Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Stasiun Rawa Buntu, Perhentian Sepi Jadi Simpul Sibuk Para Penglaju
Stasiun Rawa Buntu di tahun 2026 (IDN Times/Muhamad Iqbal)
  • Stasiun Rawa Buntu awalnya dibangun pada era Hindia Belanda sebagai bagian dari proyek Jalur Banten untuk memperlancar distribusi hasil bumi dari wilayah selatan Karesidenan Banten menuju Batavia.
  • Pada masa awal operasinya, Rawa Buntu hanya berstatus stopplaats atau perhentian kecil di tengah perkebunan dan persawahan, dengan aktivitas kereta yang sangat terbatas.
  • Seiring waktu, stasiun ini berevolusi menjadi simpul transportasi penting setelah elektrifikasi jalur Tanah Abang–Serpong pada 1990-an, menjadikannya salah satu titik mobilitas utama di Tangerang Selatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang Selatan, IDN Times – Setiap pagi dan sore, peron Stasiun Rawa Buntu dipenuhi ribuan penumpang yang hilir mudik menuju Jakarta maupun kawasan penyangga lainnya. Stasiun yang berada di jantung kawasan BSD, Serpong, itu kini menjadi salah satu titik mobilitas penting di Tangerang Selatan. Namun, siapa sangka, lebih dari seabad lalu Rawa Buntu hanyalah sebuah perhentian kecil kereta api yang identik dengan suasana sepi di tengah bentang pedesaan Banten.

Stasiun Rawa Buntu merupakan stasiun kereta api kelas III yang berada di Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan. Letaknya yang berdekatan dengan kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) dan akses Tol Jakarta-Serpong menjadikannya salah satu stasiun favorit para komuter saat ini.

1. Dibangun sebagai bagian dari proyek Jalur Banten era Hindia Belanda

Peta Jalur Kereta dan rencana jalur Kereta Api Jakarta, Bogor dan Banten pada masa Hindia Belanda (IDN Times/Muhamad Iqbal)

Sejarah Stasiun Rawa Buntu tak bisa dilepaskan dari pembangunan jalur kereta api yang dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Saat itu, perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), membangun proyek Bantam Lijn atau Jalur Banten untuk memperlancar distribusi hasil bumi dari wilayah selatan Karesidenan Banten menuju Batavia.

Rencana pembangunan jalur tersebut bahkan sempat diberitakan dalam surat kabar berbahasa Belanda Java Bode edisi 19 Mei 1896. Dalam laporan itu disebutkan bahwa parlemen Belanda menyetujui tambahan anggaran untuk pembangunan jalur kereta yang menghubungkan Batavia hingga Anjer (Anyer), termasuk percabangan menuju Tangerang dan Weltevreden.

"Sebuah rancangan undang-undang untuk bagian ini telah masuk ke Tweede Kamer (Dewan Perwakilan Rakyat di Den Hag). Dalam memorandum penjelasannya, Menteri menekankan bahwa beberapa tahun lalu Residensi Banten telah dilanda berbagai bencana berturut-turut. Selain itu, wilayah ini berada dalam keadaan kemunduran yang memberikan pengaruh merugikan baik secara material maupun spiritual terhadap penduduknya. Pemerintah telah lama menyadari pentingnya membangun jalur kereta api di wilayah ini untuk membantu penduduknya yang tertinggal dalam banyak hal. Staten-Generaal, yang telah menyetujui dana untuk survei awal dalam anggaran Hindia 1892, juga telah beberapa kali menunjukkan minat mereka terhadap realisasi proyek ini," tuis Java Bode dalam laporannya.

Dari proyek inilah lahir sejumlah stasiun di sepanjang lintas Tanah Abang-Rangkasbitung, termasuk Stasiun Rawa Buntu yang masih bertahan hingga sekarang.

2. Awalnya hanya berstatus stopplaats atau perhentian kecil

Meski kini ramai, pada masa awal operasinya Stasiun Rawa Buntu hanya berstatus stopplaats, yakni perhentian kecil kereta api yang berada di bawah status halte maupun stasiun.

Keberadaan Rawa Buntu sebagai stopplaats dapat ditemukan dalam peta tahun 1902 yang tersimpan dalam koleksi digital Universitas Leiden. Saat itu, kawasan sekitar stasiun masih didominasi lahan perkebunan karet pemerintah Hindia Belanda, persawahan serta permukiman yang tersebar berjauhan.

Status sebagai perhentian kecil membuat aktivitas di stasiun ini jauh berbeda dibandingkan saat ini. Kereta hanya berhenti seperlunya.

3. Pernah punya rel cabang menuju Sungai Cisadane

Salah satu fakta menarik dari sejarah Stasiun Rawa Buntu adalah keberadaan jalur rel cabang yang kini sudah tidak tersisa.

Berdasarkan peta Kebajoran tahun 1934 koleksi Universitas Leiden, terdapat percabangan rel dari Stasiun Rawa Buntu menuju tepian Sungai Cisadane melalui kawasan Cilenggang dan bagian utara Kali Jeletreng.

Jalur tersebut digunakan untuk mengangkut berbagai material bangunan seperti pasir, batu, dan koral yang diambil dari bantaran Sungai Cisadane. Material itu kemudian didistribusikan menggunakan kereta api ke berbagai wilayah.

Rel cabang tersebut bahkan disebut berperan dalam memasok material pembangunan sejumlah proyek besar pada era awal kemerdekaan, termasuk pembangunan kawasan Kebayoran Baru dan kompleks Gelora Bung Karno di Jakarta.

Jalur itu masih bertahan hingga sekitar dekade 1980-an sebelum akhirnya dibongkar.

4. Bertransformasi menjadi stasiun komuter modern

Memasuki awal 1990-an, lintas Tanah Abang-Serpong mulai memasuki babak baru. Pada periode 1992–1994, jalur tersebut dielektrifikasi dengan pemasangan Listrik Aliran Atas (LAA) model Prancis untuk mendukung operasional KRL Serpong Ekspres, yang kemudian menjadi cikal bakal layanan KRL Green Line saat ini.

Kini, lebih dari satu abad sejak dibangun, Stasiun Rawa Buntu telah bertransformasi dari sebuah stopplaats sunyi menjadi salah satu simpul transportasi terpenting di Tangerang Selatan.

Editorial Team

Related Article