15 Tahun Hidup di Rumah Reyot, Warga di Lebak Belum Tersentuh Bantuan

- Suryadi dan keluarganya telah 15 tahun tinggal di rumah reyot berukuran 3x4 meter dengan kondisi nyaris ambruk, sementara penghasilannya sebagai buruh tani tidak menentu.
- Bantuan pemerintah yang diterima Suryadi baru sebatas sembako dan belum mencakup perbaikan rumah, meski ia sudah berkali-kali mengajukan permohonan ke pemerintah desa.
- Pemerintah Desa Sukarendah mengakui ada sekitar 10 rumah tak layak huni dan berharap bantuan segera turun agar warga seperti Suryadi bisa hidup lebih layak.
Lebak, IDN Times – Kisah memilukan dialami Suryadi (38), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Ia bersama istri dan dua anaknya harus bertahan hidup di rumah reyot yang nyaris ambruk selama 15 tahun.
Rumah berukuran 3x4 meter itu terbuat dari kayu dan anyaman bambu yang sudah lapuk dimakan usia. Kondisinya miring, atap bocor, bahkan sebagian bangunan harus disangga dengan tiang agar tidak roboh. Di dalam rumah, lantai masih berupa tanah dengan perabotan seadanya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suryadi bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak menentu. Ia juga mencari tambahan dengan berburu kroto (telur semut rangrang) setiap akhir pekan.
“Penghasilannya tidak menentu, kadang ada kadang tidak. Sabtu biasanya cari kroto buat nambah,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
1. Bantuan belum menyentuh kebutuhan utama

Suryadi mengaku tak mampu merantau ke luar daerah karena kondisi fisiknya yang lemah sejak mengalami kecelakaan saat kecil.
“Saya bukan tidak mau kerja ke luar kota, tapi fisik saya tidak kuat,” katanya.
Selama ini, Suryadi mengaku pernah menerima bantuan dari pemerintah. Namun, bantuan tersebut hanya berupa sembako dan belum menyentuh kebutuhan utama, yakni perbaikan rumah.
“Alhamdulillah pernah dapat bantuan, tapi belum cukup untuk bangun rumah,” ucapnya.
Ia juga mengaku sudah berulang kali mengusulkan bantuan perbaikan rumah ke pemerintah desa, namun hingga kini belum terealisasi.
“Sering diajukan, tapi belum ada realisasi,” katanya.
2. Desa akui ada 10 rumah tak layak huni

Sekretaris Desa Sukarendah, Sunatra, membenarkan bahwa masih ada sekitar 10 rumah warga yang kondisinya tidak layak huni di wilayah tersebut.
“Yang paling parah memang rumah Suryadi dan satu warga lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pihak desa sudah mengajukan bantuan ke sejumlah instansi seperti Dinas Sosial, BPBD, dan Dinas Perumahan. Namun hingga kini, realisasi bantuan masih belum turun.
“Kami sudah ajukan, tapi belum ada realisasi,” jelasnya.
3. Harapan segera ada bantuan

Pihak desa berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak lain agar warga yang tinggal di rumah tidak layak huni segera mendapatkan bantuan.
“Harapan kami ada bantuan, karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan,” tutup Sunatra.


















