Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Suku Baduy Laksanakan Ritual Ngaruat Gunung

Suku Baduy Laksanakan Ritual Ngaruat Gunung
Gubernur Banten Andra Soni (kanan) menerima upeti laksa dari tokoh adat Suku Baduy Jaro Warega (kiri) (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)
Intinya Sih
  • Masyarakat adat Baduy menggelar ritual Ngaruat Gunung di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje sebagai bagian dari tradisi pelestarian alam pascapanen.
  • Gubernur Banten Andra Soni menyatakan dukungan pemerintah untuk memfasilitasi kegiatan adat tersebut melalui koordinasi dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang.
  • Jaro Oom menegaskan komitmen warga Baduy menjaga keseimbangan alam lewat ritual rutin di berbagai wilayah penting demi keberlanjutan generasi mendatang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Serang, IDN Times - Masyarakat adat Baduy melaksanakan ritual Ngaruat Gunung di sejumlah titik, termasuk kawasan Sanghyang Sirah dan Gunung Honje. Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi kegiatan tersebut.

“Melalui Dinas Lingkungan Hidup, kita akan berkoordinasi dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang terkait apa yang disampaikan. Termasuk harapan mereka untuk melaksanakan ritual di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje, mudah-mudahan bisa kita fasilitasi,” kata Andra, usai menerima amanat pelestarian alam dari 1.552 warga adat Baduy dalam puncak prosesi Seba Baduy 2026 yang mengusung tema “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat” pada Sabtu malam (25/4/2026), seperti dilansir dari ANTARA.

Puncak tradisi Seba Baduy itu dilaksanakan di Gedung Negara, Banten, setelah masyarakat Baduy berjalan kaki sejauh 50 kilometer (km).

Warga Suku Baduy berjalan saat tradisi Seba Baduy di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Sabtu (25/4/2026)
Warga Suku Baduy berjalan saat tradisi Seba Baduy di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Sabtu (25/4/2026) (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)

Andra mengapresiasi ketaatan warga Kanekes yang teguh memegang amanah leluhur dalam menjaga keseimbangan alam. Filosofi mereka yang berbunyi: gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak (gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak) dinilai selaras dengan program pemerintah dalam melestarikan lingkungan hidup.

Sementara itu, Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, menjelaskan bahwa kehadiran warga Baduy menemui Bapak Gede (Gubernur) merupakan bagian dari prosesi adat pascapanen (ngalaksa) untuk menyampaikan mandat dari lembaga adat dan instruksi Puun Baduy.

Menurut Jaro Oom, pesan untuk menjaga keselarasan antara manusia dan alam ini tidak hanya dikhususkan bagi tanah ulayat, melainkan juga wilayah-wilayah penting di luarnya.

Wilayah tersebut meliputi Sanghyang Sirah, Ujung Kulon, Gunung Honje, Ujung Genteng, Tanjung Lesung, hingga kawasan Gunung Jagabrekat yang membentang dari Gunung Karang, Gunung Sanggabuana di Jawa Barat, hingga Gunung Liman di Jawa Timur.

“Kami menegaskan komitmen untuk terus menjalankan aturan adat. Kami menjalankan ritual sakral untuk menyelamatkan gunung, sungai, dan hutan. Kami ngaraksa gunung ngarawat alam,” tegas Jaro Oom.

Pelaksanaan ritual di luar wilayah ulayat ini rencananya akan dilakukan secara rutin oleh masyarakat Baduy sebagai bentuk komitmen nyata dalam merawat bumi demi keberlanjutan generasi mendatang.

Warga Suku Baduy merapikan hasil bumi yang dibawa saat tradisi Seba Baduy di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Sab
Warga Suku Baduy merapikan hasil bumi yang dibawa saat tradisi Seba Baduy di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Sabtu (25/4/2026) (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Banten

See More