Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Penjual Naikkan Omzet Lewat Afiliator, Biar Enggak Boncos!
Yosef Abas, mentor affiliate marketing yang juga Founder & CEO RKP Manajemen saat peluncuran buku di ICE BSD, Tangerang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
  • Yosef Abas menekankan pentingnya sistem pengelolaan affiliator yang mencakup aktivasi, onboarding, komunikasi, dan insentif agar penjual dapat meningkatkan omzet secara konsisten di tengah pelemahan ekonomi.
  • Penjual disarankan memilih affiliator kecil hingga menengah yang konsisten membuat konten jujur dan relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia untuk membangun kepercayaan pembeli.
  • Kolaborasi pembuatan konten antara penjual dan affiliator serta keterlibatan dalam komunitas affiliate dinilai mampu meningkatkan efektivitas kampanye dan menjaga performa program pemasaran digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times - Di era lemahnya daya beli masyarakat disertai dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pemilik usaha terutama yang memiliki toko di marketplace harus terus memutar otak untuk menaikkan penjualannya. Salah satu hal yang bisa dimanfaatkan adalah afiliator, yakni seseorang yang mempromosikan produk atau layanan milik perusahaan (merchant) menggunakan tautan khusus (affiliate link).

Namun, bagi kamu penjual yang baru ingin merambah ke dunia afiliator dan belum mengerti, terdapat beberapa tips yang bisa diikuti menurut Yosef Abas, mentor affiliate marketing yang juga Founder & CEO RKP Manajemen lewat buku terbarunya berjudul 'Melipatgandakan Omzet dengan Pasukan Affiliate'.

"Banyak seller dan brand kini mampu merekrut ratusan hingga ribuan afiliator. Namun, tanpa sistem aktivasi, onboarding, komunikasi, insentif, dan pengelolaan yang jelas, pasukan affiliate tersebut mudah hilang, tidak konsisten membuat konten, atau berpindah ke produk lain yang dinilai lebih menarik," kata Yosef usai peluncuran bukunya di ICE BSD, Tangerang.

1. Pilih afiliator kecil, tapi konsisten mempromosikan produk kamu

Yosef Abas, mentor affiliate marketing yang juga Founder & CEO RKP Manajemen saat peluncuran buku di ICE BSD, Tangerang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Yosef mengungkapkan bahwa selama ini banyak penjual yang mengincar afiliator besar dan memiliki banyak pengikut di media sosialnya untuk memberikan sampel produk untuk dipromosikan. Namun, sayangnya, afiliator besar juga diincar oleh banyak penjual lainnya, sehingga berpotensi produk yang dikirim tidak akan konsisten dipromosikan.

"Makanya, lebih baik pilih afiliator kecil hingga menengah namun konsisten mempromosikan produk kita. Mereka biasanya benar-benar menggunakan produk kita dan semangat untuk membuat kontennya sesering mungkin. Ini bisa jadi ladang cuan," kata Yosef.

Yosef mengungkapkan bahwa afiliator yang kecil masih lebih berpotensi meningkatkan penjualan jika konten produk yang dibuat menarik, mengunggah konten produk secara konsisten, dan afiliator ikut menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Karena zaman sekarang, pembeli maunya review jujur, benar-benar dipakai dan benar-benar digunakan oleh para afiliator," ungkapnya.

2. Pilih afiliator dengan konten review jujur dan dekat dengan kehidupan asli masyarakat Indonesia

Yosef Abas, mentor affiliate marketing yang juga Founder & CEO RKP Manajemen saat peluncuran buku di ICE BSD, Tangerang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Selain itu, tips lainnya dalam memilih afiliator, yakni penjual, adalah memilih afiliator dengan konten review jujur yang kesehariannya dekat dengan kehidupan asli masyarakat. Misalnya, brand make-up sebaiknya menggunakan afiliator dengan penggunaan yang sesuai dengan tipe, warna, dan jenis kulit rata-rata orang Indonesia.

"Karena memang pembeli sekarang ingin lihat yang cocok dengan dirinya, yang jenis dan warna kulitnya hampir mirip dengan dia, bukan yang cantik seperti artis karena beda tipe antara brand ambassador dan affiliator yang memang tugasnya jualan," ungkap Yosef.

Yosef mencontohkan, untuk produk sampo, biasanya yang paling banyak menghasilkan penjualan merupakan affiliator yang mengambil konten atau melakukan live di warung-warung kelontong. Bukan afiliator yang memiliki rambut bagus.

"Kenapa? Karena benar-benar menggambarkan bahwa sampo itu produk yang dijual," katanya.

3. Kerjasama dengan affiliator untuk membuat konten yang bagus

Yosef Abas, mentor affiliate marketing yang juga Founder & CEO RKP Manajemen saat peluncuran buku di ICE BSD, Tangerang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Hal lain yang bisa mendongkrak penjualan, kata Yosef, yakni penjual bisa bekerja sama dengan afiliator untuk membuat konten yang bagus dan diunggah juga sebagai iklan oleh penjual. Pasalnya, iklan dengan menggunakan konten yang dibuat oleh afiliator itu bisa meningkatkan penjualan sebesar 30 persen dibandingkan dengan menggunakan konten sendiri.

"Karena biasanya konten yang dibuat afiliator itu menggambarkan poin-poin keunggulan produk tersebut, karena itu kan bagian dari review afiliator usai menggunakan produk tersebut," jelasnya.

4. Ikut komunitas affiliate yang menghubungkan penjual dan afiliator di masing-masing platform

Yosef Abas, mentor affiliate marketing yang juga Founder & CEO RKP Manajemen saat peluncuran buku di ICE BSD, Tangerang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Yosef mengungkapkan, di setiap platform penjualan, terdapat komunitas yang mengumpulkan dan menghubungkan afiliator dengan penjual. Dalam komunitas tersebut, penjual bisa memilih affiliator yang ingin diajak bekerja sama. Terlebih, biasanya penawaran komisi juga bisa diberikan secara khusus selain dari program di dalam platform.

"Komunitas ini juga biasanya yang menyebarkan sebuah campaign, misalnya saat Harbolnas, Ramadan, atau peluncuran produk baru," tuturnya.

Selain itu, Yosef juga mengimbau penjual untuk ikut dalam manajemen komunitas afiliator yang bukan hanya mengumpulkan afiliator, tetapi juga mengaturnya agar bisa bekerja secara aktif dan konsisten.

Menurutnya, beberapa elemen penting dari manajemen afiliator antara lain proses onboarding, materi promosi, product knowledge, angle konten, alur komunikasi, sistem komisi, serta keberadaan tim atau orang khusus yang mengelola hubungan dengan afiliator. Pola tersebut kerap terlihat pada momentum besar seperti Ramadan, Harbolnas, atau peluncuran

produk baru. Brand dapat merekrut afiliator dalam jumlah besar untuk mendorong campaign.

"Namun, ketika stok tidak terjaga, komisi kurang kompetitif, materi promosi tidak tersedia, atau

komunikasi dengan afiliator tidak berjalan, performa program affiliate akan sulit dipertahankan," katanya.

Dalam bukunya, Yosef juga menerangkan adanya Total Affiliate Activation Blueprint, Yosef merangkum pengalaman dirinya dalam mendampingi brand dan creator di ekosistem marketplace dan social commerce. Framework ini disusun sebagai panduan lengkap agar brand tidak berhenti pada tahap merekrut affiliate, tetapi mampu mengubahnya menjadi pasukan penjualan yang aktif dan terkelola dengan baik.

Salah satu titik penting dalam blueprint tersebut adalah orientasi, atau onboarding. Yosef menyebut, minggu pertama setelah afiliator bergabung merupakan periode yang sangat menentukan. Pada fase ini, afiliator perlu segera memahami produk, mengetahui keunggulan yang bisa dikomunikasikan, mendapatkan referensi konten, serta melihat peluang komisi secara jelas.

"Tanpa onboarding yang baik, afiliator mudah bingung dan akhirnya tidak banyak bertindak.

Sebaliknya, jika sejak awal mereka merasa dibantu, diarahkan, dan melihat potensi hasil, peluang mereka untuk aktif menjual produk brand akan lebih besar," ungkapnya.

Selain onboarding, Yosef juga menekankan pentingnya peran affiliate manager di sebuah brand. Menurutnya, komunitas affiliate tidak akan bergerak maksimal jika tidak ada orang yang secara khusus menjaga komunikasi, mengatur ritme campaign, menjawab kebutuhan afiliator, dan memastikan mereka tetap terhubung dengan brand.

“Komunitas tanpa community manager biasanya sulit hidup. Begitu juga affiliate. Kalau brand punya banyak afiliator tetapi tidak ada yang mengelola, mereka akan sulit bergerak secara konsisten,” pungkasnya.

Editorial Team

Related Article