Cuaca Panas Menyengat di Tangsel, Ini Penjelasan BMKG

- Suhu panas di Tangsel dipicu posisi matahari dekat khatulistiwa yang membuat radiasi sinar matahari lebih intens, terutama pada siang hingga sore hari.
- Tingkat kelembapan tinggi, minimnya awan, serta efek urban heat island dari padatnya bangunan dan kendaraan memperkuat sensasi panas di wilayah perkotaan.
- BMKG menjelaskan kondisi ini terjadi saat masa pancaroba menuju kemarau dan mengimbau warga menjaga kesehatan serta membatasi paparan langsung sinar matahari.
Tangerang Selatan, IDN Times – Suhu udara di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) belakangan terasa lebih panas dan menyengat dari biasanya. Kondisi ini dirasakan warga terutama pada siang hingga sore hari, ketika aktivitas di luar ruangan menjadi kurang nyaman.
Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Hartanto, menjelaskan bahwa fenomena panas ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor meteorologis yang saling berkaitan. Salah satunya adalah posisi matahari yang saat ini berada dekat garis khatulistiwa.
“Pada bulan April, sudut datang sinar matahari hampir tegak lurus, sehingga intensitas radiasi yang diterima wilayah Jawa bagian barat, termasuk Tangsel, menjadi maksimal,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
1. Tingkat kelembapan udara tinggi juga memicu panas terik

Selain itu, tingkat kelembapan udara yang tinggi juga membuat suhu terasa lebih panas dari kondisi sebenarnya. Dalam situasi ini, keringat di tubuh sulit menguap sehingga memunculkan efek gerah yang dikenal sebagai feels like temperature.
Minimnya tutupan awan turut memperparah kondisi tersebut. Saat langit cerah, radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan. Permukaan seperti aspal dan beton kemudian menyerap panas dan memantulkannya kembali ke udara.
Faktor lain yang memperkuat panas adalah kondisi perkotaan Tangsel yang padat bangunan. Fenomena ini dikenal sebagai urban heat island, di mana panas terperangkap akibat minimnya ruang terbuka hijau serta tingginya aktivitas kendaraan.
“Emisi kendaraan dan dominasi bangunan membuat suhu di wilayah perkotaan terasa lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya,” kata Hartanto.
2. BMKG menyebut, kondisi itu merupakan tanda masa peralihan atau pancaroba

Ia menambahkan, saat ini juga merupakan masa peralihan atau pancaroba dari musim hujan ke kemarau. Pada periode ini, pola angin cenderung lemah sehingga sirkulasi udara tidak optimal untuk mendinginkan suhu permukaan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca panas, seperti memperbanyak konsumsi air putih, menghindari paparan matahari langsung dalam waktu lama, serta menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.
Dengan kombinasi berbagai faktor tersebut, suhu panas di Tangsel diperkirakan masih akan terasa dalam beberapa waktu ke depan, terutama saat siang hari.


















