Banten Penyumbang Angka Pengangguran Kedua Terbanyak se-Indonesia

- 414 ribu warga Banten masih menganggur, menempati posisi kedua terbanyak di Indonesia.
- Jumlah pengangguran menurun dibanding periode sebelumnya, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 281,27 ribu orang di tahun 2024.
- Dari jumlah penduduk usia kerja, 6,21 juta orang termasuk angkatan kerja, dengan mayoritas bekerja sebagai karyawan atau buruh pabrik.
Serang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 414 ribu warga Banten masih menganggur. Daerah yang memiliki julukan tanah Jawara itu menduduki posisi kedua se-Indonesia dalam hal angka tingkat pengangguran terbuka paling banyak.
Banten menempati ranking kedua setelah Jawa Barat yang memiliki jumlah pengangguran sebesar 6,75 persen dan Banten sebesar 6,68 persen. Ha ini berdasarkan survei BPS Agustus 2024.
1. Angka pengangguran turun dibanding 2023

Kepala BPS Provinsi Banten Faizal Anwar mengatakan, meski masih jadi daerah penyumbang kedua terbanyak, jumlah pengangguran di Banten menurun dibandingkan periode Agustus 2023.
“Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, terjadi penurunan,” kata Faizal saat dikonfirmasi, Selasa (5/11/2024).
2. Ada penyerapan tenaga kerja sebanyak 281 ribu orang

Ia memaparkan, berdasarkan survei angkatan kerja nasional, terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 281,27 ribu orang di tahun 2024. Sementara, penduduk usia kerja Banten pada Agustus 2024 sebanyak 9,39 juta orang.
Jumlah itu meningkat 131,91 ribu orang dibandingkan tahun lalu. Dari jumlah penduduk usia kerja, sebanyak 6,21 juta orang, termasuk angkatan kerja. Sedangkan 3,18 juta orang bukan angkatan kerja.
"Jumlah penduduk bekerja terbagi menjadi tiga kategori yakni pekerja penuh 4,51 juta orang; pekerja paruh waktu 892,8 ribu orang; dan setengah pengangguran 392,68 ribu orang," katanya.
3. Rata-rata warga Banten bekerja sebagai buruh pabrik

Faizal menyampaikan, rata-rata status kerja warga di Banten sebagai karyawan atau buruh pabrik. Selanjutnya, warga Banten bekerja di bidang pertanian.
"Karena pertanian satu lapangan usaha dalam pendidikan tidak memerlukan secara khusus," katanya.





















