Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Laki-Laki Berpostur Tinggi Lebih Berisiko Kena Saraf Kejepit

Laki-Laki Berpostur Tinggi Lebih Berisiko Kena Saraf Kejepit
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Tangerang, IDN Times - Saraf Kejepit merupakan penyakit kronis yang disebabkan dari terjadinya inflamasi pada bantalan tulang belakang, hingga menyebabkan saraf di tulang belakang tertekan atau terjepit. Penyakit ini menyebabkan penderitanya merasakan sakit menjalar dari pinggang ke kaki, hingga bisa mengganggu aktivitas.

Harmantya Mahadhipta, Dokter Spesialis Ortopedi & Traumatologi-Konsultan Tulang Belakang Eka Hospital BSD, mengatakan laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi merupakan faktor risiko terjadinya saraf kejepit.

"Menurut penelitian, laki-laki dengan postur tubuh yang lebih tinggi memang berisiko lebih tinggi terkena saraf kejepit, dan itu memang tidak bisa diubah maupun dicegah," kata Harmantya.

1. Terdapat hal yang bisa menurunkan risiko terkena saraf kejepit

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Namun, terdapat faktor risiko lain yang bisa diubah agar tidak benar-benar terkena saraf kejepit, seperti berat badan berlebih, pekerjaan fisik, menggunakan alat dengan getaran terus menerus, hingga faktor psikologis.

"Misalnya adalah sering mengangkat beban berat berulang, gerakan rotasi pada tulang belakang yang berlebihan, juga terlalu lama duduk konstan, karena saat duduk tulang belakang lebih terbebani. Itu bisa dicegah," ungkapnya.

2. Tidak semua sakit pinggang saraf kejepit

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Namun, sakit pinggang yang dialami belum tentu menunjukkan gejala serius. Sebab, 70 persennya karena masalah ketegangan otot. Hal tersebut, menurutnya, sakit pinggang yang bisa hilang dalam waktu beberapa hari atau bisa hilang dengan cara istirahat, maka hanya disebabkan oleh otot saja.

"Yang perlu diperhatikan, bila sakitnya sampai berbulan-bulan dan disertai gejala lainnya, seperti penurunan berat badan. Itu bisa karena adanya infeksi atau kanker," ujar Harmantya.

Lalu, nyerinya hanya terjadi pada malam hari, disertai demam, riwayat trauma yang signifikan, menjalar hingga ke paha dan kaki, dan terjadi pada anak-anak. Jika hal ini terjadi, maka segera konsul ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Sebab, masalah tulang belakang, khususnya pada daerah lumbar (pinggang), menjadi gangguan kesehatan yang sering ditemui. Keluhan seperti nyeri punggung bawah, kesulitan bergerak, hingga rasa kebas atau kelemahan di kaki sering kali berkaitan dengan gangguan pada cakram tulang belakang atau lumbar disc.

"Mengapa harus secepatnya ke dokter, untuk mendapat penanganan serius. Sebab, penanganan tulang belakang itu bukan berarti harus dioperasi, itu opsi terakhir. Bisa dengan cara terapi obat terlebih dulu, fisioterapi, bila penanganan ini tidak bisa, baru operasi menjadi jalan terakhir," katanya.

3. Penanganan dengan teknik Lumbar Disc Replacement (LDR)

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Jika memang penanganan terapi sudah tidak bisa dilakukan, Eka Hospital BSD memiliki teknologi medis terbaru, yakni teknik Lumbar Disc Replacement (LDR). Kini menjadi metode penanganan terkini yang dianggap efektif dalam mengatasi masalah tulang belakang.

"Lumbar Disc Replacement (LDR) adalah prosedur bedah yang bertujuan mengganti cakram tulang belakang yang rusak atau aus dengan implan buatan. Prosedur ini dirancang untuk menjaga mobilitas alami tulang belakang sambil mengurangi rasa nyeri yang disebabkan oleh cakram yang bermasalah," jelasnya.

Berbeda dengan fusi tulang belakang (spinal fusion), di mana dua tulang belakang disatukan sehingga gerakannya menjadi terbatas, LDR memungkinkan pasien tetap memiliki rentang gerak normal pada area yang dioperasi. Implan buatan ini terbuat dari bahan yang kompatibel dengan tubuh manusia, seperti logam atau bahan plastik tahan lama.

Prosedur LDR ini memiliki kelebihan seperti dapat memungkinkan tulang belakang orang untuk dapat bergerak secara alami, selain itu dapat juga mengurangi risiko beban berlebih pada segmen lain. Sebab dengan mempertahankan gerakan alami, risiko kerusakan pada cakram lain dapat diminimalisir. Tak hanya itu, proses pemulihan nyeri pascaoperasi menjadi lebih cepat.

"Pasien yang bisa ditangani dengan prosedur ini yakni mereka yang usianya tidak lebih dari 60 tahun, serta tidak memiliki tulang yang keropos sebelumnya," tuturnya.

Share
Topics
Editorial Team
Maya Aulia Aprilianti
EditorMaya Aulia Aprilianti
Follow Us

Latest News Banten

See More

Kebakaran Hebat Asrama Polri Ciledug Hanguskan 20 Rumah

16 Apr 2026, 21:51 WIBNews