan fasilitas sanitasi operasional dapur," katanya.