Air Sungai Ciujung Menghitam, Petani Merugi hingga Usaha Warga Tutup

- Air Sungai Ciujung berubah hitam, berbusa, dan berbau menyengat hingga membuat tanaman petani di Kabupaten Serang membusuk serta menimbulkan kerugian besar.
- Pencemaran sungai juga memukul pelaku usaha kecil di sekitar bantaran, seperti tempat cuci motor yang terpaksa tutup karena air tak layak digunakan.
- Pemerintah Provinsi Banten berjanji menelusuri sumber pencemaran dengan memeriksa kondisi lapangan dan memanggil Dinas Lingkungan Hidup untuk memberikan penjelasan resmi.
Serang, IDN Times - Pencemaran Sungai Ciujung yang ditandai air berwarna hitam, berbusa, dan berbau menyengat mulai dikeluhkan petani di Kabupaten Serang. Kondisi tersebut diduga berdampak pada lahan pertanian yang mengandalkan aliran sungai sebagai sumber irigasi.
Roni (58), buruh tani di Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, mengaku air Sungai Ciujung yang tercemar masuk ke area persawahan warga.
1. Tanaman membusuk, petani merugi

Menurut Roni, kondisi air yang memburuk membuat tanaman yang terletak di sekitar bantaran sungai kerap busuk. Petani pun mengalami kerugian.
“Sudah dirugikan oleh tanaman, baunya menyengat ke mana-mana. Ya tahulah baunya seperti apa,” kata Roni, Selasa (23/6/2026).
Ia mengaku warga tidak lagi berani memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari karena khawatir dengan kualitas air yang semakin buruk.
“Jangankan buat mandi, cuci tangan saja enggak berani. Waktu kemarin airnya masih bagus, diminum juga masih bisa tapi begitu saya ambil buat dimasak seduh kopi, batuk saya enggak berhenti-berhenti,” ujarnya.
2. Pelaku usaha di sekitar sungai Ciujung juga terdampak

Selain petani, dampak pencemaran juga dirasakan pelaku usaha di sekitar bantaran sungai. Ahmad Khotib, pekerja cuci steam motor di Kampung Jongjing, Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara, mengaku tempat usahanya terpaksa tutup selama dua pekan karena air sungai tidak lagi layak digunakan.
“Ya harus bagaiimana lagi, paling masyarakat kecil mah diam saja. Mau gimana lagi. Enggak ada pemasukan, baru ini paling nambal ban,” ujarnya.
Ahmad mengatakan dirinya harus mencari penghasilan tambahan dan mengeluarkan biaya untuk membuat sumur bor demi mendapatkan sumber air bersih. “Terpaksa keluar duit lagi,” katanya.
3. Pemprov janji telusuri sumber pencemaran

Menanggapi keluhan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir, mengaku hingga saat ini belum menerima laporan resmi terkait dampak pencemaran Sungai Ciujung terhadap lahan pertanian.
“Memang saya belum dapat laporan. Yang saya tahu wilayah situ sedang direhab Pamarayan dengan Ciujung, sehingga beberapa wilayah terdampak airnya. Tapi kita sudah koordinasi jangan sampai petani juga tertahan, lambat tanam segala macam, karena target luas tambah tanam (LTT) tiap hari harus kita laporkan,” kata Nasir.
Menurut Nasir, informasi yang diterimanya lebih banyak berkaitan gangguan pasokan air akibat proyek rehabilitasi jaringan irigasi yang sedang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3). Namun pihaknya berjanji akan melakukan pengecekan ke lapangan.
“Nanti kita coba cek. Insyaallah nanti kita cek,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menyatakan akan memanggil Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Banten untuk meminta penjelasan terkait kondisi Sungai Ciujung. “Nanti saya mau panggil dulu kadisnya,” kata Andra.



















