Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Tangsel Keluhkan SPMB SMA 2026, Jalur Domisili Dinilai Tak Jelas
Ilustrasi SPMB. (Dok. Diskominfo Kota Surabaya)
  • Warga Tangsel mengeluhkan sistem SPMB SMA 2026 karena jalur domisili dinilai membingungkan, peserta dengan jarak rumah lebih dekat justru tidak diterima.

  • Beberapa orang tua mempertanyakan penggunaan nilai akademik dalam jalur domisili yang seharusnya mengutamakan faktor wilayah tempat tinggal, bukan prestasi belajar.

  • Pihak panitia menjelaskan seleksi mengikuti aturan resmi, di mana penilaian akademik menjadi pertimbangan utama sebelum faktor jarak rumah dalam proses penerimaan siswa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang Selatan, IDN Times – Sejumlah warga di Kota Tangerang Selatan mengeluhkan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026, khususnya pada jalur domisili wilayah untuk jenjang SMA. Warga menilai mekanisme seleksi yang diterapkan membingungkan karena peserta dengan jarak rumah lebih dekat justru tidak lolos.

Salah satu keluhan disampaikan Nur, warga Kelurahan Kademangan, Kecamatan Setu. Ia mengaku mendaftarkan anaknya ke SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan melalui jalur domisili karena lokasi rumah berada tidak jauh dari sekolah tersebut.

Namun, saat proses seleksi berjalan, posisi anaknya yang sempat masuk daftar penerimaan disebut berubah dan akhirnya tidak lolos.

“Saya daftarin anak jalur domisili, sempet ada di daftar nomor urut tiba-tiba kelempar,” kata Nur, Senin (22/6/2026).

1. Warga pertanyakan penggunaan nilai di jalur domisili

Nur mengaku sempat mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan terkait mekanisme seleksi. Menurut dia, pihak panitia menjelaskan bahwa peserta yang diterima pada jalur domisili memiliki nilai akademik lebih tinggi. Penjelasan itu justru membuatnya mempertanyakan mekanisme penerimaan yang diterapkan.

“Ini kan namanya standar ganda. Kalau dibilang tinggi kenapa gak pakai jalur prestasi,” ujarnya.

Ia menilai jalur domisili seharusnya mengutamakan faktor wilayah tempat tinggal, bukan nilai akademik.

2. Keluhan serupa muncul di SMA Negeri 7 Tangsel

ilustrasi jadwal SPMB SMA (unsplash.com/Ed Us)

Keluhan lain juga disampaikan Rozi, warga Kecamatan Serpong Utara.

Ia mengaku anaknya yang mendaftar ke SMA Negeri 7 Kota Tangerang Selatan melalui jalur domisili juga tidak lolos meski menurutnya jarak rumah lebih dekat dibanding peserta lain yang diterima.

“Enggak ngerti saya ama SPMB tahun ini,” katanya.

Menurut Rozi, hasil seleksi membuat sejumlah orang tua kebingungan memahami parameter utama yang digunakan dalam proses penerimaan.

3. Panitia sebut sistem seleksi mengacu aturan yang berlaku

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah terkait keluhan tersebut. Namun, salah satu petugas SPMB di SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan, Yati, mengatakan pihak sekolah hanya menjalankan sistem yang telah ditentukan.

“Kami hanya pelaksana. Ini kan sistem yang bicara,” ujarnya.

Yati menjelaskan bahwa dalam mekanisme jalur wilayah atau domisili, seleksi mempertimbangkan nilai terlebih dahulu sebelum faktor jarak tempat tinggal.

“Kalau wilayah pakai nilai, baru selanjutnya jarak rumah,” katanya.

Pelaksanaan SPMB 2026 di sejumlah daerah memang menjadi perhatian masyarakat, terutama terkait transparansi parameter seleksi dan pemahaman orang tua terhadap mekanisme penerimaan di masing-masing jalur.

Editorial Team

Related Article