Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penanganan Setengah Hati Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Banten
IDN Times/khaerul anwar

Serang, IDN Times - Bancana banjir dan tanah longsor setiap akhir tahun di sejumlah daerah di Banten, terjadi ketika memasuki musim penghujan akibat cuaca ekstrem. Semestinya, bencana itu mampu diantisipasi untuk meminimalisir dampak yang terjadi di masyarakat.

Apalagi potensi terjadi hujan lebat dan angin kencang, sudah bisa diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun sayang dalam penanganannya, pemerintah bertindak setelah terjadi bencana dan korban dari masyarakat berjatuhan.

1. Terjadinya kerusakan lingkungan di hulu sungai

Ilustrasi. Sebuah rumah tenggelam lumpur akibat banjir bandang di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (14/7/2020). (ANTARA FOTO/Hariandi Hafid)

Aktivis lingkungan dari Rekonvasi Bhumi, Nana Prayatna menyebutkan, penyebab terjadinya banjir bandang di sejumlah daerah di Banten karena kerusakan lingkungan di daerah Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang menjadi hulu Sungai Ciberang.

Kerusakan itu memunculkan bencana banjir dan longsor di daerah aliran sungai (DAS) Ciberang dan Ciujung, hingga pemukiman warga sekitar.

"Ada gak upaya merencanakan penanganan pemerintah pasca banjir bandang tahun lalu karena DAS yang rusak itu mesti holistik kita bicara ekosistem, kita akan bicara sosial, kita akan bicara ekonomi, karena itu yang terdampak," kata Nana saat dikonfirmasi, Jumat (18/12/2020).

2. Perlu kolaborasi dan konsep yang matang

Petugas gabungan mengevakuasi korban banjir bandang di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (14/7/2020). ANTARA FOTO/Indra

Disampaikan Nana, perlu kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat setempat, untuk menangani kerusakan di hulu sungai dan DAS. Kemudian menginventarisir penyebab kerusakan dengan menggandeng para ahli, dan menyusun rencana strategis.

"Hari ini kalau bilang titiknya (bencana banjir) sama aja, ya memang pemerintahnya tidak kerja. Jika terus begitu kecenderungannya akan lebih luas, lebih besar, dan korban akan lebih banyak," katanya.

3. Penindakan tambang emas ilegal dan perambahan hutan harus serius

Dok. Istiewa/Didi

Selama ini lanjut Nana, pemerintah menuding aktivitas tambang emas dan perambahan hutan secara ilegal di gunung Halimun Salak sebagai biang utama banjir. Namun harus ada riset yang mendalam terkait penyebab yang lebih dominan.

"Kalau mau membenahi persoalan itu harus tegas. Kalau ada aparat yang menikmati, itu susah karena penanganan lingkungan harus bersih hatinya. Benar-benar untuk lingkungan, rehabilitasi hutan, dan lahan," katanya.

4. Berpotensi menimbulkan bencana alam yang lebih besar

Dok. istimewa

Jika hal tersebut tidak segera dilakukan, maka akan terjadi bencana alam yang lebih besar karena di DAS Sungai Ciberang terdapat bendungan Karian yang disebut sebagai bendungan terbesar ketiga di Indonesia. Bendungan itu dapat menampung air hingga 314,7 juta meter kubik, dan mengalirkan air untuk Jakarta dan Banten.

"Kalau tiap tahun dihajar oleh material banjir bandang, jangan-jangan suatu saat Karian jebol. Kota Rangkas bisa hilang karena pertemuan hulu sungai Ciujung dengan Ciberang itu kan di Rangkas," katanya.

Editorial Team

Related Article