Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Waspada Hantavirus, Dinkes Tangsel: Hindari Kontak dengan Tikus
Ilustrasi tikus di kardus bekas (unsplash.com/slyfox photography)

  • Dinkes Tangsel mengimbau warga waspada terhadap hantavirus setelah keluarnya surat edaran Kemenkes, meski hingga kini belum ada kasus terdeteksi di wilayah tersebut.
  • Hantavirus ditularkan melalui tikus dan celurut lewat urin, feses, air liur, atau debu terkontaminasi, dengan gejala mulai dari demam hingga gangguan pernapasan berat.
  • Dinkes memperkuat deteksi dini di puskesmas dan rumah sakit serta mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang Selatan, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus hanta atau hantavirus. Imbauan itu menyusul terbitnya Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor SR.03.02/C/2572/2026 tentang Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta.

Kepala Dinkes Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di wilayah Tangsel. “Berdasarkan data pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta surveilans penyakit infeksi emerging, hingga saat ini belum ditemukan kasus virus hanta di Kota Tangsel,” kata Allin, Rabu (13/5/2026).

1. Virus hanta ditularkan melalui tikus dan celurut

ilustrasi tikus yang bersembunyi di dalam rumah (pexels.com/DSD)

Allin menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan Orthohantavirus dan ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penularan dapat terjadi melalui cairan tubuh hewan, seperti urin, feses, air liur, hingga debu yang telah terkontaminasi virus.

“Secara klinis, penyakit ini dapat menimbulkan dua bentuk utama, yaitu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), dengan gejala mulai dari demam, nyeri otot hingga gangguan pernapasan berat,” ujarnya.

2. Dinkes memperkuat deteksi dini di puskesmas dan rumah sakit

ilustrasi tikus-tikus makan jagung (pixabay.com/andreas N)

Menurut Allin, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena secara global terdapat laporan klaster kasus HPS di kapal pesiar internasional yang berpotensi memicu penyebaran lintas negara.

Sementara di Indonesia, kasus tipe HFRS dilaporkan muncul di sejumlah provinsi sejak 2024 hingga 2026. Meski tipe HPS belum ditemukan di Indonesia, potensi kasus impor tetap diwaspadai.

Dinkes Tangsel pun memperkuat sistem pengawasan penyakit melalui surveilans berbasis indikator maupun kejadian untuk memantau tren kasus ISPA, pneumonia, Severe Acute Respiratory Infection (SARI), hingga sindrom demam dengan gejala tidak spesifik.

“Kami juga meningkatkan deteksi dini di puskesmas dan rumah sakit melalui pendekatan surveilans penyakit infeksi emerging serta koordinasi lintas sektor dalam kesiapsiagaan penanggulangan penyakit,” katanya.

Selain itu, fasilitas kesehatan di Tangsel juga diminta menyiapkan ruang isolasi sementara, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI), hingga penguatan sistem rujukan ke rumah sakit penanganan penyakit infeksi emerging.

3. Warga diminta menjaga kebersihan lingkungan

ilustrasi tikus yang bersembunyi di dalam rumah (pexels.com/DSD)

Dinkes Tangsel mengimbau masyarakat tetap tenang namun meningkatkan pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan hantavirus. Warga diminta rutin mencuci tangan, menjaga daya tahan tubuh, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.

“Masyarakat juga diminta menutup akses masuk hewan pengerat ke dalam rumah serta menjaga kebersihan lingkungan dengan metode pel basah apabila ditemukan jejak tikus,” ujar Allin.

Ia juga mengingatkan masyarakat yang melakukan perjalanan luar negeri agar mengikuti imbauan kesehatan di negara tujuan dan memantau informasi resmi dari Kementerian Kesehatan.

Editorial Team