Comscore Tracker

Kisah Mul yang Ajarkan Anak-anak Baduy Membaca

Mulyono, satu-satunya orang Baduy yang kuliah

Lebak, IDN Times - Hingga saat ini masyarakat adat Baduy, di pedalaman Lebak masih memegang teguh perintah leluhur, salah satunya untuk tidak mengenyam pendidikan formal di sekolah.

Bukan tanpa alasan para kokolot melarang warganya untuk bersekolah layaknya masyarakat umum. Para tetua adat menilai, sekolah bisa berdampak negatif di ke depannya. Salah satunya, sekolah bisa mengancam eksistensi masyarakat Suku Baduy-- sang penjaga alam.

Baca Juga: Sejumlah Warga Baduy Ikut Vaksinasi COVID-19 

Baca Juga: Suku Baduy, Penghuni Gunung Kendeng Banten

1. Meski tidak sekolah, sebagian anak-anak Baduy bisa membaca loh

Kisah Mul yang Ajarkan Anak-anak Baduy MembacaDok. Istimewa/Mulyono

Meski mereka tidak mengenyam pendidikan formal, namun kini sebagian anak-anak kecil di Baduy sudah bisa membaca. Hal ini berkat dedikasi Mulyono atau Mul, seorang pemuda Baduy asli. Selama belasan tahun, dia aktif mengajar baca tulis bagi warga Baduy.

Pemuda yang kini berusia 26 tahun ini adalah satunya warga Baduy yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Dia bercerita, saat kecilnya mulanya dia belajar dari sang ayah dengan metode ejaan Sunda, alat tulisnya menggunakan arang bekas kayu bakar. Sarpin, ayahnya merupakan warga Baduy pertama yang bisa membaca.

"Bapak dulu gak sekolah. Cuma, ada teman orang luar, belasan tahun sering bolak-balik ke Baduy. Belajar dari situ," kata Mulyono saat berbincang dengan IDN Times, Rabu (29/9/2021).

Baca Juga: 5 Potret Upaya Vaksinasi di Pemukiman Baduy

2. Satu-satunya warga Baduy yang kuliah

Kisah Mul yang Ajarkan Anak-anak Baduy Membaca(ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Karena penasaran akhirnya Mul melanjutkan pendidikan formal dengan mengikuti paket A hingga C. Dan kini dia duduk dibangku kuliah semester 6 di Universitas Terbuka (UT) di Serang. Tapi kuliah dilakukan secara online.

''Biar saya tetap ada di Baduy.  Kedua tidak terlalu terlihat kalau misalnya pulang pergi tiap hari ke kampus otomatis menimbulkan kecurigaan," katanya.

3. Rumah dia sulap menjadi tempat belajar anak-anak Baduy

Kisah Mul yang Ajarkan Anak-anak Baduy MembacaANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Rumahnya di Kampung Balingbing, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, menjadi tempat anak-anak Baduy yang ingin belajar membaca. Kini setidaknya ada sekitar 20 lebih anak rutin datang ke rumahnya. Namun, pembelajaran itu hanya diikuti oleh warga Baduy Luar.

Perjalanannya untuk menjadikan rumah sebagai tempat belajar cukup panjang serta banyak hambatan. "Kalau awal mulanya bukan saya yang ngebangun, tapi sudah sejak saya kecil oleh orangtua saya," katanya.

Rumah baca itu didirikan karena dimulai dari keresahan Mul bersama ayahnya yang melihat masyarakat kesulitan membaca buku KB yang diberikan pemerintah. "Datang ke rumah saya nanya ini saya ke bidan harus tanggal berapa," katanya.

4. Mul tidak ingin membuat pembelajaran formal

Kisah Mul yang Ajarkan Anak-anak Baduy MembacaANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Kendati sudah cukup lumayan banyak anak-anak Baduy yang antusias datang ke rumanya untuk belajar, dia tidak ingin membuat rumah bacanya berjalan secara terstruktur karena khawatir akan seperti sekolah formal dan akan bertabrakan dengan perintah adat.

"Saya takutkan ada sekolah, Baduy akan mengancam komunitas kita. Anak-anak mau datang ya silakan, gitu aja," katanya.

Bahkan di sela-sela mengajar baca dan tulis, Mul selalu mengingatkan anak-anak Baduy untuk tidak meninggalkan aturan adat yang berlaku sebagaimana yang telah dijalankan nenek moyang dari turun-temurun seperti berladang dan melestarikan alam.

Baca Juga: Mengenal Suku Baduy dan Baju Adatnya yang Sederhana

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya