Puluhan Siswa SMAN 1 Padarincang Diduga Keracunan MBG, 2 Dirujuk ke RS

- Puluhan siswa SMAN 1 Padarincang di Serang diduga keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis, dengan gejala mual, muntah, sakit perut, dan diare.
- Kepala Puskesmas Padarincang mencatat total 32 siswa mendapat penanganan medis sejak Rabu hingga Sabtu, sebagian diinfus dan sebagian lainnya cukup diberi obat karena kondisi membaik.
- Dua siswa dirujuk ke RS Bhayangkara dan RS Arafiq untuk perawatan lanjutan, sementara puskesmas menduga penyebabnya berasal dari makanan yang dikonsumsi para siswa.
Serang, IDN Times – Puluhan siswa SMAN 1 Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa mengalami gejala mual, muntah, sakit perut hingga diare dan harus mendapat penanganan medis di Puskesmas Padarincang.
Peristiwa itu diketahui dari video yang beredar luas di grup warga Padarincang, memperlihatkan sejumlah siswa terbaring lemas saat menjalani perawatan di puskesmas.
Kepala Puskesmas Padarincang, Uni Suhada membenarkan adanya puluhan siswa yang datang dengan keluhan serupa sejak Rabu (20/5/2026).
“Iya betul, banyak siswa yang mengeluh datang ke puskesmas mulai hari Rabu, Kamis sampai Sabtu,” katanya saat dikonfirmasi, Minggu (24/5/2026).
1. Ada 32 orang yang diduga keracunan

Ia menyebut total ada 32 siswa yang datang untuk mendapatkan penanganan medis. Sebagian besar merupakan siswa SMAN 1 Padarincang.
“Total sebanyak 32 siswa yang datang ke puskesmas kami, rata-rata mereka dari SMAN 1 Padarincang,” ujarnya.
Menurut Uni, pihak puskesmas langsung melakukan observasi terhadap para siswa. Sebagian pasien mendapat cairan infus, sementara lainnya hanya diberi obat karena kondisinya membaik.
“Di puskesmas kita lakukan observasi, kita infus, ada juga yang hanya kita kasih obat lalu sembuh. Semua keluhannya sama, mual, muntah, sakit perut, diare,” ungkapnya.
2. Dua orang dirujuk ke RS

Dari puluhan siswa tersebut, dua orang harus dirujuk ke rumah sakit karena membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Ada dua pasien yang setelah kita lakukan observasi ternyata butuh penanganan lanjutan, akhirnya kita rujuk ke RS Bhayangkara satu pasien dan RS Arafiq satu pasien,” katanya.
Hingga kini, kata Uni, pasien yang datang masih didominasi siswa sekolah. Belum ada laporan dari kelompok masyarakat rentan seperti ibu hamil maupun warga lainnya.
“Sampai saat ini yang datang masih siswa sekolah, belum ada masyarakat rentan atau ibu hamil yang mengeluh. Kami mengimbau jika masyarakat rentan mengeluh segera laporkan ke pihak puskesmas atau RS,” ucapnya.
Pihak puskesmas menduga keluhan para siswa berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi sebelumnya.
“Iya, dugaan sementara karena makanan yang dikonsumsi siswa,” pungkasnya.

















