Kawasan Gading Serpong (dok. Summarecon Serpong)
Hendar mengungkapkan, bercermin dari realisasi investasi tahun 2025, didominasi oleh perumahan, kawasan industri, dan perkantoran, menyumbang Rp11,78 triliun. Selain itu, kawasan barat Tangerang juga menjadi tujuan pergeseran investasi dari kawasan Jakarta.
"Dominasi sektor ini mencerminkan tingginya aktivitas pengembangan kawasan industri dan infrastruktur pendukung investasi di wilayah Kabupaten Tangerang," katanya.
Misalnya, di kawasan Gading Serpong, pertumbuhan aktivitas komersial juga terlihat dari pembukaan 1.464 bisnis baru sepanjang 2025. Angka tersebut menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap ruang usaha, terutama dari sektor ritel, kuliner, layanan profesional, dan bisnis berbasis kunjungan langsung.
Head of Research & Consulting CBRE, Anton Sitorus, mengatakan pertumbuhan kawasan komersial di Gading Serpong merupakan bagian dari siklus alami pengembangan kawasan properti. Menurut dia, kawasan yang semula bertumpu pada hunian akan berkembang ke fungsi lain seiring bertambahnya populasi, mobilitas, dan kebutuhan layanan.
“Pertumbuhan ini terbilang normal. Siklus pengembangan properti diawali dengan hunian, kemudian diikuti kantor, ruko, hotel, dan lain-lain,” kata Anton.
Anton menjelaskan, wilayah Tangerang, termasuk Serpong dan Gading Serpong, sejak lama dikenal sebagai kawasan penyangga Jakarta yang berkembang pesat. Perkembangan itu ditopang oleh kualitas hunian, rencana pengembangan kawasan yang matang dari sejumlah pengembang, serta konektivitas dengan kawasan lain di sekitarnya.
“Memang beberapa pengembang di sana memiliki rencana pengembangan yang cukup bagus," katanya.
Apalagi, harga tanah dan properti di kawasan Jakarta sangat tinggi hingga biasanya masyarakat dan pengusaha mulai bergeser ke wilayah Tangerang yang dinilai harganya lebih masuk akal.
"Masyarakat juga mengetahui bahwa daerah barat, seperti Serpong dan sekitarnya, memiliki potensi besar. Di timur juga ada yang bagus," jelas Anton.