Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Terbelah soal SMPN 25 Tangsel, Spanduk Dukungan Bertebaran
Warga Terbelah soal SMPN 25 Tangsel, Spanduk Dukungan Bertebaran (Dok. IDN Times/Bocor)
  • Penolakan sebagian warga RW 16 terhadap pembangunan SMPN 25 Tangsel memicu dukungan dari RW lain, ditandai spanduk di jalan utama Perumahan Bukit Nusa Indah.
  • Ketua RW 17 Yanofri mendukung proyek demi akses pendidikan negeri yang murah, dekat, dan berkualitas, serta meminta dialog dengan Pemkot Tangsel dan warga penolak.
  • Lima RW menyepakati dorongan percepatan proyek melalui surat kepada wali kota; warga menilai sekolah baru dapat memperluas peluang pendidikan negeri serta menghemat biaya dan waktu perjalanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang Selatan, IDN Times - Penolakan sebagian warga RW 16 Perumahan Bukit Nusa Indah terhadap pembangunan gedung SMPN 25 Tangerang Selatan (Tangsel) mulai memicu reaksi dari warga RW lainnya.

Spanduk dukungan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel segera melanjutkan pembangunan sekolah tersebut kini bertebaran di sejumlah jalan utama di kawasan perumahan.

Ketua RW 17 Perumahan Bukit Nusa Indah, Yanofri, mengatakan dirinya sejak awal mendukung pembangunan SMPN 25. Menurutnya, keberadaan sekolah negeri tersebut berkaitan langsung dengan pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

1. Warga ingin akses sekolah negeri lebih dekat

Yanofri mengatakan, dukungan terhadap pembangunan SMPN 25 bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan demi kepentingan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.

“Saya berempati kepada warga-warga kami yang berharap ada pemerataan akses pendidikan yang murah, dekat, dan berkualitas untuk masa anak-anak serta cucu kami. Jadi wajar saat ini saya mendukung,” tegas Yanofri.

Dia juga menyayangkan sikap sebagian warga RW 16 yang menolak pembangunan dan dinilai belum memberikan ruang dialog dua arah dengan Pemkot Tangsel.

Menurutnya, dialog diperlukan agar persoalan pembangunan sekolah dapat dicari jalan keluarnya tanpa mengorbankan kebutuhan pendidikan masyarakat.

2. Soroti sikap warga yang menolak pembangunan

Warga Terbelah soal SMPN 25 Tangsel, Spanduk Dukungan Bertebaran (Dok. IDN Times/Bocor)

Yanofri menilai, terdapat hal yang perlu dijelaskan terkait penolakan pembangunan gedung baru SMPN 25.

Pasalnya, menurut dia, lahan tersebut sebelumnya memang telah digunakan untuk bangunan sekolah. Dia mempertanyakan sikap warga yang sebelumnya menyetujui pembongkaran gedung sekolah lama, tetapi kemudian menolak pembangunan gedung baru.

“Lahan yang direncanakan dibangun kan bukan lahan kosong, memang awalnya sudah gedung sekolah. Masa pembongkaran bangunan sekolah lama disetujui warga, tapi pas mau dibangun lagi malah ditolak,” ujarnya.

Yanofri berharap kondisi tersebut tidak menimbulkan prasangka di tengah warga. Dia meminta seluruh pihak membuka ruang komunikasi agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik antarwarga.

3. Lima RW dorong proyek segera dilaksanakan

Yanofri mengatakan, dirinya bersama empat ketua RW lainnya di Perumahan Bukit Nusa Indah telah membuat kesepakatan untuk mendorong pelaksanaan pembangunan gedung SMPN 25.

Dukungan, kata dia, juga datang dari sejumlah RW dan RT di luar kawasan perumahan. Bahkan, warga berencana memasang spanduk dukungan di sejumlah akses jalan utama.

“Banyak RW lain juga mendukung. Kami sudah membuat tanda tangan bersama RW dan RT serta warga. Nanti surat ini akan kami serahkan ke wali kota untuk menjadi dasar Pemkot Tangsel menyegerakan proses pembangunan gedung sekolah,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua RT 06/RW 015, Pramono Subekti, menilai pembangunan sekolah negeri di kawasan tersebut dapat memberikan sejumlah manfaat bagi warga.

Menurutnya, keberadaan sekolah yang lebih dekat dapat membuka peluang akses pendidikan negeri bagi anak-anak sekaligus mengurangi beban biaya dan waktu perjalanan.

“Kalau ada sekolah baru kan membuat anak-anak di wilayah kita lebih berpeluang diterima di sekolah negeri. Apalagi bisa irit biaya juga dan kita gak terlalu was-was karena jarak sekolah lebih dekat,” ungkap Pramono.

Dia berharap warga RW 16 yang menolak pembangunan dapat kembali membuka ruang dialog dengan Pemkot Tangsel.

“Harus dibuka ruang dialog yang lebih sejuk, bukan penuh tegang, agar apa yang semua orang harapkan, orang tua harapkan, bisa berjalan baik dan terakomodir,” tutupnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article