Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Puluhan Siswa SMPN 8 Tangsel Kena Cacar Air
ilustrasi cacar air (commons.wikimedia.org/Jonnymcgullagh)

Tangerang, IDN Times - Penularan virus cacar air dan gondongan yang menimpa puluhan siswa di SMPN 8 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berawal dari adanya siswa yang sakit namun tetap masuk sekolah, karena ingin mengikuti ujian tengah semester (UTS).

“Awalnya ada siswa yang sakit cacar dan gondongan masuk sekolah, karena harus ikut UTS tanggal 23 hingga 27 September 2024. Yang sakit itu siswa kelas 7,” ungkap Kepala Sekolah SMPN 8 Kota Tangsel, Muslih, Sabtu (26/10/2024).

1. UTS menggabungkan siswa kelas 7, 8, dan 9

ilustrasi ruam kulit (freepik.com/freepik)

Lalu pada saat ujian tersebut, peserta atau siswa dicampur antara kelas 7, 8 dan 9 atau seterusnya pada satu kelas. Sehingga diduga, penularan terjadi pada saat ujian tersebut berlangsung. Setelah selesai ujian tengah semester tersebut, siswa masuk sekolah seperti biasa, melakukan kegiatan belajar mengajar di kelasnya masing-masing. 

"Pada saat itulah pihak sekolah menyadari, banyak siswa yang izin tidak masuk sekolah dengan alasan sakit," ungkapnya.

Kemudian, sekolah membuat imbauan kepada orangtua siswa dan para siswa, jika terdapat siswa yang sakit, diimbau untuk tidak masuk sekolah. Istirahat dulu di rumah, sampai benar-benar sembuh. 

"Tapi tetap, siswa yang izin tidak masuk sekolah semakin banyak,”ungkapnya.

2. Siswa tak masuk sampai ratusan orang

ilustrasi seseorang dirawat di rumah sakit (unsplash.com/engin akyurt)

Hingga akhirnya karena banyak siswa yang tidak masuk sekolah karena izin sakit, siswa berinisiatif membuat rekapan berapa siswa yang tidak masuk setiap harinya. Mulai dari tanggal 11 Oktober, siswa tidak masuk mencapai 98 orang, dengan rincian sakit sebanyak 73 orang, 22 orang izin dan tanpa keterangan 3 orang.

Lalu pada 15 Oktober 2024 siswa yang tidak masuk sekolah semakin banyak, yakni 102 siswa tidak masuk sekolah karena sakit, 13 siswa izin, dan 2 siswa tidak masuk tanpa keterangan. 

“Karena siswa yang sakit semakin banyak, akhirnya kami melaporkan kondisi itu ke Puskesmas Kranggan yang menjadi Puskesmas rujukan sekolah kami,”ujar Muslih.

Hingga akhirnya petugas Puskesmas Kranggan meminta pihak sekolah untuk menanyakan atau mendata ulang kepada siswa yang sakit, mengenai sakit apa yang diderita, apa saja gejalanya dan bagaimana keadannya.

3. Didapati siswa terkena cacar air dan gondongan

ilustrasi ruam kulit (freepik.com/freepik)

Dari sanalah keluar data, bahwa mayoritas siswa yang sakit dan tak masuk sekolah lantaran menderita cacar air serta gondongan. 

“Cacar air dan gondongan sebanyak 43 siswa, sisanya batuk, pilek dan demam sebanyak 59 orang,”kata Muslih.

Sebelum keluarnya data jumlah anak yang menderita cacar air dan gondongan, Muslih mengaku pihak sekolah sempat meliburkan anak-anak untuk melakukan penyemprotan cairan disinvektan ke seluruh sekolah. Yakni pada Senin, 14 Oktober 2024. 

“Saat itu sekolah dilakukan secara online atau Pelajaran Jarak Jauh (PJJ). Lalu, saat laporan sudah kami terima, pada Kamis, 17 Oktober 2024, kami lakukan penyemprotan disinvektan kembali,”katanya.

Hingga akhirnya, Kepala Puskespas Kranggan, membuat surat imbauan kepada sekolah untuk melakukan PJJ atau belajar secara online selama 14 hari. 

"Yakni, terhitung Kamis, 17 Oktober 2024 hingga 31 Oktober 2024," jelasnya.

4. Para siswa yang terkena cacar air berangsur membaik

ilustrasi anak flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Hingga kini, sudah sepekan PJJ dilakukan, sekolah tetap memantau perkembangan pemulihan siswanya. Terakhir, kondisi pada Jumat 25 Oktober 2024, siswa yang cacar tinggal 15 orang, sementara gondongan sudah tidak ada.

“Setiap hari kami pantau perkembangan siswa. Minggu depan kami akan buat zoom meeting dengan seluruh orangtua siswa, dengan dokter dari Puskesmas Kranggan, agar mencegah penyakit ini terulang kembali,” ujarnya.

Editorial Team

Related Article