Comscore Tracker

Syafrudin Prawiranagara, Presiden RI Sementara Asal Banten

Pribumi yang pernah menjadi Presiden De Javasche Bank (DJB)

Serang, IDN Times - Syafrudin Prawiranegara adalah salah satu pahlawan nasional berasal dari Banten. Semasa hidupnya, Syafrudin pernah menjabat sebagai presiden RI sementara loh. 

Syafrudin juga adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi Presiden De Javasche Bank (DJB) pada masa-masa akhir 1951-1953, demikian dikutip dari situs Bank Indonesia (BI), www.bi.go.id.

Seperti apa kiprah Syafrudin? Simak nih penjabaran berikut, seperti disarikan dari beberapa sumber. 

Baca Juga: Millennial Wajib Tahu, Inilah Daftar 7 Pahlawan Banten

1. Pendidikan dan kiprah pada masa pra kemerdekaan

Syafrudin Prawiranagara, Presiden RI Sementara Asal Bantenzenius.net

Syafruddin Prawiranegara lahir di Serang, Banten, pada tanggal 28 Februari 1911. Kemudian wafat di Jakarta 15 Februari 1989 pada usia 77 tahun.

Syafrudin memiliki nama kecil "Kuding," yang berasal dari kata "Udin" pada nama Syafruddin. Ia memiliki darah keturunan Banten dari pihak ayah dan Minangkabau dari pihak ibu. Ayah Syafruddin bekerja sebagai jaksa, tetapi cukup dekat dengan rakyat, dan karenanya dibuang oleh Hindia Belanda ke Jawa Timur.

Syafruddin menempuh pendidikan ELS pada tahun 1925 dilanjutkan ke Mulo di Madiun  pada tahun 1828 dan AMS di Bandung pada tahun 1931. Pendidikan tingginya diambilnya di Sekolah Tinggi Hukum Jakarta yang sekarang menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1936 dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten atau Magister Hukum.

Pada tahun 1939–1940 Syafrudin menjadi editor di Soeara Timur dan menolak untuk bergabung dengan Stadswacht, meskipun pada tahun 1940 dia bergabung dengan Departemen Keuangan Belanda. Dia mempertahankan pekerjaannya di bawah pendudukan Jepang, bekerja sebagai inspektur pajak.

Setelah kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia (KNIP) 1945 yang bertugas sebagai badan legislatif di Indonesia sebelum terbentuknya MPR dan DPR.

2. Syafruddin Prawiranegara, Presiden RI yang terlupakan

Syafrudin Prawiranagara, Presiden RI Sementara Asal BantenIlustrasi penjajahan zaman Jepang.Dok Berita Bali

Syafrudin pernah menjabat presiden sementara, untuk menggantikan Soekarno. Hal ini terjadi setelah pemerintahan yang dipindah ke Kota Yogyakarta, direbut paksa Belanda.

Dia ditugaskan oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk Pemerintahan Darurat RI (PDRI), ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap pada Agresi Militer II, kemudian diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka pada tahun 1948. Hatta yang telah menduga dia dan Soekarno bakal ditahan Belanda segera memberi mandat Syafruddin untuk melanjutkan pemerintahan, agar tak terjadi kekosongan kekuasaan.

Atas usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta.

Pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.

Baca Juga: 3 Pahlawan Nasional dari Banten, Ada Ageng Tirtayasa

3. Pernah menjabat Menkeu dan merupakan Gubernur BI pertama

Syafrudin Prawiranagara, Presiden RI Sementara Asal BantenANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Seusai menyerahkan kembali kekuasaan dari Pemerintahan Darurat RI, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI pada tahun 1949, kemudian sebagai Menteri Keuangan antara tahun 1949-1950. Selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta pada bulan Maret 1950 ia melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan Gunting Syafrudin.

Syafruddin kemudian menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama, pada tahun 1951, demikian dikutip dari laman Bank Indonesia (BI). Sebelumnya ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir, yang kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.

Selain iti, Syafruddin pun menjadi pelopor dalam usulan agar pemerintah RI segera menerbitkan mata uang sendiri sebagai atribut kemerdekaan Indonesia untuk menggantikan beberapa mata uang asing yang masih beredar luas. Salah satu yang menjadi sorotan di masa kepemimpinan beliau adalah keteguhannya dalam menjalankan fungsi utama bank sentral sebagai penjaga stabilitas nilai rupiah serta pengelolaan moneter.

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya