Dampak Klaster Keluarga: 57 Balita di Banten Terpapar COVID-19

Serang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat sebanyak 57 anak bawah lima tahun (balita) terpapar virus corona atau COVID-19. Mereka tersebar di lima kabupaten/kota yang menjadi bagian dari klaster keluarga penyebaran virus korona.
Ke-57 balita kasus positif tersebar di Kabupaten Tangerang sebanyak 19 anak, Tangerang Selatan 17 anak, Kota Tangerang 16 anak, Kota Cilegon 3 anak dan Kabupaten Serang 2 anak.
1. Balita paling terdampak dari klaster keluarga

Santri Ponpes Temboro jalani isolasi program Wisata COVID-19 di salah satu hotel di Makassar, Sulawesi Selatan, 6 Mei 2020. (IDN Times/Pemkot Makassar) Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, saat ini terjadi tren peningkatan penularan COVID-19 dari klaster keluarga di Banten. Salah satu yang terkena dampak adalah anak-anak.
"Sampai dengan saat ini jumlah balita di Provinsi Banten yang positif COVID-19, 57 anak. Hal ini terjadi karena munculnya klaster keluarga," kata Ati saat dikonfirmasi, Jumat (28/8/2020).
2. Klaster keluarga mulai meningkat di bulan Juli-Agustus

Ilustrasi virus corona (IDN Times/Arief Rahmat) Mantan Direktur Utama RSUD Kota Tangerang itu menjelaskan, sebenarnya keluarga bukan merupakan klaster baru penyebaran COVID-19. Klaster tersebut sudah ada sejak pandemik melanda pada Maret lalu, tetapi mengalami peningkatan kasus dalam beberapa bulan terakhir.
"Meskipun kluster keluarga ini sudah ada sejak awal pandemik COVID-19, namun terjadi peningkatan di bulan Juli sampai dengan Agustus," katanya.
3. Meningkatnya mobilitas anggota keluarga jadi penyebab

Ilustrasi penumpang KRL Bogor-Jakarta. (Ilustrasi. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas) Ia tak menampik, meningkatkan kasus dari klaster keluarga dikarenakan mulai meningkatnya mobilitas anggota keluarga. Para orangtua yang bekerja--termasuk juga mereka yang keluar masuk zona merah seperti DKI Jakarta--rentan tertular dan menularkan COVID-19 ke anggota keluarga mereka.
"Ya, muncul klaster keluarga karena adanya aktivitas atau mobilitas salah satu anggota keluarga yang meningkat," ungkapnya.



















